“Kau mau separuh cahaya ini?”

“Untuk apa? “Bawa saja, nanti kau suka. Aku akan segera kembali membawa sepotong cahaya yang lainnya. Tak usah menunggu dan tak usah mencari aku. Kuharap kau juga jangan rindu karena itu akan memberatkan aku. Aku sayang kamu” ucap dia sambil berlalu begitu saja.

Senja menjadi saksi bisu atas pertemuan singkatku dengannya. Matahari pun perlahan mulai kembali ke tempat peristirahatannya. Sedangkan pandangan ini melihat gerak kakinya yang begitu dahsyat. Secepat kilat berlari dan menjauh dariku. Sedetik, dua detik, tiga detik dan lalu menghilang dari pandangan.

Kududukan tubuhku di kursi yang cuman ada satu-satunya di sudut taman ini. Perlahan kumembuka bungkusan berukuran 1m x 1m dan diikat oleh besi layaknya pita yang menyimpul bungkusan kado. Apa yang dimaksud separuh cahaya dia? Dengan Sangat hati-hati aku membukanya. Dan akhirnya aku bisa membukanya. Separuh cahaya itu dibungkus oleh kertas. Aku coba buka kertas tersebut. Pada kertas tersebut terdapat tulisan.

Untukmu Dianaku…
“Diana, aku sudah menebak bahwa kamu pasti langsung membuka separuh cahaya ini. Maafkan aku tadi yang langsung pergi begitu saja. Dan hanya menjanjikan akan segera kembali dengan separuh cahaya yang akan melengkapi separuh cahaya yang kau pegang ini. Bawalah pulang dan jaga baik-baik separuh cahaya ini. Kau mungkin tak penah tahu betapa sedihnya aku mendapatkan separuh cahaya ini. Boleh aku bercerita Diana tentang separuh cahaya ini? Agar kau benar-benar menjaganya. Sebelumnya, maafkan, sepertinya aku tak akan menunjukan batang hidungku lagi di hadapanmu sebelum aku mendapatkan separuh cahaya yang lainnya. Bagaimana pun aku harus mendapatkannya!

Advertisement

Dengarkan ini Dianaku. Saat itu, aku tengah pulang ke desaku karena ibuku tengah sakit. Kau sendiri tahu, bahwa aku sudah dua tahun belum pulang ke desaku karena sibuk atas pekerjaanku. Tak ada niat aku mendurhakai kedua orangtuaku, karena mereka selalu bilang ‘jangan pulang kalau memang tak ada waktu nak, ayah dan ibu tak mengapa’ Dan aku berfikir, aku bekerja juga untuk kebahagiaan mereka. Setiba aku di rumah, kulihat sudah banyak orang di rumah. Mulai dari tetangga-tetangga sekitar, teman-teman dari adikkudan pegawai desa yang juga kulihat. Aku tak memperdulikan sapa tanya orang-orang yang melihatku.Bergegas ku masuk ke dalam rumah dan mencari ibuku. Ibuku ternyata sedang terbaring lemas di kamar. Disekitarnya di jaga oleh kedua adikku yang masih SMP dan ayahku yang sedang membacakan Quran untuk Ibuku. Aku langsung memeluk ibuku dengan tangisan air mata yang mengguyur pipiku. Dengan suara tertatih-tatih, ibuku berucap kepadaku bahwa dia akan segera pulang. Dia kemudian memberikan sepotong cahaya ini untukku agar aku berikan kepada orang yang benar-benar aku sayang. Ibuku meminta, agar aku mencari separuh cahaya lainnya. Lengkapi separuh cahaya ini dengan separuh cahaya yang aku cari sendiri. Selepas itu, ibuku langsung menghembuskan nafas terakhir kalinya Diana.
Sudah hampir satu tahun separuh cahaya ini aku jaga baik-baik dan belum aku berikan kepada siapa-siapa Diana. Karena aku belum menemukan orang yang benar-benar aku sayangi. Tapi sejak mengenalmu, meskipun Aku memilihmu sebagai orang yang aku sayang. Jaga separuh cahaya ini Diana. Aku akan segera kembali dengan sisa separuh cahaya yang lainnya. Dimana pun dan bagaimana pun caranya, aku akan berusaha untukmu Diana. Nomorku sudah tak akan lagi aktif. Aku ingin berfokus mencari separuh cahaya lainnya Dina. Hanya untukmu! Salam dariku. Lelakimu”

Tak terasa air mata ku pun menetes ketika kumembaca surat yang membungkus separuh cahaya ini. Orang-orang yang melewati taman itu sedetik dua detik melihaku yang menangis sambil membaca surat yang aku pegang. Aku tak mempedulikannya, toh mereka juga tidak bertanya kepadaku. Aku akan menjaganya! Aku berjanji! Aku tak akan rindu karena itu permintaanmu. Tentu bila aku rindu, itu akan memberatkanmu karena hatimu akan memaksamu untuk bersua dengan aku. Aku kan menjaga dengan sepenuh hatiku.

Bergegas aku langsung pulang menuju kos-kosanku. Hari sudah semakin sore.Matahari sudah terlihat akan kembali ke tempat istirahatnya. Aku pun belum menyiapkan makan untuk malam ini. Eh hampir lupa, sambil aku berjalan menuju kos-kosanku yang kurang lebih berjarak 500 meter, aku ingin memperkenalkan diriku.

Namaku Diana. Orang sering memanggilku dengan panggilan Nana. Aku mahasiswi semester 3 Pendidikan Bahasa Inggris di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di daerah Tangerang. Jika setelah lulus SMA aku langsung menginjakan kaki ke bangku kuliah, sekarang aku sudah semester 7. Aku kerja terlebih dahulu untuk membantu kedua orang tuaku dalam membiayaiku. Singkatnya setelah lulus SMA, aku kerja dahulu selama 2 tahun.

