Berada di tengah-tengah hangatnya keluarga merupakan anugerah terindah yang tidak ternilai nikmatnya. Selalu mampu menyapa dan menyaksikan senyum bahagia mereka, dua malaikat penjaga ciptaan Tuhan, adalah kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan. Mungkin inilah secuil anugerah dan kebahagiaan yang terlewatkan oleh manusia kecil yang tengah berada di perantauan. Sebaris gelak tawa di setiap sudut istana adalah keceriaan yang selalu dirindukan. Hembusan nafas malaikat-malaikat penjaga masa kecilnya adalah kenangan yang tidak pernah lapuk dari ingatan. Wejangan-wejangan panjang yang dulunya terdengar membosankan menjadi nyanyian yang selalu lekat dalam pendengaran.

Wahai Malaikat Penjagaku,

Kusampaikan salam taklim penuh rindu, dari seseorang yang mengingatmu selalu. Kudekapkan peluk hangatku lewat angin yang tengah melaju. Kubisikkan sebait doa untukmu agar kau tahu betapa dalam aku merindumu. Kulekatkan tubuh ini padamu lewat mimpi yang setiap malam mengiringi tidur pulasku.

Duhai Sepasang Insan yang Tengah Sendirian,

Diri ini tahu seberapa besar berartinya sosoknya dalam hidupmu. Putri semata wayang yang kini tengah berjuang di perantauan. Merangkai mimpi dan cita di kota orang. Jauh dari dirimu, jauh dari kenyamanan yang biasa ia dapatkan. Andai kau tahu, gadis kecil itu pun kini tengah memendam rindu. Mengukur jarak yang terbentang memisahkan raganya dan dirimu. Sembari menghitung waktu berapa lama lagi ia akan pulang, kembali ke pelukanmu.

Advertisement

Kepadamu Penuntun Langkah Kakiku,

Kaulah yang selalu setia menyejajarkan langkah gamangku. Setidaknya kaulah satu-satunya permata yang mampu menerima tanpa banyak bertanya.