Masih terbayang jelas pertemuan pertama kita yang terkesan biasa saja. Masih terbayang masa masa dimana kita mulai bercanda dan aku mulai menikmati candaan kita. Aku bahkan masih mengingat saat kita mulai saling memberi julukan satu sama lain, dan tanpa kusadari hal-hal itu yang membuat hati mulai terpana akan mu. Tak pernah sebelumnya aku memandang mu sebagai "pria" bagiku kau hanya lah seorang bocah laki-laki yang cukup nakal dan menyebalkan. Namun entah sejak kapan pandangan itu tiba-tiba berubah. Aku mulai memandang mu dari sudut pandang yang berbeda.

Sejak saat itu aku mulai sering mencuri-curi pandang ke arah bangku mu, aku mulai sering menghampiri mu walau hanya sekedar untuk bertegur sapa saja. Aku selalu senang ketika kau meminta bantuan ku untuk melakukan hal-hal kecil. Hatiku bahkan bersorak kegirangan saat kau meminta makanan atau minuman ku. Selayaknya anak kecil yang bersorak kegirangan saat mendapatkan hadiah, begitu pula hati ku yang kututupi serapat mungkin.

Semakin hari terasa hubungan kita semakin dekat, kita bahkan mulai menceritakan pribadi dan masalah masing-masing. Aku bahkan sering menjadikanmu tempat mengadu ku yang pertama. Bukan karena modus belaka, tapi karena memang di dekatmu aku merasa nyaman. Tak jarang aku pun mengadu keluh kesah ku saat aku menjalani hubungan dengan orang lain. Aku menceritakan si dia kepada mu dengan harapan hati terasa lega dan juga dengan harapan agar kau cemburu. Terdengar konyol memang, tapi apa daya meskipun aku bersama orang lain, tak bisa kupungkiri aku pun menyukai mu.

Aku pikir perasaan ku kepada mu hanyalah sekedar "cinta moyet" belaka, yang akan hilang dengan sendirinya, memudar dengan adanya kebahagiaan dalam diriku yang diberikan oleh dia. Namun semua tidak semudah itu, malah semakin lama perasaan ini semakin kuat. Entah berapa banyak hubungan baru yang kumulai setelah itu, namun semua sama saja, perasaan ku yang mengarah padamu tak kunjung memudar.

Entah berapa kali aku mencoba untuk menyudahi perasaan ini. Rasanya hatiku terlalu capek dan tak kuat lagi menghadapi kenyataan menyedihkan yang dinamakan "Friendzone" itu.

Advertisement

Semakin lama kita semakin beranjak dewasa. Keadaan memaksa aku untuk berpisah daerah dengan mu. Demi pendidikan, kita berdua mulai membentang jarak yang jauh. Tak terasa sudah berjalan 6 tahun sejak aku mulai sadar aku mencintaimu. Tapi tetap, entah mengapa perasaan ini tidak memudar. Terkadang aku sering bertanya tanya apa yang telah kau lakukan padaku sehingga aku sangat terpikat oleh mu bahkan aku tak bisa lepas akan pesona mu.

Aku tak tahu langkah apa lagi yang harus ku tempuh, hal apa lagi yang harus kulakukan, hubungan dengan siapa lagi yang harus kujalani sehingga bayangan sosok mu itu dapat keluar dan musnah dari pikiran ku.
Dengan sangat aku memohon padamu… jangan biarkan aku menderita karena harus menahan perasaan cinta ini.Aku mohon hentikan pesona mu yang kau pancarkan itu, yang membuat aku semakin terpikat padamu. Aku letih akan "Friendzone" ini.