Entah, ini kali keberapa aku masih saja mengingkari janjiku terhadap Tuhan tentangmu, bahwa aku tidak akan lagi menangis mengingatmu, bahwa aku tidak akan lagi menangis karenamu.

Tapi bisakah jika kau maklum, ternyata aku tidak sekuat itu, entah karena kenangan atau malah kesakitan yang kau ciptakan membuat aku susah lupa sekaligus terluka diwaktu yang sama.

Masalah perasaan, apalagi bersamamu kala itu tidak pernah aku anggap sebagai hal sepele dan main-main, tapi nampaknya engkau yang masih ingin bermain. mempermainkan perasaanku sebagai kekasih jauhmu.

Sepenuh hati aku menjadikan diriku sebagai sebaik-baik wanitamu, hampir setengah mati aku jatuh dalam cinta karenamu. Aku selalu sama, mendamba dan memujamu setiap waktu, tapi kau ?

Masalah perasaan memang selalu lekat dengan kesakitan dan kebahagiaan, kini lengkap sudah keduanya kau berikan. Pernah kala itu kau membuatku begitu bahagia, kini kau juga yang membuatku begitu terluka.

Advertisement

Soal penghianatan memang selalu meninggalkan corak luka tersendiri, sulit untuk diobati sekaligus membekas dalam sekali.

Kau membuatku serasa dipencundangi dunia. Ketika bertekad untuk sebegitu kuat mencinta namun tersisihkan karena ternyata kau punya pilihan wanita-wanita diluar sana. Katamu kita berjarak, katamu ragaku tak selalu dapat kau regak, katamu mungkin kau tak mampu, lalu kau bilang padaku "Ayo mendekatlah lagi padaku.."

Aku sedang berjuang melakukan sebisaku agar aku mampu, tidakkah semua itu terlihat olehmu ?

Sampai pada detik dimana aku ragu akan kesetiaanmu, aku masih gigih memperjuangkan maumu. Sampai pada detik dimana ternyata waktu menjawab benar tentang raguku pun, aku masih bisa memperjuangkanmu.

Ah, aku tidak menyalahkanmu. Semua terjadi sesuai kehendak Sang Maha. Tapi jika boleh aku berkata, aku sebegitu dalamnya terluka.