Kau memang dulu sahabatku. Tak terhitung jutaan bahkan miliaran momen yang sudah kita lewati. Sejak langkah kaki masih tertatih, sedari bayi kita tak terpisahkan. Tapi sekarang, kenyataan telah berubah. Kehadirannya menenggelamkan persahabatan kita.

Dia cantik, ku suka dia.

Siswi pindahan dari jogja itu begitu ayu. Paras cantiknya terpancar khas wanita jawa. Pertama kali ku lihat dia, ingatkah kau, aku langsung berkata "aku suka dia!".

Dia yang ku perjuangkan.

Arus informasi yang banyak ku dapat, dia wanita yang sulit ditaklukan. Yang ku tahu, dia baru sekali berpacaran, padahal banyak laki-laki yang nge-fans dan ingin jadi pacarnya. Bukan cuma cantik, dia wanita soleha yang ku lihat tak pernah meninggalkan ibadahnya. Betapa perpaduan yang begitu sempurna. Dia memang layak diperjuangkan sampai titik darah penghabisan!

Kau menikung diam-diam!

Sering aku cerita padamu tentang perjuanganku mendapatkannya. Nekat menemui orang tuanya yang tentara dan terkenal galak itu pun sudah ku lakukan, bahkan sampai pernah aku di lempar sendal saat ketahuan menyelipkan surat diam-diam. Tapi betapa kagetnya aku ketika suatu pagi di sekolah murid-murid bergosip ria. Ku dengar kau jadian dengannya! tentu aku kaget! karena yang ku tahu kau, kau selalu mendukung apa yang sedang ku perjuangkan. Tapi kenapa kau malah menikung diam-diam dibelakang.

Maaf sahabat, kita sudak tak bisa melangkah bersama.

Jujur, sampai saat ini aku masih belum bisa terima. Sudah kau tahu betapa hebatnya perjuanganku untuk mendapatkan hatinya. Kau yang tanpa perjuangan, dengan begitu mudah kini jadi pilihannya. Sungguh, aku tak terima. Semua ini tidak masuk logika. Aku kecewa padamu sahabat. Maaf, memori persahabatan kita memang sudah terbenam.