Hai El, aku berkirim surat lagi. Kali ini bukan tentang aku dan kamu, melainkan tentang sebuah kisah di desa. Nama desa itu adalah Bukit Panguk, memiliki keindahan alam yang menenangkan. Kapan-kapan kau harus main ke sini jika libur kuliah, aku siap menemanimu berkeliling desa, walaupun jika saat itu tiba engkau telah bersama kekasih baru atau bahkan istrimu. Kita bisa melihat Bunga Turi yang putih bersih, dan enak dibuat sayur. Penasaran kan? Atau kita bisa duduk bersama di bawah gubuk yang terbuat dari jerami, nanti akan aku ceritakan tentang dedaunan jati yang membuat kulit bisa merah jika kita menggosok-gosokkannya, atau kau mau mencicipi keramahan penduduknya? Aku bisa mengajakmu berkeliling.

Hari ini, biarkanlah aku ebercerita padamu melalui surat terlebih dahulu. Hari ini aku berkeliling ditemani adikku yang berusia enam tahun. Namanya Afi. Dia imut sekali, lucu dan juga aktif bertanya banyak hal, kebetulan Afi adalah anak bibikku yang rumahnya di Bukit Panguk. Desa yang sangat jauh di pedalaman. Perjalanan menuju sini agak sulit, jalannya masih bebatuan, tapi justru sensasi jalan yang agak sulit itu yang banyak dicari wisatawan, sebab di balik jalan sulit itu, ada hadiah pemandangan yang sangat indah. atau jika kau sudah penasaran, kau boleh buka instagram, buka saja namanya Bukit Panguk. Akan banyak foto indah di sana.

Oh iya, aku bisa tahu cerita bunga turi enak disayur pun dari adikku, Afi. Dia sedang berjalan menuju bukit Panguk bersamaku. Di tengah perjalanan Afi berhenti, katanya begini, “Mbak, bawa plastik tidak? Ini namanya bunga Turi, enak buat di sayur. Afi kepingin nanti sore menyayur ini.” lalu ia dengan panjang lebar bercerita rasanya bunga turi jika di sayur, katanya enak, apalagi disayur dengan rasa pedas. Enak sekali. dan aku tertawa-tawa saja. Baru sekali ini aku mendengar bunga enak di sayur, selain bunga genjer. Bunga turi itu berwarna putih, anggun dan juga lembut di kulitku. Aku biarkan saja ia tetap cantik. Aku sedang tidak ingin memetiknya. Biarkan saja ia tetap indah di sana, walau hanya sendiri.

Afi dan aku melanjutkan perjalanan, sebab kami tidak menemukan tempat untuk mengantongi bunga ini. Dan kau tahu El, rasanya aku benar-benar lepas di siang menuju senja ini. bersama Afi aku menemukan keceriaan yang selama ini hilang akibat aku terlalu sibuk menghapus lukaku. Luka yang engkau tinggalkan bersama rasa ini. Hingga detik ini, aku bisa menerima kepergianmu sebab alasan karirmu, yang aku masih tidak bisa terima mengapa engkau meninggalkanku tanpa alasan dan kabar? Setidaknya jelaskan semuanya, tapi sudahlah, surat kali ini aku tidak akan membahas banyak tentang kita, aku hanya akan membahas tentang desa ini.

Bukit Panguk, desa yang penduduknya sangat patuh, sopan, dan ramah. Kebanyakan anak muda di sini adalah santiwati dan santriwan, jika aku sedang duduk santai di depan rumah bibikku, sering aku melihat para pemuda dengan baju putih, pecis dan juga sarung. Kenal atau tidak mereka denganku, sungguh keramahan lewat senyum mereka persembahkan untukku. Mataku teduh sekali melihat para lelaki yang demikian, pernah suatu ketika aku berdoa menginginkan suami yang paham agama, dan aku akan terbawa dalam kebaikan. Tapi, mengapa saat aku memilihmu, El, engkau justru meninggalkanku dalam salah yang tak kupahami hingga kini.

Advertisement

Kau tahu El, bibikku adalah ibu keduaku, walau ibu pertamaku tidak pernah akan ada yang bisa menggantikannya, di Bukit Panguk, di rumah bibikku inilah aku selalu pulang jika tanah rantau terlalu keras, atau aku lelah berkelana seorang diri. Pernah aku seharian hanya tidur saja di rumah Afi ini, udaranya sejuk, segar dan sangat menenangkan untuk jiwa yang lelah. Aku tidur seharian hanya untuk menghapus lelah, luka dan juga ngilu setelah engkau sebulan pergi tanpa kabar, saat itu aku benar-benar terjatuh. Bibikku hanya tau aku pusing dan agak demam, padahal sungguh tubuhku baik, hanya jiwaku yang terlalu layu.

Di saat sedang begini, bersyukur ada Afi, adik mungilku yang lucu. Setiap kali aku merenung sendiri ia pasti menghampiri, mengajakku bercanda dan melupakan segala sesak jiwa. Sungguh, anak kecil ini seakan tahu aku sedang kalut. Tak biasanya Afi dekat denganku, namun entah beberapa hari ini ia menempel padaku terus, manja layaknya anakku sendiri, dan itu membuatku semakin sabar menghadapi hidup. Dahulu aku pernah kecil, dan saat kecil aku ingin menjadi orang yang dewasa, tapi ternyata dewasa itu kadang melelahkan.

Oh iya, aku sampai lupa bercerita wisata Bukit Panguk. Aku wajib menceritakannya padamu. Wisatanya sungguh asik, jika pagi seperti berada di atas awan, dan jika sore udara segar menghapus beban-beban seharian. Aku paling suka duduk di tepian jurang, bukan jurang menganga, melainkan di atas jurang itu di bangun rumah-rumah kecil agar pengunjung bisa berdiri di atas jurang. Aku seakan terbang di sini. Bersama Afi, aku tertawa lepas, seperti angin yang bebas berkeliaran ke sana sini menyibakkan rambut Afi yang panjang. Terimakasih adik kecilku, aku bisa tertawa bebas kembali berkat kepolosanmu sebagai anak-anak.

Rasanya, begini dahulu suratku untukmu, lain kali aku akan menuliskan banyak hal lagi. Aku ingin berccerita senja yang anggun di mataku, namun sepertinya aku harus menyudahi kegiatanku ini. bibikku memanggilku untuk membantunya berjualan. Ya, bibikku membuka warung kecil-kecilan, ia berjualan soto ayam Jawa. Segar sekali. kau harus mencicipi jika kapan-kapan berkunjung ke sini. Aku sudahi ya. Di manapun engkau, baik-baiklah bersama kehidupanmu.