Aku mengenal “Dia” si pemberi separuh cahaya itu, belum terlalu lama. Sekitar 3-4 bulanan sepertinya. Awalnya kedekatanku dan dia sebatas teman biasa saja. Namun dia telah berhasil membuat aku nyaman dan sepertinya dia telah menjadi sandaran kedua ku setelah sajadah. Tempat aku tersenyum. Tempat aku menangis dan tempat aku beriang dan berbagi dalam duka dan lara.

Aku sendiri belum tahu bagaimana perasaan dia kepadaku. Bahkan dia sendiri sampai saat ini, belum mengatakan perasaannya seperti apa. Ingin rasanya bertanya bagaimana perasaannya kepadaku, tapi aku tak berani. Aku hanya nyaman dengannya, itu saja. Kuharap kali ini, kau akan mengerti bahwa sebagai seorang perempuan tentu aku berharap bisa menjadi sandingannya karena dia berhasil mengobati luka lama karena masa laluku.

Tapi aku masih terlalu takut untuk berharap dengannya. Karena keadaan seperti ini, sama dengan keadaan sebelumnya. Dimana ada seseorang yang berhasil menyembuhkan luka lamaku, tapi dia tiba-tiba pergi tanpa kejelasan. Dan aku takut sekarang juga akan begitu, aku yang sudah berharap terlalu jauh, tapi malah disia-siakan.

Namun bagaimana juga sekarang aku sudah berharap dengannya. Wajar kan sebagai seorang perempuan yang sudah dibuat nyaman oleh seorang lelaki, kemudian berharap dialah yang menjadi satu-satunya. Aku sudah capek dengan hati-hati yang palsu dan bualan semata.

Tak terasa aku bercerita tentangku dan tentang si “dia”, aku sudah sampai di kos-kosanku. Aku menaruh separuh cahaya ini dengan pnuh hati-hati. Aku takut cahaya ini rusak dan lecet. Aku mau membeli makan untuk makan malamku dulu yah?

Keesokan harinya hingga berhari-hari setelahnya, aku selalu membawa separuh cahaya ini dengan penuh rasa hat-hati. Aku tak ingin saat “dia” kembali, dia melihat separuh cahaya ini telah rusak karena aku tidak hati-hati menjaganya. Tapi, aku juga tak tahu kapan dia kembali. Karena setelah itu, nomor hapenya pun tak lagi aktif. Positifku, mungkin dia sedang fokus untuk mencari separuh cahaya yang lainnya.Saat bangun tidur, membereskan kamar kosan, mencuci pakaian bahkan ketika akan mandi pun, aku menyempatkan untuk selalu melihat separuh cahaya itu yang kuratuh di atas meja belajarku. Tepatnya di sisi lampu belajarku.

“Cieee Nana sudah ada yang ngasih separuh cahaya..aku kapan yah?” canda Risna temanku. Aku, Risna dan Elena sedang sarapan pagi di kampus.

“Dia kapan kembali dengan separuh cahaya yang lainnya?” Elena menimpa.
“Entahlah aku tak tahu”
“Dia ngga ngejanjiin apa-apa?”
“Dia hanya bilang nanti kembali dengan separuh cahaya yang lainnya dan aku jangan rindu”

“Ahh Elen (Panggilan Elena) suka kepo urusan orang lain..pacar kamu sendiri sampai sekarang belum memberikan separuh cahaya kan? heee pisss” sahut Risna sambil menepuk bahu Elen.

“Tapi..kalian tahu tidak?”
“Tahu apaan?” mereka jawab bersama.
“Seharusnya aku bahagia diberi separuh cahaya ini layaknya wanita pada umumnya”
“Terus kau tak bahagia?” Elen yang bertanya sambil meneguk segelas teh manis hangat.
“Aku hanya takut saja..soalnya…”
“Takut? Takut apaan?” Risna memotong.
“Dia tak akan kembali lagi”
“Sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Dia pasti akan kembali” Risna mengeluas pundakku

Setelah teman-temanku mengetahui, setiap harinya saat kuliah mereka tak pernah hentinya bertanya ‘apakah dia sudah kembali dengan separuh cahaya yang lainnya?’ Bahkan ketika mereka bermain di kosanku pun, mereka tak henti-hentinya memandangi separuh cahaya itu. Kadang Risna juga memegang dan mengelus-ngelus cahaya itu. “Hati-hati!” Elen selalu mengingatkan kepada Risna agar jangan sampai rusak.

Aku amat bersyukur mempunyai teman seperti Risna dan Elena. Mereka berdualah sahabat terbaikku saat ini. Risna yang suka kepo urusan orang lain tapi terkadang suka lemot, tetapi sifat keibuannya sangat dalam sekali. Pernah saat itu aku sedang sakit dan tidak ngampus. Kebetulan waktu itu akau tidak memberitatahu kepada mereka Sebenarnya sih bukan sengaja aku tak memberitahukan kepada mereka, karena aku yang ketiduran setelah shalat subuh tidur karena saking pusingnya dan bangun-bangun sudah pukul 14.00 WIB. Kulihat HP pun penuh notifikasi SMS dan puluhan panggilan tak terjawab dari mereka. Tepatnya 12 kali dari Elen dan 9 kali dari Risna

Tapi setelah aku bangun dan membuka kedua mataku, ternyata aku baru sadar ternyata keningku sudah ditempeli kompres, kakiku sudah terpasang kaus kaki dan di meja belajarku sudah ada sop ayam, nasi dan buah-buahan.Kemudian dipinggir meja itu ada kertas yang berisi tulisan

“Cepet sembuh Nanaku, kalau tidak sembuh aku bakar kosan kamu! Makan dan habiskan sop, nasi dan buah-buahannya. Banyakin minum air putih dan jangan dimandiin. Kalau keluar keringat, jangan dulu dimandiin tapi lap aja pake lap sedikit agak basah. Maaf aku ngga bisa nungguin. Aku yang keluar kelas dengan izin bilang mau ke rumah sakit sebentar karena Adikku kecelakaan hee. Kau tak usah takut karena aku kan anak tunggal hee. Aku curiga kau tak kuliah karena sakit akibat lelahnya harus bolak-balik Tangerang-Bekasi semalaman soal urusan pengajuan proposal.. Ada salam juga dari Elen. Dia tak kemari karena dia yang kuminta untuk mendengarkan materi dari Prof. David. Kau tahu sendirilah gimana aku lemotnya dengan penjelasan Prof. David yang muter-muter hee tapi Elen yang sigap mudah memahaminya. Cepet sembah Dianaku. Muachhhh. Dariku Risna Ekawati"

Aku cuman senyum-senyum saja ternyata orang yang kalau ketemu aku di kampus, kalimat pertama yang bakal keluar dari mulutnya “Eh tahu nggga…” setelahnya ngegosip. Bisa juga bersifat keibuan dan perhatian seperti ini. Terimakasih kalian. Aku bangga mempunyai sahabat seperti kalian. Elena, Risna, aku sayang kalian.

