“Ilyas, tuliskan nama saya juga di kertas dalam Bahasa Thai ya,” pinta Kiki. Gadis yang kami sapa Ibuk itu—karena paling tua di antara rombongan perjalanan hari itu—tak mau ketinggalan dengan eforia ke-Thailand-an (baca: kethailanan) di Puncak Kuta Malaka.

Eforia itu sejatinya dimulai oleh Ami. Dia meminta Ilyas Cheaha, mahasiswa Songkla University itu, menuliskan kata “semangat” dalam Bahasa Thai.

Ami lantas ambil foto di salah satu dari tujuh tingkat air terjun Kuta Malaka, dengan objek huruf cacing itu yang jika diucap berbunyi: “kamlanggai”.

Semangat dalam aksara Thailand. Foto via http://www.safariku.com/wp-content/uploads/2016/03/Kamlanggai.jpg

Alam Menantang

Advertisement

Sawaddi khap, Sawaddi kha…

Pagi itu, Senin akhir Februari 2016, saya bersama tiga teman Aceh dan tiga teman asal Thailand Selatan, pelesiran ke objek wisata yang sudah sangat mainstream: Puncak Kuta Malaka, Aceh Besar.

Dari jantung ibu kota provinsi, kami berkendara ke arah Samahani menempuh jalan nasional Banda Aceh – Medan, dan belok kanan pada satu persimpangan ke Wahana Air Kuta Malaka.

Kami sampai di puncak setelah melewati lima anak sungai yang menantang sepanjang rute berkerikil dan berdebu. Parkir kendaraan di pos yang sepi petugas. Tak jauh dari gerbang masuk ke air terjun.

Saya turuni anak tangga yang mengular di lereng bukit, meliuk-liuk di antara pepohonan. Monyet-monyet berbulu hitam melompat-lompat di celah dahan. Deru air terjun cukup menggoda begitu tiba di kolam pertama air terjun Kuta Malaka.

Selanjutnya, anak tangga bersambung-sambung di sisi lereng bukit, untuk dipijaki yang menuntun pengunjung entah ke puncak mana. Penasaran, saya pun menantang mereka, di mana akan berakhir?

Tiga Thai—Ilyas, Maisan, dan Supiya, melesat jauh di depan, tampak tak lelah. “Mereka sudah terbiasa jogging setiap hari di Lapangan Neusu,” ujar Kiki yang ngos-ngosan.

Panorama dari Puncak Kuta Malaka. Foto via http://www.safariku.com/wp-content/uploads/2016/03/Panorama-Kuta-Malaka-Aceh-Besar.jpg

Saya menunggui dia dan Ami di belakang. Ilyas begitu sudah di tingkat lima akhirnya turun menemani kami, membiarkan Ovi naik. Semua barang, logistik dan tas, ikut kami bawa serta—takut kemalingan.

Hingga tiba di puncak. Di batas akhir anak tangga, di pinggir jalan off-road. Di atas lantai semen, kami menikmati break time, dengan buah keranji khas Thai yang sudah diasamkan.

Warnanya kemerahan dan bijinya lebih besar dari Indonesia punya. Ada keripik pisang, permen, minuman segar, dan nasi bungkus yang akan kami makan di bawah nanti.

Pungut Sampah

Ada yang aneh, sampah plastik—botol minuman dan kemasan kue—bertebaran di sepanjang jalur anak tangga. Saya tak tega meninggalkannya begitu saja. Hasrat mengutip pun saya tumpahkan.

Awalnya saya tenteng dua kantong plastik saat memulai turun. Senangnya, travelmate saya hari itu membantu saya kutip sampah-sampah itu, hingga kami tiba di tingkat tiga terbawah untuk istirahat. Saya dapat sekarung sampah plastik. Karung yang saya temukan di rute tangga.

Sejatinya ada banyak sampah tertinggal di belakang kami, sampah-sampah yang dibuang ke tepian lereng. Tapi kami cuma bisa menjangkau yang berserak di kedua sisi anak tangga saja. Lebih baik daripada tidak samasekali, ya, kan?

Matahari baru saja melewati Bukit Barisan Kuta Malaka. Saat itu pula, kami makan nasi bungkus menu Sie Kameng—kuah kari kambing khas Aceh—yang tadi kami beli di Pasar Samahani, kemudian salat dan sebagian mandi.

Salah satu kolam pemandian di Air Terjun Kuta Malaka. Foto via http://www.safariku.com/wp-content/uploads/2016/03/Kolam-Kuta-Malaka.jpg

“Orang sini bilang, ini namanya Air Terjun Lam Ara,” kata Riski, pemuda yang mengaku dari Montasik, Aceh Besar, yang baru saja tiba bersama teman-temannya.

