Kini aku tahu dari dari patah hati, kini aku tahu arti dari sebuah kecewa. Kini aku mengerti arti dari sebuah kehancuran,

“Hatiku telah rapuh dan tak bertuan”

Kau yang disana, yang pernah member asa, yang pernah berbagi rasa, yang dulu berbagi cerita. Aku tak akan lagi bertanya,apa kabarmu disana, apa kau bahagia? Apa kau baik-baik saja? Apa kau disana sehat selalu? Tak dan tak akan pernah lagi aku mengulang pertanyaan itu. Tak akan pernah lagi meluncur dari bibirku. Kini kata-kata itu telah sirna, tak akan muncul meski sekalipun aku ingin.

Kau disana yang memberi luka, yang membuat aku melayang dengan sejuta cerita lalu jatuh berdegum tanpa penyangga, sakit? Bukan hanya sakit tapi hati ini telah hancur sejak pertama. Hati ini telah keliru, member asa pada dirimu. Bohong jika kini aku telah melupakan kamu, bohong jika aku sudah ikhlas dengan luka ini. Tapi aku telah berusaha, belajar dengan semua luka.

Tak apa….

Advertisement

Bukan salahmu yang memberi luka, tapi aku yang berharap , bukan kau yang berdosa tapi aku yang salah jatuh cinta. Dan kini aku belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, bukan demi kamu tentu saja bukan, tapi ini demi diriku dan kelak demi imamku.

Rasa sakit yang kau torehkan, kecewa yang kau berikan tak kan pernah bisa terhapus dengan mudah, seperti gelas yang telah retak atak akan kembali seperti semula. Ini hati bukan tempat sampah yang bisa menampung semua keluh dan kesah. Hatiku yang berubah akan aku jaga.

Tak akan lagi ada sapa, tak akan lagi ada senyum dan rona merah di wajah saat kita tak sengaja berjumpa, kau tak perlu takut. Aku akan baik-baik saja, tak akan membencimu, karena “semakin aku benci maka aku tak akan pernah bisa lupa”. Tak perlu takut, aku tak akan pernah member tahu dunia bahwa kita pernah berkomitmen untuk kesana. Karena pada akhirnya hanya aku yang terluka.

Kini aku akan belajar memperbaiki diri, berhijrah untuk dia yang akan mengisi hati, untuk dia yang namanya telah bersanding dengan namaku di lauful mahfudz, aku tak akan berpaling kebelakang. Bagiku tentang kamu sudah aku kebumikan, tak akan aku ziarahi barang sebentar. Akan kenangan itu, biarkan itu jadi cerita, yang tak kan lagi aku sebut. Tak akan lagi aku ingat.

Masa lalu itu memberi pelajaran tak akan aku lupakan juga tak akan aku ingat. Biarkan seperti air kehidupan yang mengalir mengikuti ritmenya.

Dan kini meski aku terluka, tak ada salahnya tuk ucapkan “terima kasih” kepada kamu yang memberi luka, karenamu aku belajar menjadi lebih baik, melihat dan menatap lebih jauh lagi.

Terima kasih untuk luka dari masa lalu.