Ingatkah dirimu, yang datang dengan terburu-buru kepadaku? Dengan hanya berdasarkan yakin, lalu dirimu mengucapkan "SAYANG" kepadaku yang baru saja kau ajak bertemu sekali saja?. Aku ingat semua, aku ingat bagaimana dirimu meyakini hati ini bahwa ada cinta yang tulus. Ada cinta yang siap menerima diri ini dengan segala kekurangan yang ada, dan dirimu yang siap menyembuhkan luka dalam hati ini. Kau datang disaat aku merasa masih ada luka yang harus aku benahi, tapi dirimu mencoba untuk bawa aku kepada cahaya cinta.

Hati mana yang tidak sembuh dikala sakit yang mendera, lalu datang hati-mu yang dengan sangat terburu-buru namun mampu perlahan membuka pintu hati yang luka. Aku ragu akan diriku sendiri, namu perlahan aku coba buka pintu hati ini dengan sedikit menahan perih.

"Bukankah aku pantas membuka hati ini kembali, dikala ada hatimu yang dengan yakin ingin membuat hati ini kembali bersemi?. Siapkah aku untuk jatuh cinta lagi? Jatuh cinta bukan Jatuh kembali Sakit."

Setidaknya aku menata secara perlahan, agar hati ini kembali nyaman untuk kau tempatin. Wajar jika, dirimu merasa ragu akan diriku karena aku belum bisa menunjukkan dengan pasti bahwa aku menerima dirimu. Kau sempat pergi, namun aku meminta kau untuk tetap bersamaku dan jang menghilang. Tapi kini, kau meminta untuk pergi dan menghilang. Aku sadar hatimu juga butuh kepastian, tapi kenapa tidak sabar sebentar lagi hatiku sudah terbuka untukmu walau tak semua.

Aku bukannya tidak ingin memberikan semua hati ini untukmu, tapi kau tahu sendiri sebagian hati ini hancur. Tidak mungkin aku memberikan hati yang hancur untuk dirimu, aku hanya mencoba membatasi diriku agar tidak terlalu sakit ketika mengetahui dirimu tidak setulus yang kau bicarakan.Waktu ku memang tak sebanyak yang kau mau, tapi sadarkah dirimu. Kita bukan lagi anak remaja yang harus tiap waktu bersama dan soal teman kerjaku yang selalu dekat denganku, bukan menjadi alasan cemburu buta dirimu.

Advertisement

Dan kini kau mencoba pergi dariku, ketika aku tak dapat menemuimu dan menangis di depan dirimu. Dalam perjalanan dinasku ini, lagi dan lagi aku kembali merasakan kehancuran hati. Dahulu sebelum dirimu, ada yang jauh menghancurkan hati ini dan karena dia, hati ini hancur. Kini dirimu menghancurkan kembali hati ini dalam perjalanan dinas ku.

Kejadian sepeti ini yang membuat hatiku kuat. Kenapa tidak kuat??

Aku menyingkirkan semua tangis ketika harus berhadapan dengan orang lain. Namun saat malam tiba dalam sujud-ku, aku mengadu dan mengeluh akan setiap kejadian yang ada. Aku hanya ingin dikuatkan hati ini.

Aku tidak mau hati ini lemah, lalu semua yang aku bangun ini berantakkan.

Aku pikir dirimu lah yang akan selalu menguatkan aku, ternyata kau sama saja.

Terima Kasih karena sudah membuka hati ini lalu pergi tanpa kata.