Bertemu keluargamu di penghujung tahun menjadi momen terindah

Berawal dari perbedaan jarak 2 kota yang memisahkan kita, kecurigaankecurigaan yang tak beralasan, kepercayaanku yang memudar, terlebih kesan pertamaku di bulan Juli 2015 berkunjung di rumahmu selalu kujadikan sorotan untuk kita lebih mempertimbangkan lagi tentang hubungan kita. Belum ada kata terlambat tuk menyudahi semua. Aku menuntutmu untuk memahami dari sisiku yang harapannya kandas karna tak kutemukan alasan yang membuatmu tuk kupertahankan, karena buatku sebuah perasaan tak lagi cukup untuk bertahan. aku menyerah, kupilih tuk melepaskan meski aku belum siap. Kelak jika kau dan aku menemukan sosok yang lebih baik, itu tak mengapa karna sudah seharusnya belajar ikhlas.

28 Desember 2015

Kupikir kau mempermainkanku atas semua katakata manis dan rindu yang terucap. Karna kusadari belakangan ini aku secara tidak langsung membuatmu putus asa dengan sikapku yang seakan tak menganggapmu ada, kupikir kita sudah benar-benar berakhir dan kau sudah menyerah dan takkan pernah menemuiku lagi.

Dan aku.. aku telah benar-benar kehilanganmu.. Sejak kepulanganku dua hari yang lalu, akhirnya aku bisa melihatmu nyata di hadapanku, kini kebimbangan dan keraguan itu hilang. Kurasakan rindu yang sama juga ada didirimu, kesalahpahaman berangsur-angsur terselesaikan.

Advertisement

30 Desember 2015

Benar kata orang, kebahagiaan itu bukan hanya saat pasangan kita membawa kita ke tempat-tempat yang romantis, memberikanmu barang-barang mewah. Tapi lebih dari itu, aku merasa senang ada kau bersamaku karna kini setiap hari kita bertemu meski hanya menghabiskan waktu pertemuan itu dengan bercengkramah di rumah dan hari ini kita berdoa bersama dirumah doa, kumendoakan yang terbaik untuk kita.

Hingga akhirnya kita berada di sebuah topik yang memang kuhindari.

“Gak bisa atau gak mau, sayang? Kapan lagi kamu bisa dekat dengan mereka? anggapanmu tentang mereka itu salah, mereka semua tidak mempermasalahkan hubungan kita. Dengan hubungan kita yang bisa dikatakan mulus kenapa kamu selalu menyerah? Sedangkan waktu bersama “Dia” yang bisa dikatakan mamamu tidak menerimanya, kamu berjuang sekali tuk dekat? Setidaknya kalau kamu mencoba sekali lagi aja.”

dengan sabar kamu membujukku.

Aku mengelak semampu yang kubisa tuk takkan lagi melangkah ketempat di mana kau mengharapkanku tuk mencoba lebih dekat kepada mereka, ibu, ayahmu dan juga saudara-saudaramu.

“Sudahlah, aku datang atau gak datang apakah itu akan mengubah pandangan dan perasaanmu untukku? Aku beneran bukan orang yang pintar tuk mampu mencari perhatian, jika waktunya tiba, dengan sendirinya kedekatan itu akan mengalir. Tapi itu gak sekarang, aku rasa aku gak bisa.”

itu jawabanku.

Sejujurnya hatiku tergerak oleh sorot mata dan perkataanmu.

31 Desember 2015, 21.15 – 23.20 WIB

Kau benar, seusai ibadat bersama, kali ini saat Kau membawaku kerumahmu. Semua tak seperti ketakutan-ketakutan yang selama ini kupikirkan. Keluargamu begitu hangat, aku yang awalnya canggung, perlahan-lahan mulai nyaman. Aku ingin berada di tengah-tengah keluargamu.

01 Januari 2016

Hari ini kita gereja bersama sekaligus hari terakhir kita bertemu sebelum keberangkatanku kembali ke kota yang akan membuat kita terpisah jarak lagi. Demikian juga halnya denganmu yang akan mengawali pekerjaan baru. Tentu saja esok takkan sama dengan hari-hari kemarin karna kita akan kembali ke rutinitas masing-masing. Namun Jika Tuhan berkenan, aku akan tetap bertahan dan mendampingimu di berbagai keadaan, jarak dan perbedaan-perbedaan lainnya. Tak lagi alasan perpisahan karena kebersamaan adalah sisi yang menyenangkan. Jika memang keadaan tak seperti yang kita harapkan, semoga kita tetap bisa saling mendoakan kebahagiaan masing-masing.