Percayalah padaku, aku tidak pernah ingin melihatmu sedih apalagi sampai menangis. Serupa kau, akupun tidak tahu mengapa akhirnya aku ingin menyudahi semua yang selama ini kita perjuangkan. Aku membuat semua sia-sia, menghancurkan harapanku sendiri mengenai kita yang kukira akan terus bertahan tanpa pernah ingin pergi. Aku takut semua ini malah menghancurkan semua mimpi, sebab aku merasa, kita kita hanya dua orang yang saling menyakiti.

Aku berharap kau mau melupakan semua pulang-pulang kita yang pernah terjadi, kau mau melupakan semua jalan-jalan yang pernah kita lalui yang mungkin membawa kita pulang ke hari-hari lalu. Mungkin benar, akan terasa berat memulai semua hal baru dengan mengesampingkan masa lalu. Namun aku ingin kau menyadari, untuk apa mempertahankan sesuatu yang hanya melukai dirimu sendiri?

Kau harus ingat, bahwa orang yang begitu kita cinta adalah orang yang paling mungkin membuat kita terluka. Dan juga, orang yang begitu kita pedulikan justru adalah orang yang paling rentan meninggalkan. Dan bukankah aku membuktikan hal itu padamu?

Kau mungkin akan benar-benar kehilanganku. Maafkan aku atas itu, juga keras kepalaku yang memaksamu merelakan kepergianku.

Atas nama langit dan bumi, kau memang harus merelakanku. Aku tidak memaksamu melupakanku. Melupakan berarti berusaha menghapus kenangan, sedangkan merelakan berarti belajar melepaskan. Dan kenangan tidak mungkin bisa dihapus, sayang. Yang perlu kamu lakukan adalah merelakannya, menutup rapat pintu itu. Belajarlah berhenti menoleh ke belakang dan tataplah apa yang ada di depanmu.

Advertisement

Relakan aku yang tak ingin lagi menjadi apa-apa dari dirimu. Aku ingin menjadi kenangan yang kau kenang, tapi tidak sebagai sedih dan pedih. Aku pernah begitu mencintaimu, sebelum menyadari bahwa kau memang diciptakan hanya sebagai masa lalu untukku.

Percayalah, akupun telah berusaha sepenuh hati dan bertahan sekuat tenaga untuk mempertahankan semua yang telah kita miliki. Selama ini akupun merangkak, tertatih mencoba untuk tidak melepaskan, kupertahankan engkau. Aku telah memberikan sepenuh jiwa dan seluruh hidupku, namun akhirnya, aku tak mengerti mengapa yang terjadi adalah kita sama-sama merasa berjuang sendirian?

Bukan inginku untuk menjadikan semua yang pernah kita jaga menjadi sia-sia. Seandainya pergiku tak membuat aku kembali, aku titipkan banyak mimpi yang sudah kutata rapi. Aku tahu, semua yang pernah terjadi di antara kita memang tak akan mudah dilupakan, namun kita hanya harus menerima kenyataan.

Semoga kelak, kau bertemu dengan seseorang yang tidak pernah dengan tega pergi dan melukaimu seperti yang saat ini aku lakukan.

Aku pernah menempatkanmu menjadi orang yang paling penting dalam hidupku, menjadi orang yang sungguh-sungguh aku cintai. Aku pernah menjadikanmu rumah untuk semua pulangku. Namun, kau harus menghadapi kenyataan bahwa aku bukanlah yang terbaik untukmu meski aku sudah berusaha sekuat-kuatnya, aku dan dengan susah payah usahaku.

Biarkan aku pergi, melangkah semakin jauh. Jangan biarkan aku membunuhmu seutuhnya. Hidup kita berdua harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Maafkan aku yang mungkin membuatmu mengira, aku sengaja membuat hatimu tak baik dan melukaimu dengan kesungguhanku. Padahal, akupun tak pernah menduga, mampu membuat semuanya semenyedihkan ini.

Akupun ragu untuk kuat berdiri sendiri. Mungkin saja kau akan tetap di hatiku, sampai nanti. Memiliki tempat istimewa di sana. Tidak mungkin aku lupakan kau, seseorang yang terus memperjuangkan kita. Bagaimanapun caranya.