Wajar memang jika Rista dan Elen juga peduli akan “ Si Dia” yang berjanji suatu saat nanto kembali. Rista dan ELen mungkin tak mau aku terluka untuk karena berharap. Elen sendiri terkadang lebih memilih waktu bersamaku ketimbang dengan pacarnya. Maklum, Elen memang agak bawel dan super galak. Makannya pacarnya selalu nurut saja hee dan tidak pernah marah kalau ada janji mau ketemu tapi Elen lebih memiih menemaniku jika aku sedang sedih.
..
Namun terkadang pertanyaan Rista dan Elen yang selalu menanyakan kabarnya justru malah membuat waktu terasa begitu lama. Aku semakin rindu dibuat olehnya. Menunggu sesuatu yang belum pasti ada jaminan akan kembali tentu amat lama. Tapi aku lalui dengan tabah dan mencoba tetap berprasangka baik tentangnya.

Waktu berputar dan terus berputar. Hingga sekarang tak terasa sudah hampir 3 bulan. Hanya rindu yang menyelimuti. Maafkan aku sayang, sepertinya aku tidak bisa menahan rindu. Namun aku harap dia tidak pernah tahu akan rinduku. Aku tidak ingin mengecewakannya karena dia tahu aku rindu. Hampir tiap malam aku sudah tak lagi mendengar suaranya. Biasanya setiap jam 9 malam, dia akan menelepon.

“Hallo” suara dia agak dibesar-besarkan
“Iyah halo?”
“Ini dengan Diana?”
“Iya ini dengan Diana, maaf ini dengan siapa ada ada keperluan apa?”
“Ini dengan lelaki yang klepek-klepek tadi pagi melihat senyum manis perempuan di depan gerbang kampus hee”
“Ihhh…kamu dasar”
“Hee ada yang ingin kamu ceritakan? Ada yang bisa aku bantu?”
“Ngga ada, makasih. Kamu sendiri ada?”

Tiap malam dia selalu menelepon untuk memastikan bahwa aku sedang tidak kesusahan dan tidak dalam keadaan pusing. Dia berkata klepek-klepek karena kebetulan saat itu dia memang mengantar aku pergi ke kampus. Tidak setiap hari memang karena dia berangkat kerja pukul 5 subuh. Biasanya dia mengantar aku ke kampus kalau kerjanya masuk jam 9. Tapi itu juga cuman hari Kamis saja.

Kalimat tanya yang dia ucapkan dan tak pernah absen yaitu ‘ada yang ingin kamu ceritakan? ada yang bisa aku bantu?’ Dia tak pernah absen menanyakan hal itu. Bahkan sekalipun aku mencoba menyembunyikannya, dia selalu tahu.

“Aku tahu pasti ada hal yang bisa aku bantu, ayo bilang spele apapun bantuan itu?”

Sebenarnya saat itu memang aku dalam keadaan lapar karena belum makan dari sore. Tapi aku tidak berani bilang bahwa aku belum makan. Aku tidak ingin merepotkannya. Namun tak seberapa lama saat tiba-tiba telepon darinya mati, 5 menit kemudian ada yang mengetuk dari luar pintu. Setelah aku buka, tidak ada orang sama sekali. Tapi ada kantung platik dan sebotol air mineral yang masih tersegel. Di dalam kantung plastic tersebut terdapat sebungkus makanan dan 2 buah pir.

“Habiskan makanan ini. Aku tahu kamu laper. Maaf aku langsung pergi. Ngga enak sama tetangga malam-malam bertamu ke kosan cewek yang bukan muhrim” dariku –Lelakimu

Aku hanya tersenyum membaca surat yang ada di dalam bungkusan plastik tersebut. Entahlah. Aku tidak pernah memikirkan bagaimana dia bisa mengetahui bahwa aku sedang lapar. Ahhh dia.

Tapi malam ini rasanya sepi semakin menggerogoti tubuhku ini. Tanpa ada dering telpon darinya. Aku sempat iseng untuk miss called kepadanya, tapi benar juga kata dia, nomornya sudah tidak lagi aktif. Ini harus sampai kapan? Aku masih semester 3 saat ini. Apakah dia akan datang setelah aku lulus nanti? Tapi bagaimana? Aku sudah terlalu bergantung akan perhatiannya, candaanya dan kasih sayang yang dia berikan. Hari-hariku selalu tentangnya dan tak ada yang lain.

Meskipun tak ada ikatan status ‘jadian’, aku tak pernah peduli. Bagiku, kenyamananlah yang utama. Percuma juga ada status ‘jadian’ tapi perlahan malah menyakiti dan tidak saling mengerti. Tapi terkadang aku juga sama seperti wanita lainnya yang menuntut kejelasan. Namun rasa nyaman yang dia berikan, seolah menenggelamkanku akan sebuah kenyamanan yang sesungguhnya.

Ya tuhan, jaga dia baik-baik. Dimana pun dan bersama dengan siapa pun, lindungi dia dalam lindunganMu. Semoga apa yang dia lakukan memang berada di jalan yang Engkau ridhoi. Biarlah aku menahan sakitnya rasa rindu. Biarlah aku yang digerogoti rasa sepi. Aku tak mengapa. Aku akan berusaha untuk menjaga separuh cahaya yang dia berikan. Sekalipun aku merasa kerepotan membawanya kemana-mana, bahkan ke kamar mandi sekalipun, aku tak mengapa. Aku tak ingin ini rusak dan jelas dia akan kecewa. Aku rindu dia tuhan.

