Aku tahu, kasih sayangmu kepadaku sungguh tak terhingga. Aku tau, kau masih ingin menghabiskan waktu bersamaku. Tapi apakah kau tau, aku sudah berubah, Ma. Aku sudah bukan putri kecil mu yang berusia belasan tahun. Terima kasih karena engkau sudah berkorban banyak perasaan untuk melihat aku bergandengan tangan dengan teman lelakiku. Terima kasih engkau mau menerima dia. Meskipun aku tahu, engkau tidak se-ridho itu.

Aku mengerti, fisik dan umurku memang sudah berubah tapi aku akan tetap meminta sesuatu padamu saat aku belum mampu memberikan apapun kepadamu. Aku mohon, kali ini anggap aku sebagai wanita dewasa. Aku bahkan sudah ditinggalkan teman seusia ku untuk hidup bersama laki-laki dan keluarga baru pilihan mereka. Dunia pun mungkin sudah tak sudi lagi menganggap aku seorang remaja diusiaku saat ini.

Aku tak akan meninggalkan mu dalam waktu dekat ini tapi suatu saat itu pasti. Belajarlah melepaskan aku perlahan. Ijinkan aku belajar menjadi bagian dari keluarga orang lain. Mereka sangat baik padaku. Tak ada yang perlu engkau khawatirkan. Tolong, lihatlah hal positif dibalik ini semua, bahwa hubungan kami berada dibawah naungan dan pengawasan keluarga. Meski sebenarnya pun, kalian sudah tidak perlu lagi mengawasi kami. Kami sudah cukup dewasa untuk bertanggung jawab. Dan aku pikir, tak ada yang salah dengan hubungan ini. Hubungan ini sudah bukan lagi sekedar hubungan anak remaja.

Tujuan kita adalah menikah dan menikah adalah menyatukan dua buah keluarga.

Sejujurnya, aku ingin engkau pun dekat dengan mereka. Tapi sepertinya engkau masih memberi jarak. Tanpa kau tahu, aku sebenarnya lelah. Aku lelah berada diantara dua kubu ini. Aku yang harus memikirkan cara untuk mendekatkan kalian. Ya kalian. Keluarga ku dan keluarga lelakiku. Sesekali aku pernah ingin pergi, meghilang dari kalian dan berharap saat kembali keadaan sudah seperti yang aku inginkan. Sampai kapan, Ma? Sampai kapan aku harus menjalani hubungan hanya berdua saja? Padahal kita tahu, hubungan ini bukan hanya aku dan lelakiku saja yang punya.

Advertisement

Baik ma, jika kau masih belum ingin terikat dengan mereka, ijinkan aku yang bergerak. Ijinkan aku yang menjalin hubungan silaturahmi dengan mereka. Karena jika memang ini takdirku untuk masuk ke keluarga mereka, mereka lah yang suatu hari nanti akan menjadi rumahku.

Ma, jangan khawatir. Kau tak akan pernah jadi yang kedua. Kau akan tetap aku utamakan. Aku tahu, engkau pasti yang terbaik. Tetapi, aku mohon bantu aku, mudahkan jalanku. Melembeklah sedikit. Putrimu ini mungkin akan mejadi salah satu anggota dari keluarga itu. Kumohon.