Doakan aku semoga selalu baik-baik saja. Kelak, kepergian dan luka yang aku bekaskan mampu mengajarimu beberapa hal. Apa yang selalu kau perjuangkan, jika memang tidak ditakdirkan untukmu, semua akan menguap menjadi abu dan begitu saja berlalu. Aku tak akan bosan mengingatkanmu perihal aku yang pernah teramat mencintaimu.

Terima kasihku untukmu, lelaki yang selalu memperjuangkan aku, memperjuangkan mimpi-mimpi yang telah kita sepakati. Ingat aku sebagai perempuan yang pernah bersedia dengan suka rela menjadi rumah untuk segala pulang lelah dan resahmu.

Aku pernah meyakinkanmu, bahwa aku pernah bertahan sekuat-kuatnya. Saat aku pun yang memilih pergi, aku merasa warasku juga ikut terbawa lari. Mungkin, paksaanku untuk kau merelakanku adalah hal terburuk yang pernah aku mohonkan padamu. Tapi sungguh, kau harus pahami bahwa hidup tidak jauh dari perkara merelakan.

Kita sama-sama mempunyai hidup yang tak mungkin dihabiskan hanya dengan kesedihan dan meratapi luka. Aku dengan lapang hati, menginginkan kau suatu saat menyadari bahwa aku memang bukan orang yang layak kau pertahankan. Bahwa aku pantas untuk kau lupakan dan bukan orang yang penting lagi dalam hati. Bahwa aku tidak akan lagi menjadi sesuatu yang menarik untuk ditunggu atau menyenangkan untuk kau rindu.

Jangan pernah berpikir bahwa aku merasa bahagia meninggalkanmu seperti ini, meski kau tahu, aku memang tak lagi bisa bersamamu, merealisasikan rencana-rencana yang pernah kita buat. Aku juga manusia, yang lemah dalam perihal melupakan.

Aku hanya ingin kau memastikan dan menjadikan aku hanya sebatas kenangan yang telah mati. Jangan kau berikan aku tempat lagi didalam diri apalagi didalam hatimu. Aku juga akan berjuang menghapus semua kisah yang telah kita lalui bersama. Semoga sedih yang kuberi tidak mematahkan apapun selain hatimu. Aku ingin kau meraih cita-citamu, meski bukan aku lagi yang menemanimu dan bukan lagi aku yang ada di sampingmu.

Kau begitu hebat ketika aku cintai, juga aku berharap kau jauh lebih hebat tanpa ada aku. Aku yakin, kau bisa mencintai dirimu sedalam kau mencintai aku. Kau bisa perjuangkan hidupmu sekeras kau memperjuangkan aku. Yakinlah bahwa dirimu jauh lebih penting dan berharga daripada kesakitan dan segala luka yang saat ini aku tinggalkan.

Kelak, tak ada lagi hal yang menjadi alasan kau untuk tetap menunggu dan mempertahankanku. Sebab kau akan mengerti, kepergianku adalah bentuk ketidakinginanku membiarkan dirimu terus saja dibuat luka.

Relakanlah semuanya berakhir, ikhlaskanlah aku pergi. Aku tak memiliki daya apa-apa lagi untuk tetap berjuang dan mempertahankan kita. Aku tak mampu lagi berusaha menjadi yang kau inginkan. Meski akupun tak tahu, kemana aku harus pergi. Namun sebaiknya aku memang tak memaksakan semuanya disini.

Meski kau mengira aku menemukan pelukan lain selain pelukanmu, meski kau mengira aku jatuh cinta pada seseorang lain yang berhasil merebutku darimu, meski kau terus menyalahkan hal yang sebenarnya tidak terjadi. Kau dan egomu juga kubiarkan mengerti, bahwa mungkin aku yang datang sebagai penyembuh akhirnya pergi sebagai pembunuh.

Tak ada seseorang lain yang kau sebut sebagai perebut.

Kepergianku hanya perihal lelah yang kau biarkan selama bertahun-tahun.