Aku tau segalanya dari dua bola matamu. Seperti ada sesuatu yang tak terungkap. Mengapa senyum itu selalu menghiasi parasmu ketika kamu bercerita tentangnya? Apakah terbawa nyaman bersamanya? Sejak Kapan? Mengapa tidak pernah bersuara tentang rasamu padanya? Karena ada aku yang lebih dulu menyatakan bahwa aku jatuh hati padanya?

Aku, sahabatmu yang sangat menyayanginya.

Oh jadi begini rasanya dikhianati. Kamu jatuh hati, diapun juga, dan kalian telah bersama. Sejak kapan? Sudah sejauh apa? Sudah Berapa lama? Bolehkah aku tau? Mengapa kamu tidak mengungkapkan dari awal padaku? Kamu takut aku terluka? Kamu takut aku sengsara, menangis, menderita? Ah, nyatanya kamu menerimanya, pengkhianatan yang nyata.

Baiklah, pahamilah. Jika bahagiamu memang dengan bersamanya, jika bahagiamu memang harus dengan menjalani hari dengan orang yang diperjuangkan sahabatmu, aku bisa menerima. Namun satu hal yang ingin aku utarakan. Tolong jangan menceritakan apapun tentangnya ketika kita sedang bersama. Bagaimanapun sahabatmu ini adalah sosok yang pernah jatuh bangun memperjuangkannya. Meskipun pada akhirnya aku yang kalah telak. Maaf.

Maaf jika bahagiamu, bukan bahagiaku, sahabatku.

Advertisement

Mungkin beginilah hidup. Siapa yang berjuang, siapa yang disayang. Kamu yang awalnya selalu mendukungku, ternyata sekarang mengkhianatiku. Hanya saja, aku tidak akan terbawa ego dengan menganggapmu orang tak tau malu. Kita tetap sahabat. Kita teman dekat. Aku akan belajar untuk tidak membangun sekat.

Kusudahi saja segala harap semu ini. Semoga segala yang bersuara tentangnya seperti luput dari pendengaranku. Semogga aku mampu mengikhlaskan apa yang seharusnya dilepaskan. Semoga bahagia yang kamu rasakan akan selalu bertahan.

Semoga segala sesak yang aku rasakan, tiada pernah kamu merasakan.