Air mata ini masih saja membasahi wajahku. Apakah perpisahan ini begitu menyakitkan untukku atau memang aku yang tak ingin kamu pergi? Ah sudahlah, semua sudah berlalu, kamu sudah pergi dengan wanita pilihanmu.

Kamu memutuskan mengakhiri hubungan ini di saat cintaku padamu begitu besar. Kamu hapus semua tentang aku, begitu juga dengan media sosialku. Tapi aku tetap memilih bertahan dis ini menunggu kamu kembali. Namun semua sudah tak mungkin, karena kamu telah hadirkan dia (lagi) saat sudah tak ada lagi kita.

Inikah caramu mematahkan hatiku?

Tak pernah aku menyesal pernah mengenalmu, tapi tak pernah kumengerti mengapa kamu tega palingkan hatimu di saat diriku jauh.Semudah itukah kamu melupakan aku dan komitmen kita? Pikiranku selalu dipenuhi namamu, bukan untuk mengingat kenangan indah kita namun, mengingat bagaimana kamu pergi tanpa pamit saat itu.

Sudah beberapa kali aku melihat postinganmu bersamanya di media sosialmu. Tak ada penyesalan di matamu telah meninggalkanku. Aku kembali teringat saat aku ingin pergi dari hidupmu, dengan lantang kamu menolak hanya demi sebuah komitmen awal yang sudah kita sepakati.

Advertisement

Namun, ketika aku ingin mempertahankan semuanya kamu lebih memilih pergi dari hidupku.

Sungguh tak adil untukku.

Aku berusaha melupakanmu, menghapus komitmen awal kita,dan menerima kenyataan pahit ini meskipun sangat sulit. Tapi aku yakin, aku mampu melanjutkan hidupku tanpamu.

Bahagiakanlah dia, seperti kamu membahagiakanku dulu.

Kumohon, jangan pernah kamu ulangi menyakiti hati seorang wanita seperti kamu menyakiti hatiku.