Rusakkah aku? Jika kali ini aku lelah untuk mencintai? Jika aku menyerah untuk mencari tulang rusukku? Jika kini aku tidak percaya lagi dengan cinta? Jika aku muak mendengar semua kata-kata manis yang akhirnya menjadi omong kosong? Jika air mataku telah kering untuk skenario patah hati yang tak ada habisnya?

Aku tahu, patah hati adalah sebagian kecil dari konsekuensi mengenal cinta. Tapi, salahkah aku jika merasa lelah menerima itu semua? Entah menerima cinta ataupun patah hati. Tuhan, bolehkah aku beristirahat dari semua skenario hidup yang mengatasnamakan cinta? Bukan berarti aku tidak bersyukur dengan anugerah yang Engkau berikan, namun kadangkala aku bertanya-tanya dalam hati, "Apa kesalahanku hingga seluruh cinta yang kuterima selalu berakhir dengan patah hati yang menyakitkan?"

Mencintai dan dicintai adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan pada seluruh umat-Nya.

Aku bahkan tidak tahu secara pasti, apakah orang yang menjadi pasanganku benar-benar kucintai? Karena, jujur saja selama aku hidup di dunia, cinta yang nyata hanya cinta yang kuterima dari kedua orang tuaku. Kata-kata cinta yang kupercayai hanya keluar dari bibir mereka.

Banyak cinta yang sudah kuterima, begitu pun dengan patah hati. Berkali-kali aku terbang jauh karena cinta juga jatuh terlalu dalam karena patah hati. Sampai pada akhirnya, aku menyadari, hatiku telah hampa, kosong, hambar. Letupan api cinta yang biasanya kurasakan, yang ada sekarang hanyalah kehampaan. Kini bahkan untuk senyum dari hati saja sangat sulit. Benarkah hatiku telah kehilangan semangat untuk menyambut cinta?

Advertisement

Aku kira mencintai itu mudah. Namun, kenyataan memang tak pernah sejalan dengan angan-angan.

Aku kira yang selama ini aku alami adalah cinta. Aku kira hanya dengan bertemu dengan orang yang tepat, di waktu yang tepat dan pada situasi yang tepat merupakan bagian dari cinta. Aku kira, perjalanan hubungan yang selama ini aku banggakan adalah cinta. Aku kira saling berbagi waktu, senyuman, perhatian, gerakan tubuh adalah bagian dari cinta. Pada akhirnya aku sadar, aku melakukan semua itu karena keinginannya dan bukan keinginan hatiku. Dan pahitnya, aku harus menerima kenyataan bahwa ternyata cinta belum singgah di hatiku.

Yang selama ini kurasakan bukanlah cinta yang orang-orang katakan, melainkan hanya rasa kagum, rasa nyaman, rasa aman, rasa peduli, rasa ingin memiliki, ataupun rasa takut kehilangan. Tanpa adanya debaran dari hati. Dan bisa hilang kapan pun aku menemukan orang lain yang bisa memberikan rasa-rasa itu dua kali lipat dari sebelumnya.

Aku letih mencari dan menunggu cinta datang kepadaku. Aku letih menerima seluruh cinta yang orang lain berikan padaku tanpa aku bisa membalasnya serupa. Aku letih merasakan sakit yang menyesakkan dada.

Haruskah aku berhenti?