Laut akan membawamu pulang. Bilapun itu adalah judul karya orang. Bagiku, laut adalah tentangmu.

Gelombang biru yang menemani kala kita bertemu.

Hingga manusia elektrik berbahagia menembus awan. Seperti merpati yang tak lagi mengirim surat. Kita di sini seakan tertinggal zaman. Duduk terlalu tenang melukisi dayung dengan pesan tersirat.

Bulan adalah detik ketika mereka melaluinya. Persediaan baterai untuk hidup akan menipis, mati dalam satu kecepatan cahaya. Kau pun bergerak akhirnya. Bersembunyi di balik tirai kilometer. Udara, angin itu tak dapat tertangkis, dan aku hanya berotasi di tempat rupanya.

Aku berputar dalam alunan nyanyian pasir. Musik yang sama pengundang memori pesisir. Ya, music is just like a magic. Hanya karena mendengarnya saat rasa cinta mengulik, lalu aku jatuh cinta lagi padamu hanya karena lagu yang terputar itu kemudian menjadi pilihan terbaik.Semua menit yang berjalan adalah sependek kemarin.

Advertisement

Rasanya, bilamana kumainkan lagu itu tiga kali sehari, maka aku jatuh cinta lagi padamu sebanyak tiga kali. Jadi bisakah kau bayangkan berapa timbunan cinta yang kusimpan untukmu sejak hari itu hingga kini?

Perasaan penuh keraguan dan ketakutan di dalam surat imajiner, hampir tak bisa dibedakan, jika dibandingkan rasa rindu dan jatuh cinta itu. Seperti nenek moyang, kita masih menulis surat metafora. Entah hingga kapan.

Tak ingin satu lagu itu jadi kenangan akan kesendirian. Biar tetap ia menjadi melodi toska di atas tanah putih. Irama yang bersanding, kala laut membawamu pulang.