Sesuatu yang telah pergi tak perlu diharapkan untuk kembali…

Jika kamu memilih pergi, maka tak perlu aku mengingatmu lagi. Hari ini di tengah hati yang masih penuh derita ini, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa namamu tak boleh lagi menjadi alasan untuk tangisku.

Aku memang sedih dan masih bersedih, aku mengakui itu.

Tapi aku bukan menangisi kepergianmu, aku menangisi nasib yang tak menyadarku dengan cepat bagaimana bodohnya aku telah memilihmu. Detik ini juga aku mengharamkan pikiranku untuk melukiskan wajahmu lagi di sana. Aku sudah dan harus bisa move on.

Perjalananku akan dimulai hari ini dengan menghapus setiap "kamu" dan memisahkannya dari seorang "aku". Tak ada lagi kita, hanya ada asing dan sebuah ruang kosong. Sudah kulumpuhkan setiap ingatan dan sakit yang menghantuiku selama ini.

Advertisement

Lihat, bukan hanya kau yang bisa berlari meninggalkanku. Aku bisa berlari jauh lebih cepat dan menyusulmu. Siapkan saja dirimu saat aku akan melewatimu dengan wajah yang jauh lebih bahagia dari saat kau memelukku.

Jangan bermimpi untuk menjatuhkanku, karena aku jauh lebih kuat dari usahamu untuk melakukannya. Aku akan melipat tawamu yang berderai, membuang senyum di ujung-ujung bibirmu, mengubur cerita-ceritamu dan membakar segudang rasa yang pernah kau sebut cinta sejati.

Di depanku sebuah masa telah menanti dengan sejuta mimpi yang berharap akan diwujudkan. Mereka menyambutku dengan haru setelah aku kembali dari nerakamu. Ternyata ada lebih banyak cinta dan kebahagiaan yang selama ini telah kusia-siakan.

Di ujung masa itu aku akan menuliskan sebaris kalimat untukmu, "Selamat menikmati penyesalan tanpa akhir karena telah melepaskanku."

“You can spend minutes, hours, days, weeks, or even months over-analyzing a situation; trying to put the pieces together, justifying what could've, would've happened… or you can just leave the pieces on the floor and move on.”