Kumatikan lampu dan kupejamkan mata ini. Semoga tuhan meengizinkanku bersua dengannya meskipun hanya di dalam mimpi. Selamat malam dan selamat beristirahat. Hey kamu, maafkan aku rindu. Lelakiku

______

Esok harinya, tat kala aku membeli makan untuk sarapan pagi di warung bi Maemunah (aku biasa manggilnya bi Emun), aku tiba-tiba beliau bertanya

“Neng tos dipasihan separuh cahaya ku calon eneng? Kedah dibabawa kamana-mana oge nya neng”
(Dek, sudah dikasih separuh cahaya sama calon adek? Harus dibawah kemana-mana yah dek)
“Oh muhun atos bi heee Pidoana wae nya bi mugi diistiqomahkeun ngajaga separuh cahaya nu tos dipasih” jawab aku sambil senyum memandangi bi Emun yang melayani mahasiswi yang datang terlebih dahulu selain aku.
(Oh iya sudah bi heee Doanya saja yah Bi semoga bisa diistiqomahkan dalam menjaga separuh cahaya ini)
“Oh nya muhun neng ku bibi di doakeun. Ngan bibi ngaemutan ka eneng, ngajaga separuh cahaya teu mudah eneng. Seueur ujian sareng cobaana eneng” Bibi yang memberikan nasi kuning dan aku sambil memberikan selembar uang 10ribuan.
(Oh pasti dek sama bibi di doakan. Cuman bibi mengingatkan ke adek bahwa menjaga separuh cahaya itu tidak mudah. Banyak ujian dan cobaan)
“Nya muhun bi hatur nuhun”
(Iyah bi terimakasih)
“Muhun sowangsulna”
(Iyah kembali kasih)

Aku langsung kembali ke kosan untuk sarapan pagi. Tapi ucapan bi Emun yang mengatakan bahwa menjaga separuh cahaya itu tidak mudah dan banyak cobaan, aku masih tak paham. Selama ini meskipun harus aku bawa-bawa kemana pun itu,aku tidak pernah merasa kerepotan. Lalu ujiannya dari mana? Mungkin baru beberapa hari aku menjaganya dan aku belum merasakan ujian serta cobaan yang dimaksud bi Emun. Lagian kan bi Emun tentu sudah berpengalaman dalam hal cinta. Meskipun dia janda karena suaminya yang meninggal karena kecelakaan saat berbelanja di pasar, bi Emun tetap tidak ingin menikah lagi. Kendatipun usianya yang sudah menginjak kepala 4, bi Emun masih terlihat cantik menurutku. Tapi tiap kali aku bertanya kenapa tidak menikah lagi? Dengan sederhananya bi Emun mengatakan

“Bibi mah tos janji ka almarhum bapak neng, bibi rek setia dugi kana maot ngajemput bibi”
(Bibi sudah janji ke bapak dek bahwa bibi bakalan setia sampai maut menjemput bibi)

Dan menjelang kematian si bapak (almarhum suaminya bi Emun), bi Emun diberikan cahaya yang penuh dan tidak separuh seperti yang dia berikan ke aku. Setidaknya dengan pengalaman bi Emun dalam menjaga cahaya yang diberikan oleh suaminya, kelak suatu saat nanti aku membutuhkan nasihatnya.
Ya sudah aku sarapan dulu yah sebelum berangkat ke kampus. Selamat makan.

Sesampai di kampus, aku melihat banyak mahasiswa lain yang mengerumui papan pengumuman. Aku mencari-cari Risna dan Elen melalu tatapan diantara kerumuman mahasiswa tersebut. Tapi aku tak menemukannya. Mereka tidak mungkin sudah masuk ke kelas. Biasanya kami akan berkumpul dahulu di kantin meskipun cuman sekadar pesen The Manis anget. Biasalah kami para perempuan bercerita tentang apa yang jadi perbincangan di kampus. Soal ini, Risna lah sumbernya.

“Nanaaaaaa” suara teriakan terdengar.

Tapi aku tidak menemukan siapa yang meneriakan namaku. Namun suaranya seperti Risna.

“Nanaaaaa sini deket Gazebo”

Aku melihat Risna yang teriak-teriak sambil memberi isyarat tangan aku untuk menghampirinya. Aku pun berjalanmenghampiri mereka.

“Tumben kau telat dari biasanya” tanya Elen.

“Aku sarapan dulu di kosan. Kangen masakan bi Emun hee sudah seminggu tidak beli Nasi Wuduk di beliau” jawab simple aku

“Eh tahu ngga?” sahut Risna

“Ada gossip apa lagi Risnaku?” aku bertanya sambil mengelus kepalnya layaknya ibu kepada anaknya.

“Ih kau ini..ini bukan tentang gossip”

“Lalu apaan?”

“Kertasnya mana Len?” Rista meminta kepada Elen dan Elen mencari di dalam tasnya.

“Ini nih Ris” Elen memberikan kepada Risna.

“Tadi kau lihat kan papan pengumuman yang banya dikerumuni mahasiswa? Nah ini beritanya! Coba kau baca!” Elen menyodorkanku selembar kertas pengumuman

INFO MAHASISWA!

