Maaf, aku masih bertanya kabarmu. Padahal sudah lama kita berpisah, engkau pergi dari kehidupanku, dan memilih wanita itu. Harusnya aku merelekanmu, bahkan mungkin harus mengikhlaskanmu. Tapi nyatanya, waktu tetap berkutat di tempatnya, semua masih sama tentang kamu.

Maaf, harusnya aku bersikap dewasa. Keputusan ini memang sepihak dari dirimu dan aku di sini harus menerimanya dengan lapang hati. Walaupun sulit dan tak akan mudah, tapi melihat engkau bahagia dengan dia, aku juga harus bahagia meski terluka.

Maaf, mengintip akun sosmedmu masih menjadi kebiasanku. Kau tampak bahagia, itu juga membuat aku lega. Terkadang ada air mata di sudut mata setiap mengingat janji yang aku jaga.

Maaf, di sini aku masih merindukanmu. Berdiri di sini menunggumu sama seperti menunggu pelangi di matahari, tak akan mungkin terjadi, meski namamu masih terselip dalam doaa panjangku.

Maaf, untuk yang terakhir kali, dalam doa terselip sebuah kalimat, "jika memang tiada kata kita nantinya, maka izinkan aku punya rasa untuk seorang yang lainnya, tapi jika namamu kelak bersanding di belakang namaku, maka semoga rasa ini tetap terjaga hingga halal tiba."

Advertisement

Terima kasih untukmu..

Jika kelak kita bertemu, semoga senyum penuh keikhlasan itu nampak dari kedua wajah kita dan salam terucap seperti pertamna kali kita bertemu, meski tiada jodoh di antara kita.

Terima kasih.