Kami akan menunggu restumu ibu

Ibu, perkenalkan laki-laki yang setia dalam susah maupun senangku.Laki-laki sederhana yang memberi warna dalam hidupku. Aku tahu dia tak seperti menantu idamanmu.Tak beruang tak pula bertahta.Dia hanya pegawai biasa di sebuah Bank Swasta, bu. Namun dia mampu membimbing putri manjamu ini jadi lebih dewasa. Dia punya pribadi yang santun dan sopan, menghargai dan menghormatiku sebagai wanita tidak seperti laki-laki sebelumnya yang pernah ku kenalkan padamu bu, yang selalu menjadikan fisik sebagai standart-nya.

Ibu, aku tahu kau menentang pilihanku. Aku tak memaksamu tuk menerimanya.Aku tak ingin karena dia hubungan kita renggang bu. Kau perempuan yang melahirkanku. Aku percaya surga dibawah kakimu.Aku percaya neraka tempatku jika mendurhakaimu. Aku mengerti kecemasanmu tuk melepasku dengan lelaki yang ‘masa depannya’ mungkin tak mampu memberi kemewahan layaknya dirimu, bu.

Bukankah sebuah pernikahan itu ibadah yang melapangkan pintu rezeki? Maaf ibu,aku tak bermaksud menguruimu.Tapi percayalah bu, aku tak masalah hidup sederhana aku tak mengharapkan kemewahan darinya. Aku mencintainya karena kesederhanaan yang ia tawarkan. Karena bahagia tak diukur dari materi.

Bu, usiaku tak lagi muda. Sampai kapan kami harus menunggu?

Advertisement

Bu, sejak penolakanmu delapan tahun lalu. Aku diam-diam dibelakangmu menemuinya menata masa depan bersamanya.Sungguh sulit bu bermain dibelakangmu. Bu,usiaku telah lebih dari seperempat abad. Fase yang tak lagi muda. Wanita ada batas waktunya bu. Kau pasti memahami yang kumaksud. Aku sangat ingin mengakhiri kesendirian ini menghalalkan hubungan kami.Tak maukah ibu menimang cucu dari putrimu ini? Aku pun ingin memakai gaun pernikahan layaknya para sahabat seusiaku yang telah lebih dulu membina keluarga. Aku ingin merasakan hidup bersamanya tanpa rasa takut tanpa harus bersembunyi.
Bu, sampai kapan kami harus menunggu?

Bu, jika sampai akhirnya restumu tak juga menghampiri. Jika sampai akhir waktunya kau gigih dengan keputusanmu.
Tak ada jalan bagi kami. Maaf ibu.
Aku memilihnya.

Aku tahu ini salah. Aku lelah menunggu bertahun-tahun bu. Terlalu banyak yang kami harus lewati untuk sampai pada keputusan ini. Kami lelah terpisah jarak beribu kilometer, menahan rindu yang menyesakkan, menunggu restumu yang tak kunjung menghampiri. Kami pernah mencoba mengakhiri kisah melodrama ini. Namun (lagi) langkah kami bertemu ditujuan yang sama. Ya.Kami tak mampu saling melepas. Tak mampu menemukan sosok pengganti untuk diri kami senidri.Kami saling mencintai. Terlepas dari kau suka atau tidak padanya.

Aku menyayanginya.

Ibu, maafkan putri mu yang tak tahu diri ini. Maafkan aku bu. Aku pergi bu.
Aku pergi bersama laki-laki pilihanku. Dia yang tak berdasi dan tak bermobil.
Jangan cemaskan aku bu. Aku akan kembali bersama suami dan cucumu nanti..
Ya..nanti saat kau bisa menerima pernikahan kami.

Salam dari putri manjamu yang sangat merindukanmu, Ibu