TELAH DIBUKA PENDAFTARAN BEASISWA S2 DARI ALUMI KAMPUS ORGANISASI PENA KAMPUS UNTUK MAHASISWA TINGKAT PERTAMA DAN KEDUA. BEASISWA INI DIBERIKAN DENGAN SYARAT UTAMANYA MEMBUAT SEBUAH BUKU FIKSI DAN NONFIKSI DALAM WAKTU SATU TAHUN. KEDUA BUKU TERSEBUT HARUS DITERBITKAN DENGAN PERSYARATAN SEBAGAI BERIKUT :

1. Proses pembuatan buku HARUS DAN WAJIB suami/isteri (bagi yang sudah menikah) dan dengan pasangan atau teman dekat (harus berbeda status kelamin)

2. Buku fiksi lebih diutamakan buku novel dengan minimal jumlah halaman 450 halaman.

3. Buku yang diterbitkan TIDAK BOLEH atas dana pribadi melainkan harus lolos seleksi sendiri kepada penerbit.

4. Buku nonfiksi lebih diutamakan bertemakan sesuai dengan jurusan dan program masing-masing.

5. Apabila pasangannya ternyata belum menikah, jika lolos akan ada jaminan GRATIS dinikahkan dengan jaminan Resepsi, Bulan madu di Bali dan Catering untuk 1000 undangan.

6. Selambat-lambatnya pendaftaran 1 bulan setelah pengumuman ini.

7. Hanya 3 pasangan yang akan lolos.

8. IPK terakhir minimal 3,0

SEGERA DAFTARKAN DIRIMU DAN PASANGANMU!

Ttd.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa

Arif Priyanto

“Pokoknya kau harus iku Nana!” Risna sambil memegang kedua pundakku sambil berkobar semangatnya.

“Kau jago nulis, cerpen dan puisi-puisimu banyak dimuat di Koran, IPKmu malah terakhir 3,40 kan? Ayo apalagi!. Ini kesempatanmu untuk raih S2!” Elen menambahkan.

“Tapi…”

“Sudahlah jangan banyak tapi..sekarang kita masuk ke kelas dulu yuk..5 menit lagi juga masuk” Risna menarik tanganku dan Elen yang membututi dari belakang.

Di lain hal, aku senang karena sahabat-sahabatku begitu berharap kepadaku. Mereka juga yakin akan kemampuanku. Memang aku hobi nulis apalagi soal fiksi. Kurang lebih ada 6 cerpenku yang dimuat di Koran dan hampir 17 puisiku juga dimuat di surat kabar harian meskipun local. Sebenarnya bukan karena aku ingin berkarya tapi aku juga ingin dapat tambahan dana buat meringankan beban orang tua. Setiap cerpenku yang dimuat, aku dapat imbalan 500ribu dan 200ribu untuk puisi dari penerbit. Tapi tidak semudah itu masalahnya lolos. Sebenarnya aku sudah mengirim kurang lebih 50 cerpen dan 70an puisi. Tapi hanya 6 dan 17 puisi yang lolos.

Sudah 3 bulan ini aku sudah tidak lagi mengirim kepada penerbit. Bukan karena aku sudah tidak lagi membutuhkan uang, tapi sejak “Dia” sudah pergi, aku jadi tidak ada lagi semangat dalam berkarya. Dia inspiraku. Dia pelipur laraku jika aku malas membuat cerpen atau puisi. Bahkan pernah dia mengirim kepada penerbit puisinya, tapi mengatasnamakan aku. Dan ternyata puisi itu lolos dan malah diterbitkan di 3 koran local. Itulah puisinya yang berjudul :

“DIANA DI BULAN NOVEMBER”

Jika malam berlawanan dengan siang
Tinggi dengan rendah
Hitam dengan putih
Maka aku harus menerima jika..

Setelah pertemuan akan ada perpisahan
Setelah kebahagiaan akan ada kesedihan
Setelah canda tawa akan ada air mata
Setelah sapa temu akan ada rasa rindu

Jika cinta bebas diartikan kemana saja
Menurut logika
Menurut hati nurani
Menurut orang bodoh
Menurut pepatah lawas
Maka aku harus rela menerima jika

Logikaku berkata "Dia lebih baik tanpamu"
Hati nuraniku bilang "Akan ada orang yang lebih membahagiakannya"
Orang bodoh pun berbisik "Kau tak pantas untuknya!"
Pepatah lawas berdeklarasi "Cinta tak harus memiliki"

Kukira
Aku lebih baik mencintaimu dalam doa
Dan apakah kau masih mengingat semua?
Tentang apa?
Ini yang pernah hinggap diantara kita

Hey, kau pikir daun yang jatuh bukan kehendak Allah?
Apalagi kita~ Diana

Kalau kamu sakit, gimana caranya aku juga harus sakit~Diana

Aku tidak pernah ingin merebutmu dari orang tuamu. Biarlah sekarang giliranku menjaga, membahagiakanmu dan mengalihkan tanggungan atas dosamu. Itu saja~Diana

Silahkan mengenal banyak cinta. Asal satu syaratnya. Nikahnya hanya dengan aku~Diana

Percayalah. Kebohongan terbesar dalam hidupku adalah berkata "Tinggalkan Aku atau Aku akan meninggalkanmu" ~Diana

Jangan nangis. Nanti tuhan marah ciptaan terindahNya tak aku bahagiakan ~Diana

Kamu demes, bawel, kalau cerita tak langsung pada intinya.. Tapi aku sayang ~ Diana

Caraku membahagaikanmu mungkin terlihat konyol, bodoh, murahan bahkan biasa saja. Tapi itu tulus ~Diana

Itulah puisinya. November adalah bulan pertama kali kumengenalnya. Secara materi karena puisinya, aku mendapatkan kurang lebih 1juta. Dia sudah tahu bahwa aku memang dari keluarga yang sederhana. Ayahku yang sekadar jualan bubur, dan ibuku sekadar pengisi ceramah pengajian-pengajian di kampungku. Aku anak pertama dari 2 bersaudara dan adikku yang masih SMP. Entah kenapa sejak mengenalnya, cuman dia orang yang pertama dekat dengan aku dimana aku berani menceritakan kehidupanku.

Bagaimanapun juga, ini kesempatan untukku bisa S2! Ini mimpiku saat aku menunda kuliahku dulu. Jika aku menunda 2 tahun, maka aku setelah lulus S1 harus bisa langsung ke S2 dan inilah jalannya.

