Hai, sudah lama rasanya kita tak bertemu. Yang ku ingat terakhir bertemu kau masih tersenyum padaku, tapi akhir akhir ini masalah yang ku buat malah membuatmu kelelahan menghadapiku.

Sayang, maafkan aku. Mungkin sikap sikapku tak bisa membuatmu memahamiku, mungkin aku terlalu mendramakan masalah masalah itu dan tak mau berbicara malah menuntutmu mengerti kemauanku.

“Jika kau tak menceritakannya padaku, bagaimana aku bisa memahamimu!!!”

Itu lah kata kata yang keluar dari mulutmu. Yah, kuakui kata kata itu sedikit melukaiku. Tapi aku tak bisa menyalakanmu untuk semua yang keluar dari mulutmu, aku memang keliru. Aku terlalu berharap kau mengerti tanpa harus aku mengatakannya padamu, padahal aku tau kau bukan orang yang sensitif terhadap perasaan seperti kebanyakan wanita sepertiku.

Aku sering merasa takut membebanimu, hanya itu. Aku ingin menjadi kekuatan bukan kelemahan bagimu. Aku hanya tak ingin kau merasa risih dengan sifat manjaku, sedangkan kau juga butuh lebih perhatianku setelah setiap hari bergelut dengan aktivitas yang membuatmu kelelahan itu.

Advertisement

"Tak mau berbicara bukan berarti aku bisu, bukan juga berarti kau harus acuh. Aku pun ingin kau sedikit mengerti meski aku tak membicarakannya di depanmu. Apa kau tak juga mengerti itu???"

Aku tau, terkadang apa yang ku lakukan bukan yang kau mau. Dan apa yang kau lakukan bukan pula apa yang ku mau. Aku tau, bagaimanapun juga aku dan kamu tak akan bisa menjadi dua pribadi yang sama dalam sifat dan perilaku.

"Aku tau kita memang banyak kekurangan dan keliru, kau mungkin tau juga menyadari itu"

Tapi bukan berarti aku harus pergi begitu saja darimu, bukan berarti kau juga harus pergi karena lelah menghadapi sifat manjaku. Karena di luar sana, aku tau aku tak akan menemukan seseorang yang bisa sepenuhnya memahamiku, begitupun juga dirimu.

"Sudah banyak hal yang ku lalui bersamamu, sudah tinggal selangkah lagi perjalanan cinta mu dan cintaku akan memasuki babak baru bahkan masalah kecil ini bukan apa apa di babak baru itu"

Aku hanya butuh banyak waktu untuk terus bisa memahamimu, dan diriku. Aku pun selalu bersedia untuk memperbaiki pribadiku jika itu memang keliru, aku akan tetap berusaha mengerti dirimu dan bertahan untuk masa depanmu dan masa depanku.

Aku juga butuh ketersediaanmu tetap disini berjuang untuk mu dan aku. Aku juga butuh dukunganmu untuk membuat hubungamu denganku semakin hangat dan tak lagi membeku dan membeku.

Perjalanan kita tak sependek ini, masih ada jalan yang lebih berliku lagi nanti. Ku harap kau mau lebih bersabar dan mengerti. Dan aku akan lebih belajar memantaskan diri.

“Sayang, aku yakin kita saling mencintai dan menyayangi. Aku ingin kisah kita akan lebih baik lagi dari ini, mari kita saling menggenggam dan berjalan lagi untuk menjadi lebih baik lagi !!!”