Malam, terasa berkabut ketika merindukanmu. Dalam lantunan syair, aku merindu.

Memandang langit sudah jadi kebiasaanku ketika merindukanmu. Melihatmu dari kejauhan sudah menjadi rutinitas sehari-hariku.

Tapi, aku hanya ingin melihatmu dari kejauhan. Rasanya cemburu ketika ku lihat kau bercanda dengan lelaki lain.

Aku berjalan di depanmu hanya agar kau tahu. Hei, ingin aku berteriak "Pandangi aku seperti itu,"

Kenapa kau bisa tersenyum begitu riang saat dengan orang lain. Hari ini, aku tidak melihatmu. Aku gelisah mencarimu. Dengan setumpuk konsep aku pura-pura mencari temanmu. Hei, ku lihat kau di sana sedang asyik menatap layar laptopmu. Kau tertawa dengan riang saat memuji aktor Korea idola mu. Ah, aku cemburu. Hari ini, kau datang dengan teman wanitamu keruanganku. Ah, aku ingin berdua saja denganmu malam ini.

Advertisement

Ku lihat wajah amarahmu saat melihatku yang menjauhimu, menciptakan jarak denganmu. Maafkan aku, aku hanya tak ingin kau tersakiti dengan gosip itu. Dan sungguh, aku seperti pecundang yang tak dapat membelamu. Ah, lelaki seperti apa aku ini?

Ku ceritakan curahan hatiku kepada sahabatku tentang kamu yang pernah menyatakan perasaan padaku. Apa yang harus aku lakukan? Karena jujur aku ingin memilikimu. Tapi, kamu mengatakan tidak ingin memiliki ku. Kenapa? Terlalu sakitkah mencintaiku? Ah, aku memang benar-benar lelaki bre***ek yang menolakmu tapi, memperhatikanmu. Aku bodoh dan tidak tegas karena, aku tidak berani keluar dari zona nyamanku. Hari ini, aku menjauhi mu lagi. Dan ku lihat semakin lama kau tidak peduli denganku. Kau benar-benar menempatkan diri menjadi temanku. Ya, seperti permintaanku padamu. Bagaimana mungkin hati ku kecilku memiliki perasaan terhadapmu ketika aku bersama kekasihku? Tapi, kau pernah bilang tidak ingin merusak hubunganku. Kau tetap di tempat itu.

Aku, semakin terpesona dengan kehadiranmu. Dan semakin tersiksa karena pilihanku. Aku ingin mendekatimu tapi, aku jadi salah tingkah. Aku menjauhimu. Menciptakan jarak di antara kita. Di hadapan orang lain, aku bersikap tidak peduli denganmu.

Ah, aku sungguh kekanak-kanakan. Dan kau pun terlihat tidak ingin mendekatiku. Kenapa aku hanya jadi topangan bagi senyummu? Ketika aku benar-benar tertarik denganmu. Rasa-rasanya aku menjadi gila. Aku duduk sendirian berharap kau menghampiriku ketika ku lihat kau asyik bercanda dengan temanmu. Menatapmu pun seperti sebuah dosa bagiku. Ketika tatapan itu kau balas. Hei, apa kau tahu sebenarnya aku ingin menggenggam tanganmu. Aku terus menunggu kejutan apa yang akan kau berikan padaku hari ini.

Kenapa kau hanya diam ketika aku melihatmu? Aku di dekatmu tapi, kau melihat yang lain. Ah, aku tahu ini semua salahku. Aku yang membuat jarak ini. Aku yang menjauhimu sehingga kau pun semakin menjauh.

Tapi, bagaimana jika ternyata kau dimiliki lelaki lain nanti? Untuk saat ini tetaplah sendiri hingga aku bisa merengkuhmu. Itu keegoisanku, padahal aku tahu kau juga ingin bahagia. Kau menjadi semakin menjauhiku dan berjalan seolah-olah aku tidak tampak.

Bagaimana mungkin ini terjadi? Aku marah ketika kau membahas lelaki lain. Aku marah ketika kau mengatakan tidak suka motorku. Apakah sebenarnya kau juga tidak menyukaiku? Tolong, jangan katakan itu.

Aku yang mengatakan padamu bahwa aku ingin karier dulu. Dan saat ku dapati pilihanmu pun karier, entah kenapa aku kecewa. Ketika aku tidak ada dalam rencana hidupmu.

Beginikah perasaanmu ketika kuabaikan?