Tapi….ah sudahlah sepertinya sebentar lagi perkuliahan akan segera dimulai. Aku kuliah dulu yah? Sekarang mata kuliah dari Prof. David hee

__

Waktu selesai perkuliahan untuk hari ini sudah tiba. Mahasiswa yang lain pun bergegas merapikan buku dan tasnya untuk bersiap-siap pulang atau barangkali ada kegiatan lain. Sedangkan Aku, Elen dan Risna setelah pulang kuliah memang kami tidak akan berkumpul seperti biasanya. Entah itu di organisasi maupun di kampus. Risna yang ijin ada urusan keluarga dan pergi ke Pandeglang. Elen yang ada janji sama pacarnya. Dan aku? Sepertinya akan dihamtam kegalauan soal pendaftaran beasiswa S2 tadi!

“Aku ijin duluan yah Na, Len..udah dijemput sama ayahku di depan” Risna pamit

“Iyah salam buat keluarga yah Ris” sahut aku

“Jangan lupa oleh-olehnya sayang heee” Elen berlagak memohon

“Ah kamu ini kan kamu yang mau jalan sama pacarmu huhuhu..ya udah kasian ayahku sudah nunggu di depan..Asalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

.Risna pergi duluan meninggalkan kelas.

“Kamu sendiri sekarang mau kemana Na?” tanya Elen.

Aku hanya menagkat pundakku sebagai jawaban tidak tahu.

“Lebih baik kau pulang ke kosan, lalu shalat 2 rakaat soal pendaftaran beasiswa itu. Ini kesempatan buatmu. Pokoknya kamu harus ikut. Aku ijin duluan yah kasian nih pacarku sudah bawel di sms hee”

“Iyah siap bawel. Hati-hati”

“Asalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

Dan aku memutuskan memang untuk pulang ke kosan sesuai dengan rencana awalku.

“Ya tuhan jika ini yang terbaik, berilah aku kemudahan dan jalan untuk mencapai itu. Segala kesusahan dan halangan akan terasa mudah jika ada perlonganMu. Aamiin” doaku dalam shalat 2 rakaatku sesampai di kosan.

Suara bunyi telpon dari HPku terdengar.

“Halo”

“Benarkah ini dengan Diana?”

“Iyah benar ini dengan siapa?”

“Masih ingat dengan lelaki yang berinisial B?”

“Siapa yah?”

“Ada waktu? Sore ini jam 4 aku tunggu di taman. Waalaikumsalam”

Dan telpon itu mati.

Siapa itu? Lelaki yang berinisial B? Apa jangan-jangan di BURHAN? Lelaki yang telah meninggalkan aku tanpa kejelasan dan hilang entah kemana. Apa jangan-jangan itu ? Ah mana mungkin. Aku mendengar kabar terakhir kalinya soal dia bahwa dia sudah mempunyai tunangan. Jika memang itu dia, mungkin dia datang ingin meminta maaf dan mengundangku ke pernikahannya. Tapi masa iyah harus berdua di taman?

Jarum jam pun sudah menunjukkan pukul 4. Sepertinya kali ini aku tidak akan membawa separuh cahaya itu. Aku tidak ingin jika ternyata itu Burhan, dia malah merusaknya! Masih berani ternyat dia bertemu denganku setelah pergi tanpa alasan dan tiba-tiba terdengar kabar dia sudah tunangan. Aku putuskan untuk tidak membawa separuh cahaya ini. Hatiku sudah ku jaga untuk dia.

Aku pun berjalan menuju taman. Taman dimana aku terkhir kali bertemu dengan dia si pemberi separuh cahaya itu. Sesampai di taman, sial! Tepat perkiraanku ternya dia adalah BURHAN!

“Hay” sapanya

“Kamu? Ada apa?” aku bermuka kaget

“Duduk saja dulu” tawarnya

“Aku ngga punya waktu banyak..ada apa to the point saja!”

“Duduklah Diana..aku tidak akan melukaimu..percayalah..duduklah terlebih dahulu”

Aku pun menuruti kemauannya.

Setelah aku duduk, hampir 5 menit kami hanya berdiam. Burhan terdiam sejenak.

“Kamu mengajakku kesini hanya untuk menemanimu berdiam diri seperti itu?” tanyaku

Tiba-tiba Burhan menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

“Jangan seperti itu. Aku ngga suka”

“Diana?” Burhan merintih

“Iya ada apa..cepetan aku tidak punya waktu lama”

“A…ku” Burhan terbata-bata

“Bisa to the point kan?”

“Aku ingin minta maaf kepadamu” dia tia-tiba menangis

“Aku sudah memaafkanmu sejak dulu” aku menjawab pelan

“Terimakasih..kamu memang baik sejak dulu”

“Ya sudah aku pulang yah kan cuman mau minta maaf” pintaku ketus.

“Satu lagi Diana…” pinta Burhan yang tetap menangis dan aku coba tak peduli air matanya.

Dia kembali menatapku dengan lama.

“Sudah kubilang aku tidak suka kamu seperti itu!” aku menghindari tatapannya.

“Aku ingin kamu kembali Diana. Aku minta maaf dulu sebelum ada kejelasan antara kita berdua. Saat itu aku pergi meninggalkanmu bukan benar-benar pergi. Aku hanya terlepas darimu saja Diana. Aku khilaf. Aku khilaf” Burhan menjelaskan

“Kau tak salah berkata demikian? Dunia tidak segampang itu. Kamu pergi dan sekarang meinta kembali? Setelah aku terlukaseparah ini dahulu? Gampang yah kamu ngomong!

“Silahkan kamu marah kepadaku Diana..silahkan” Burhan masih terbata-bata menangis.

Tiba-tiba dia merogoh celana dan mengeluarkan sesuatu.

“Kau lihat ini? Ini adalah cincin pernikahanku yang telah dipersiapkan kedua orang tuaku. Aku diminta untuk menikahi Sherin dalam waktu kurang lebih 3 bulan lagi..Tapi tiba-tiba aku teringat denganmu..aku tidak mencintai Sherin..Aku bisa membatalkan pernikahanku…aku hanya ingin denganmu Diana..” Burhan sambil memperlihatkan sepasang cincin.

