Hari itu aku melihatmu di sudut sore ketika matahari belum benar – benar tenggelam. Jersey merah bercampur aroma keringat. Ah menawan sekali ternyata! Senyumanmu sempat membuat jantungku berdegup kencang hingga aku lupa caranya untuk bernafas. Ku rasa ini berlebihan.

Kala itu aku sedang melihatmu bertanding dalam acara kampus, mataku tak pernah absen melihatmu. Menyenangkan sekali meskipun kau tak pernah melihatku lebih dalam. Bicara tentang 'melihatku', berkenalan saja aku belum sanggup, ku rasa terlalu jauh aku berimajinasi. Aku mungkin seorang pengecut, yang hanya diam sekedar memandang tanpa menyapa bahkan berbicara lebih banyak padamu. Berpandang satu sama lain dan berjabat tangan menorehkan senyum, ah sudahlah! Aku hanya seseorang yang lancang mengambil potret wajah dan badanmu yang tinggi menawan. Seulas senyum yang selalu ku ingat, sungguh menenangkan namun sekaligus menyakitkan.

Semenjak hari itu, entah mengapa aku selalu tak bisa diam. Mulut dan otakku tak pernah ingkar tentang namamu, apapun tentangmu. Kau tahu? Aku mungkin sudah mulai gila, kau sudah meracuni otakku semenjak kau tawarkan senyumanmu meski bukan untukku. Dan sekali lagi kau juga harus tahu, aku selalu memandangmu dari sudut paling jauh sampai aku tak terlihat olehmu. Ya itulah aku, yang diam – diam memperhatikanmu atau mungkin menyukaimu? Entah apa sebenarnya definisi suka dalam kasus ini.

Ku ucapkan terima kasih pada waktu, yang sudah mengizinkanku melihatmu meski beberapa hari. Pada waktu yang menahanku untuk tidak melihatmu semakin dalam.

Dan aku masih menunggu pertemuan itu…