Meninggalkan dan ditinggalkan adalah sisi yang sama-sama menyakitkan. Akupun paham itu. Tapi tak perlulah menghakimiku begitu kejam, yang memilih untuk menyerah bertahan dan meninggalkanmu. Karena sesungguhnya, akulah yang paling tersakiti. Terlalu naif kedengarannya. Karena kita sering berpikir, ditinggalkan adalah sisi yang paling menyakitkan. Bahkan ada yang dengan tega, memaki seseorang yang meninggalkan dan berhenti bertahan. Atau sampai terlontar sumpah serapah.

Hey, tapi tolong beri aku sedikit waktu agar kamu bisa memahami! Akupun lebih sakit dari apa yang kau rasakan kini. Sudah berapa lama aku menerima sikapmu yang tak selayaknya bisa kumaklumi begitu saja? Berapa kali harus kurendahkan harga diriku di hadapanmu, yang tak sepantasnya kulakukan, yang biasanya aku mampu berbisik pada diriku sendiri "ayolah bertahan sebentar, meskipun itu menyakitkan," ?

Ternyata aku hanya manusia biasa, sama sepertimu. Memiliki ambang batas dan kau telah melampaui ambang batas yang kumiliki,

Harus berapa banyak lagi luka yang kuterima untuk mempertahankanmu? Ayolah kita belajar anatomi! Setiap kali kau berucap, mulutmu seperti belati tak bersarung dan aku masih mengasah lidahku untuk waktu yang tepat. Karena setidaknya, isi dadaku masih berwujut hati. Benar saja, karena isi dadamu adalah batu. Tak heran jika tingkahmu sering melukaiku. Ternyata kita memang beda. Otakmu sekeras baja, aku masih memakai logika. Apa perlu aku bertahan lebih lama lagi sampai akhirnya kau menginjak kepalaku?

Kau ingin aku hanya diam. Tentu saja aku menyayangimu, tapi sayang aku masih memiliki logika. Hatiku tahu kapan harus berhenti. Tak masalah jika aku meninggalkanmu di saat hatiku masih berharap padamu. Tentu saja menyakitkan karena hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah kita sedang jatuh cinta dan patah hati di waktu yang bersamaan. Karena aku yakin dengan caramu bersikap itu, Tuhan ingin memberitahuku. Saatnya agar aku segera pergi darimu.

Advertisement

Jika sesuatu itu menyakitkan, lalu untuk apa aku masih bertahan menggenggamnya? Apakah aku harus menunggu hingga tanganku patah dulu? Tentu saja. Kau tak bisa merasakan sakit yang kurasakan karena kau tak pernah mau memahami sedikit pun tentang sisiku.