Setiap manusia mempunyai kegetiran yang sama bukan? Hanya saja kemasanya yang berbeda.

Seperti saya yang hari ini dengan gagah berani memainkan jari-jemari, mengetik kata demi kata yang kemudian menjadi onggokan kalimat sampah, dan pada akhirnya bau dari sampah itu membunuh saya perlahan. Anda tahu betapa menyiksanya itu?

Wahai Tuan berparas tampan, Anda tidak pernah salah, jangan menyiksa saya dengan permintaan maaf Anda yang berulang kali. Saya saja, yang terlalu mengikuti perasaan keparat ini, berusaha menutup mata, telinga, bahkan hati. Tapi lagi-lagi Anda menguatkan saya, mengatakan tidak ada yang salah dengan rasa, itu datang secara alami, Tuhan tahu itu. Tapi Tuhan lebih tahu, rasa yang saya punya ini suatu kesalahan — untuk orang yang salah, atau di waktu yang salah.

Mungkin hari ini hingga hari-hari selanjutnya tidak akan pernah sama dengan hari kemarin dan hari-hari sebelumnya. Hari-hari dimana saya salah mengartikan hubungan pertemanan yang kita jalin. Saat pesan singkat Anda menjadi notifikasi favorit saya, atau dengan senang hati menerima ajakan Anda untuk sekedar makan malam.

Saya tahu Anda tidak setuju dan tidak akan pernah setuju dengan keputusan sepihak ini. Anda kebingungan, saya maklum, tapi saya harus.

Advertisement

Bagaimanapun saya harus menata hidup, benar yang orang-orang katakan, bagaimana bisa menemukan orang yang tepat, sementara perasaan saya masih terkunci rapat. Ternyata Andalah pemegang kunci itu.

Saya ataupun Anda, kita sama-sama berhak bahagia. Dengan cara mencari kebahagiaan kita masing-masing.

Tapi Tuan, saya tidak akan semena-mena mengakhiri persahabatan ini. Saya hanya butuh waktu sejenak untuk menetralkan perasaan saya. Hingga seseorang yang tepat benar-benar terpampang dihadapan saya, mengisi hari-hari nyata saya, bukan semu semata. Membuka kunci yang Anda tinggalkan dan menggantinya dengan kunci yang baru. Setelah itu, saya pastikan tidak akan ada celah di hati saya untuk Anda.

Seperti kalimat yang sering Anda katakan, "boleh marah, boleh kecewa, boleh mewek sejadi-jadinya, tapi langsung bangkit sejam berikutnya"

Kali ini saya ingin benar-benar bangkit, menyudahi kebahagiaan semu ini. Anda tak perlu datang lagi.