Saya kemudian memilih berbaring sejenak di atas kain sarung yang saya gelar di kaki lereng bukit. Bersandar dan memejamkan mata, menikmati keasrian hutan. Sebenarnya saya meniru Ilyas, yang lebih dulu bermeditasi.

Itulah inti dari perjalanan, menikmati.

Sebelum pulang, Ami ingin foto memegang kertas bertuliskan bahasa Thai, dengan latar air terjun. “Semangat!”

Saya tahu, dia memotivasi dirinya sendiri agar tetap semangat menjalani hidup dan meraih cita-cita, bagaimanapun keadaan dirinya, sama dengan yang kita rasakan—pada momen tertentu.

“Ilyas, saya mau juga dituliskan dengan Bahasa Thai, tapi di puncak nanti ya.”

Mahasiswa Ilmu Politik itu mengangguk. Dan saya segera pungut sampah plastik yang masih banyak bertebaran di sekitar kolam, hingga penuh ke satu karung lagi yang saya temukan tertimbun tanah di dekat anak tangga. Dapatlah dua karung untuk saya angkut ke puncak.

Memungut sampah semampunya. Foto via http://www.safariku.com/wp-content/uploads/2016/03/Safariku-Bawa-Sampah-Kuta-Malaka.jpg

Tertipu Boh Reuem

Keluar dari gerbang masuk air terjun, stok air kami sudah habis. Saya melihat “bak reuem” (saya tak tahu nama latin dan Inonesianya), pohon yang sama saya temukan saat ke Guha Jepang Laweueng dan Mata Ie Hillside.

Bijinya seperti anggur tapi hijau dan lebih lebar ke samping, cukup mujarab melepas dahaga. Rasanya nano dan tabu bagi yang belum pernah mencobanya.

Ilyas, Ovi, Ami dan Kiki, berhasil saya yakinkan untuk memamahnya. Tapi dua Thai lagi, terutama Maisan, merasa tertipu. Dia menduga saya berbohong.

“Pahit-pahit dahulu, manis kemudian,” saya bilang, macam peribahasa saja.

Keduanya sudah menggigit buah itu, tapi cepat menyerah oleh rasa pahit di awal. Mereka belum sampai pada rasa asam, sepat, dan manis di ujung.

Padahal manisnya akan cukup terasa dinikmati bila sudah mengunyah dagingnya sampai habis, sampai menyisakan bijinya yang keras, apalagi dengan sedikit menenggak air putih. Manisnya terasa di lidah. Serius!

Tapi keduanya tak berhasil. Kami hanya tertawa.

Puncak Kuta Malaka

Hiking, yang ditunggu-tunggu Supiya dan Maisan.

Beruntung saat itu Senin, hari kerja. Andai Minggu, mungkin saya tak bisa lihat mereka begitu ceria naiki punggung Puncak Kuta Malaka yang sudah aus menyisakan jalur setapak.

Di puncak, panorama sekitar cukup mempesona. Gunung Seulawah Agam menjulang di timur, di utara dan selatan adalah bukit-bukit gundul bagai punuk kerbau yang sedang istirahat dalam kubangan, namun berwarna hijau. Sedikit ke barat daya, tampak persawahan—yang sepertinya di Samahani.

Hawa cukup sejuk meski terik.

Dan sebagaimana janjinya, begitulah Ilyas, menuliskan nama saya dengan aksara cacing Bahasa Thai. Bagai anak alay, saya pun minta difoto dengan tulisan itu berlatar Seulawah.

Nama saya dalam Bahasa Thai. Foto via http://www.safariku.com/wp-content/uploads/2016/03/Makmur-Dimila-Kuta-Malaka.jpg

Seolah-olah, hanya saya yang bisa jalan dengan pemuda Thailand, padahal jauh sebelum saya, atau sekarang entah di mana, banyak orang sudah jalani hidup dengan orang dari Negeri Gajah Putih.

Kecuali saya, Kiki dan Ovi ikut keciprat eforia ke-Thailand-an. Seharusnya Ilyas, Maisan, dan Supiya-lah yang minta ditulis dalam Bahasa Aceh karena mereka sedang di luar negeri.

Nyatanya, kok saya dan kawan-kawan Aceh yang mengalami… eum… eum… culture shock? Gagap budaya? Begitulah, #IniPlesirku. Tapi setiap perjalanan perlu dinikmati, dengan cara masing-masing, hanya saja jangan merusak alam, ya, kan?

Khob khun khap, khob khun kha…