“Jadi kau? Maaf Burhan..hatiku sudah ada yang memiliki”

“Siapa? Elen bilang..” dia menghentikan bicara tiba-tiba

“Elen? Elen bilang apa?” Aku kaget.

“Kamu jangan marah ke Elen. Tadi di jalan, aku bertemu dia dengan pacarnya. Aku temui Elen untuk menanyakan kabar kepadamu. Aku memaksa agar minta nomor teleponmu. Dia memberikannya karena aku sempat menangis atas kerinduanku denganmu. Dia bercerita bahwa sekarang kau sedang resah untuk daftar beasiswa tapi harus dengan pasanganmu..aku siap Diana..aku siap..aku siap” Burhan tiba-tiba bersemangat meski air matanya tetap mengalir.

Aku hanya terdiam.

“Jangan diam Diana.jawab..apakah kau mau?” Burhan bertanya

..

Aku tetap terdiam.

“Diana jawab..”Burhan memohon

“Antarkan aku pulang ke kosanku tapi setelah itu kamu pulang lagi” Aku meminta

“Dianaaa..”

Antarkan aku pulang!” Aku menangis

“Baiklah..mobilku ada di depan..gapapa jalan dulu ke depan”

“Ngga usah..jalan kaki saja..” pintaku

“Iyah Diana”

“Satu lagi” pintaku

“Apa Diana?”

“Selama di jalan, kau tidak boleh berucap satu kata pun”

“Apapun yang kau mau, aku akan turuti”

“Dan kau berjalan di belakangku jangan disampingku”

“Iyah Diana”

Aku langsung berdiri dan berjalan meuju ke kosanku. Burhan menuruti apa yang aku maui. Dia berjalan di belakangku. Aku tidak pernah menyangka orang yang dulu aku harapkan kejelasannya dan tiba-tiba menghilang, kini datang dengan kejelasan dan ingin menikahiku. Dia sedang berjalan di belakangku. Bagaimana pun Burhan, aku pernah bahagia dengannya! Tapi itu dahulu sebelum aku mengenal si dia sang pemberi separuh cahaya itu. Bagaimana jika sekarang?

“Sampai disini saja..makasih sudah mengantar. Kau pulang saja” aku meminta Burhan cukup engantarku sampai di gang kosanku saja.

“Baik Diana..tadi nomorku..malam ini, aku minta jawabanmu Diana. Bukan aku tak sabar..Aku hanya yakin kaulah istriku..Asalamualaikum” Burhan pamit.

“Waalaikumsalam”

Aku langsung masuk ke kosanku. Ingin segera aku berdoa kepada tuhan dan meminta petujukNya.

Situasi yang sulit bagiku. Di lain sisi, aku ingin menjaga hatiku untuk dia yang telah memberikan separuh cahayanya untukku meskipun entah kapan dia akan kembali. Di lain sisi pula, aku ingin mendaftar beasiswa untuk S2 namun aku harus berpasangan dengan siapa. Satu-satunya jalan adalah dengan meminta Burhan untuk menjadi pasanganku terlebih dahulu. Tapi tidak untuk menikah, hanya sebagai kekasih saja. untuk satu tahun. Namun Burhan ingin menikah. Tapi bagaimana dengan Si Dia si pemberi cahaya itu? Apalagi sebelum ebrangkat ke taman aku mendapat sms dari Risna bahwa saat hari pertama di buka, sudah ada 50 pasangan yang mendaftar. 10pasangan diantaranya yang sudah menikah. Bahkan 3 pasangan masih status temen deket alias masih PDKT. Mengingat ada wawanca terlebih dahulu, tetntu aku tidak bisa memanipulasi perihal status hubunganku dengan Burhan.

Antara menjaga perasaan untuk si Dia dan memilih kesempatan beasiswa dengan catatan aku menjalin hubungan kembali dengan Burhan. Bolehkah aku meilih untuk menjalin hubungan dengan Burhan kembali? Hanya demi untuk menggapai cita-citaku.

Aku langsung memutuskan untuk berhubungan kembali dengan Burhan tapi bukan untuk menikah melainkan menjadi seorang teman dekat lagi. Maafkan aku si pemberi cahaya, aku akan berusaha perasaan ini untukmu tapi kau harus mengerti bahwa ini demi masa depanku juga. Andai nomormu bisa aku hubungi, mungkin aku akan menghubungimu.. Tapi aku janji ini hanyalah demi masa depanku!

..

Setelah aku menjelaskan via sms, Burhan akhirnya mau. Dia akan membatalkanpernikahannya dan ingin menemaniku untuk menggapai S2 itu.

Tapi sayangnya, setelah aku memutuskan untuk kembali dengan Burhan, tiba-tiba separuh cahaya itu rusak. Tidak terlalu parah memang. Namun seperempatnya agak meredup kegelap-gelapan. Ya tuhan! Padahal aku tidak membawanya dan separuh cahaya itu aku taruh baik-baik di meja belajarku.

Setelah shalat Isya, aku memutuskan untuk tidur agar aku bisa sedikit tenang tidak resah karena separuh cahaya itu rusak. Pasti akan benar kembali seperti sedia kala. Dan esok Burhan mengajakku untuk langsung mendaftarkan diri program beasiswa itu. Selamat malam dan beristirahat.

Esok pun telah tiba. Matahari sudah kembali dari tempat persembunyiannya. Burhan meminta ijin datangnya ke kampusku jam 1 karena pagi dia harus kerja terlebih dahulu.

..

“Maafkan aku Diana..Aku kasian kepada Burhan yang menangis dan meminta nomor Hpmu” Elen meminta maaf. Seperti biasa kami sebelum masuk kampus kumpul terlebih dahulu di kantin.

“Aku ngga apa-apa Len..justru aku berterimakasih kepadamu” jawab pelan dariku.

“Hah maksud kamu?”

