Maaf dan terimakasihku untukmu Ayah yang Selalu Mencintai dengan Diam

Aku memang tidak punya banyak kenangan bersamamu ketika masih kecil, seperti teman-temanku lainnya. Kenangan ketika ayahnya mengantar mereka kesekolah atau menikmati es krim bersama di akhir pekan di taman hiburan.

Aku hanya ingat, ayah sering berpindah tempat bekerja. Bahkan ayah tinggal di kosan, sama seperti aku sekarang, dan pulang sekali dalam seminggu atau setiap bulan. Tetapi aku ingat ketika pagi setiap minggu atau bulan, ibu mempersiapkan keberangkatan ayah ke tempat bekerja. Saat itu ayah menggunakan sepeda motor dan harus berangkat pagi dari rumah, menempuh perjalanan panjang.

Oh iya, aku ingat ketika ibu mengikat tas dan berkas-berkas ayah dibelakang motor agar tidak jatuh ketika berkendara. Aku memang bingung ayah bekerja apa saat itu. Aku hanya tahu ayah seorang guru Matematika disebuah SMP.

Waktu berjalan terus dan aku semakin besar bersama saudaraku lainnya. Aku mengetahui dari orang lain bahwa ayah sedang mencoba meningkatkan karir menjadi kepala sekolah lewat beberapa pelatihan di desa terpencil. Aku tahu itu tapi saat itu aku tidak terlalu peduli.

Advertisement

Dipersimpangan waktu berikutnya, aku semakin ingat dan mengetahui bahwa ayahku seorang pekerja keras. Ketika ayah harus bekerja sampingan di sebuah percetakan untuk memperoleh penghasilan tambahan. Saat itu gaji tenaga pendidik sangat tidak mencukupi biaya hidup. Penghasilan tambahan itu ayah belikan sebuah televisi agar aku dan saudaraku tidak harus menumpang menonton lagi di rumah tetanggaku.

Hingga saat ini ketika aku pulang ke rumah aku masih bisa melihat tv itu, saksi perjuangan masa lalu. Maafkan aku jika terkadang aku berkata agar tv itu diganti dengan model terkini dan bilang agar tv itu dimasukkan ke museum saja karena sudah terlalu tua.

Aku tahu sifat pekerja kerasmu mengalir dalam darah kami anak-anakmu. Sejak kecil kami sudah punya inisiatif untuk mengerjakan PR sendiri tanpa ada perintah dan pengawasan dari ibu atau ayah.

Maafkan aku jika sering kali aku hanya ingat ayah sebagai sosok pemarah. Marah ketika aku tidak bisa bergerak cepat, marah ketika aku tidak disipilin. Sekarang aku paham, itu terjadi karena kerasnya kehidupan dan ayah ingin membentuk mentalku dari kecil.

Terima kasih karena dengan sikapmu yang pemarah dan kaku, aku jadi ingat semua moment kasih sayang yang kau beri, walau kau tidak ahli menunjukkannya.

Sama seperti saat liburan SMA aku harus pulang kekosan. Saat itu aku menangis karena tidak diantarkan ke stasiun bus. Aku masih ingat isak tangis seorang gadis yang tidak mandiri saat itu. Aku meneleponmu yang sudah menjadi kepala sekolah dan sedang mempersiapkan rapat dengan guru lainnya. Engkau panik mendengar suara tangisanku di handphone. Saat itu juga engkau menunda rapat dan melajukan mobil dengan kencang menuju rumah. Aku ingat hangat pelukanmu ketika aku menangis membasahi kemeja kerjamu. Aku begitu takut merindukan rumah jika aku pulang ke kosan. Ayah begitu manis ketika berkata bahwa aku bisa pulang kapan saja kerumah, tapi aku harus bersabar untuk menimba ilmu di daerah lain demi masa depanku.

Aku masih bisa tersenyum berkali-kali, ketika ayah khawatir aku jatuh menggunakan sepatu wedges saat ingin mengantarkanku ke bandara menuju daerah aku kuliah. Aku hanya tertawa dan merasakan kembali rasa sayangmu dalam dadaku.

Aku bangga karena ayah begitu profesional dan inovatif dalam bekerja sehingga kita bisa bertemu di kota tempatku kuliah. Ayah selalu menjadi perwakilan untuk mengikuti studi banding atau pelatihan lainnya.

Ayah, terima kasih selalu ada ketika aku di masa krisis motivasi.Saat skripsi membelenggu, suaramu selalu bisa memebangunkanku lagi. Aku tersenyum lagi ketika kita bertemu di kota aku kuliah. Ayah bercerita, ayah bermimpi bahwa aku menangis kencang dan memelukmu dalam mimpiku, dan disaat bersamaan proposal penelitianku di approve perusahaan yang kutuju.

Ayah kau begitu manis dalam kekakuanmu, engkau mengganggukkan kepala ketika aku meminta untuk membelikan sebuah anting perak ketika berkunjung ke kota tempatku berjuang ini.

Sekarang aku percaya, daddy is daughter first love. Sepertinya aku akan berjodoh dengan pria seperti ayah di waktu mendatang. Aku tertawa sendiri mengingat di waktu yang lalu aku pernah mencoba membuktikan hal ini. Aku berkencan dengan pria yang begitu manis dalam berkata dan berakhir dengan hal yang tidak bisa mempertemukan kita, karena dia tidak seperti ayah. Lagi-lagi saat itu aku hanya mengingat bahwa ayahku pekerja keras dan kaku, sehingga aku hanya berbagi kesedihan dengan ibuku di telpon secara diam-diam. Aku kira engkau tidak tahu hal itu. Tetapi engkau hanya berpura-pura tidak tahu da mencari tahu waktu yang tepat untuk berbicara. Aku begitu terpesona saat engkau mengatakan bahwa apa pun yang menimpaku saat itu, engkau percaya bahwa aku bisa mengatasinya dan tidak melupakan tujuanku disini.

Ayahh,sekarang aku sudah beranjak dewasa. Terimakasih sudah menjadi sosok yang membuktikan bahwa adam diciptakan Tuhan untuk mendampingi kaum hawa.Semoga ayah senantiasa dikaruniakan kesehatan untuk menyaksikan esok tangan kananku ini digenggam oleh sosok sepertimu.

Selamat hari ayah untuk ayahku yang selalu mencintai dalam diam.