Cerita indah yang telah kita bangun dan diharapkan dapat berlabuh pada dermaga suci penuh kebahagiaan agaknya harus terhenti sebelum sampai di tempat yang diharapkan. Goyahnya perahu yang kita tumpangi untuk sampai di sana menjadi salah satu alasan kuat untuk kita berhenti.

Retakan yang harusnya ditambal sedari awal kita berangkat membesar saat sampai di tengah jalan. Menuding kesalahan ini hanya padamu atau padaku bukan suatu hal yang dianggap benar, karena kesalahan ini pada kenyataannya adalah milik kita.

Ribuan kilometer jarak yang pernah menjadi saksi bisu perjuangan itu kiranya harus membisu untuk beberapa waktu ke depan atau mungkin selamanya. Serta, puluhan ribu detik waktu yang kita lewati juga harus dipaksa ikut berkorban berhenti menceritakan perjalanan itu.

Tapi dari sekian hal yang harus dipaksa berhenti ada satu yang akan selalu terjaga meskipun “kita” tidak akan pernah ada, yaitu membawa namamu dalam setiap akhir lima waktuku. Karena aku tak mungkin dengan mudah menghapus apa yang telah menjadi kebiasaan itu.

Kemarin aku memang jatuh hati pada kesempurnaan cinta yang kau berikan dan pada ketulusan yang selalu kau jaga. Tapi ternyata semua itu bukan merupakan jaminan untukku bertahan. Debar yang selalu aku perjuangkan melebur sedikit demi sedikit dengan keegoisan yang menyelinap masuk tanpa permisi terlebih dahulu. Berulang kali aku mempertahankan tapi apalah dayaku.

Advertisement

Satu kali membuat kesalahan tak apa, dua kali dimaafkan tapi jika terulang untuk ke tiga dan keempat kalinya itu kecerobohan.

Maafkan aku jika menurutmu kesalahan terbesar ada padaku. Karena sekarang keputusan paling baik adalah berhenti terlebih dahulu. Menyelamatkan apa yang telah ada dan memperbaikinya. Maafkan aku jika kali ini “pamit” harus terucap dari bibir ini, tapi jika nanti di persimpangan kita dipertemukan kembali kuharap kau bukan seperti dirimu di masa lalu yang menjadi alasanku untuk “pamit”.