Aku pun menjelaskan keputusanku dengan Burhan kepada Risna dan Elen. Mereka tidak berpendapat apa-apa. Mereka hanya mendukung apa kata hati aku dan mendokan yang terbaik buat aku.

..

Aku mendukung apapun yang kamu lakukan. Aku tidak bisa menilai Burhan dan si Pemberi cahaya itu bagaimana..kamu yang kenal mereka Diana..aku yakin keputusanmu yang terbaik” Rista menambahkan

“Aku juga Diana” Elen meyetujui dan mereka memelukku.

Saat jam 1 tiba, aku dan Burhan mendaftar diri untuk ikut beasiswa. Jelas kami berkata sejujurnya soal status antara aku dan Burhan. Kami tidak bisa memanipulasinya. Hanya pasangan yang belum menikah saja yang diwawancarai. Sedangkan yang sudah menikah ternyata cukup membawa bukti surat nikah saja. Ada juga pasangan yang ternyata memanipulasi. Sebenarnya mereka hanya berteman biasa dan tidak ada hubungan apa-apa. Tapi karena yang mewancarainya juga ternyata ahli dari Psikolog, akhirnya mereka dicoret dan tidak bisa mengikuti pendaftaran. Namun alhamdulilah aku dan Burhan lolos pendaftaran. Aku menjawab berbagai macam pertanyaan, pun dengan Burhan. Ternyata kami mendapatkan no urut 126.

“Aku ijin pulang terlebih dahulu yah soalnya aku ada keperluan lain. Sebenarnya waktu pagi aku tidak bisa datang ke kampus untuk mendaftar, bukan karena aku kerja tapi karena ada kumpulan keluarga untuk membatalkan pernikahanku dengan Sherin. Kau tak perlu khawatir dan tak usah takut. Aku tak akan memaksamu untuk menikah denganku. Anggap saja ini sebagai penebus atas kesalahanku. Oh ya kau mau kuantar pulang?” pinta Burhan.

“Tidak usah..terimakasih” jawab simple dariku.

“Ya sudah aku pamit..Asalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

Aku tidak terlalu berharap apa-apa soal Burhan yang membatalkan keputusannya menikah dengan Sherin. Aku yakin dia lelaki yang tegas akan keputusannya. Dan aku tidak ingin diantar pulang karena tidak ingin terlalu merepotkannya. Elen dan Risna sudah pulang terlebih dahulu saat jam 10. Toh perkuliahan hanya sampai jam 10 dari jam 7. Mereka kuminta pulang karena takut aku merasa mereka bosan karena menunggu aku. Mereka berfikir juga sudah ada Burhan dan mereka mendokan yang terbaik buat aku.

Seperti biasa, aku pulang dengan jalan kaki. Jarum jam tepatnya sudah menunjukkan pukul 5. Masih ada waktu untukku shalat ashar di kosan.

Sesampainya di kosan, sialan! Ternyata aku lupa menutup pintu kosanku Setelah aku masuk, ternyata separuh cahaya yang kutaruh di atas meja, telah rusak perah pecah berkeping-keping dan memberantakan kamarku. Aku sengaja tidak membawanya karena takut Burhan tahu dan membatalkan niatnya. Kenapa ini? Aku kaget bukan main. Apa ada yang masuk ke dalam kosanku dan mengacak-ngacak kamarku?

Aku bertanya kepada kamar sebelah bahwa memang tadi sekitar jam 3 ada lelaki yang masuk. Dia lelaki yang sering dilihatnya sering berkunjung ke kosanku. Makannya dia tidak curiga toh lelaki itu yang sering datang berkunjung ke kosanku. Apa benar lelaki itu adalah dia yang memberikan separuh cahaya itu? Ada sepucuk surat di balik pintu saat ku mencoba membereskan kamarku.

UNTUKMU DIANAKU.

MAAFKAN AKU YANG TAK IZIN MEMASUKI KAMARKU. SEKITAR JAM 3 AKU TADI KESINI UNTUK MEMBERI SURPRISE UNTUKMU KARENA AKU TELAH BERHASIL MEMBAWA SISA SEPARUH CAHAYA YANG AKU JANJIKAN. AKU KECEWA DAN TERLUKA MELIHAT SEPARUH CAHAYA INI TELAH RUSAK. DAN SETELAH KUSELIDIKI, TERNYATA KAU SENDIRILAH YANG MERUSAKNYA DIANA. SAKIT BUKAN KEPALANG RASANYA HATIKU. PADAHAL HANYA DALAM WAKTU 4 BULAN AKU PERGI. ITU PUN AKU PERGI DEMI KAMU JUGA KAN DIANA? TAPI TERNYATA KAU TAK SANGGU. KAU LEBIH MEMILIH MASA DEPANMU DENGAN BERFIKIR LOGIKAMU BUKAN HATIMU. AKU PERGI YAH? ANGGAP SAJA PERHATIAN-PERHATIANKU KEMARIN SEBAGAI KADO PERKENALAN KITA. TAK USAH MENCARIKU. AKU SUDAH PINDAH TEMPAT TINGGAL DAN BAGAIMANA PUN JUGA KAU TAK AKAN LAGI MENEMUI AKU. DARIKU-MANTAN LELAKIMU

Ya tuhan maafkan kesalahan hambaMu ini. Aku hanya memikirkan masa depanku dengan logikaku saja tanpa memikirkan ada hati lain yang kujaga. Pikiranku masih sempit yang hanya menganggap bahwa satu-satunya cara adalah dengan cara beasiswa. Padahal tentu masih banyak cara yang lain. Tak terasa rasa penyasalan yang luar biasa datang kepadaku.

Malamnya, aku langsung pergi ke rumah bi Emun. Aku ingin mendapatkan nasihatnya. Bi Emun cuman menasihati.

“Neng, janten jalmi kedah panceug kana hiji hate. Lalaki hanya hoyong sareng istri nu sami-sami berjuang sareng anjeuna neng. Tos ayeunama saur bibi eneng kedah narimakaeun. Mugi sing aya pelajarana.

Maafkan aku lelakiku.