Klise sekali,

Apa yang lebih menyakitkan saat kau mencintai seseorang dan kalian saling memiliki, lalu setelahnya ternyata kau harus meninggalkannya?

Akan terasa adil apabila perbedaan yang menjadi jurang pemisah. Lebih terasa realistis jika karena masih ada yang lebih baik –tapi bukannya yang lebih baik akan selalu ada, justru kita yang menjadikan itu lebih baik.

Sungguh, bukankah dua orang yang pada akhirnya saling menemukan akan sulit berpisah karena tau betapa letihnya menunggu. Akan berat membalik badan karena tau betapa lelahnya mencari. Akan terasa sangat terluka ketika harus menahan diri dari rindu, berpura-pura bahwa semuanya akan baik baik saja. Karena mereka tau, bagaimana rasanya berjuang.

Lalu dapatkah kau meninggalkan bahagia yang sedang kau turut nikmati, oleh karena kemungkinan yang mampu mematahkan harapan mu dikemudian hari?

Advertisement

Lantas kau berdoa memohon petunjuk kembali. Kemudian mengambil keputusan yang kau anggap sebagai jalan terbaik diantara semua kekeliruan. Yakinkah kau bahwa ini jawaban dari semua yang sudah kau panjatkan pada Yang Maha Pengasih?

Demi sebuah ketidakpastian, untuk apa kita berani mencoba kemungkinan. Baiklah kita tidak memulai apapun, kalau pada akhirnya akan kita akhiri dengan alasan yang sama saat kita mulai. Apa Yang Maha Pengasih keliru menjawab doamu, sehingga begitu cepat kau memutar haluan? Tidak. Kita yang keliru. Kita terlalu berani menyatakan diri untuk sebuah komitmen. Kita terlalu mudah mengucap sebuah janji, menggantungkan angan, dan menghempas asa. Keliru itu sungguh pilu. Sungguh.

Mari kita coba duduk sejenak, menatap senja diujung langit, dan memeluk erat rindu. Apa kabarmu sekarang? Sudahkah menata bahagia kembali? Boleh aku berkeinginan menjadi semudah dirimu?

Izinkan aku memuaskan rindu dengan mendekat pada Yang Maha Pengasih. Kau tau? Dia punya andil besar sampai kau bisa sejauh dan semampu ini. Dan semua letihku menunggu, lelahmu mencari, biar memberi arti untuk versi terbaik dalam diri kita. Mungkin, kita harus jauh-jauh melepaskan lebih dulu untuk mendapatkan sesuatu yang tepat pada waktunya, tepat pada letaknya.

Bukankah Yang Maha Pengasih telah punya skenario untuk kita? Kalaupun nanti bukan kita, setidaknya kita telah menjadi yang terbaik, yang pada akhirnya akan tau kemana (rindu) harus pulang.