Aku wanita dan kamu wanita.

Aku menyadari posisiku dan posisimu. Maafkan, aku yang mencintai kekasihmu ketika aku tahu dia masih bersamamu. Tapi, tak perlu takut padaku, aku tak kan merebut dia darimu. Aku cukup memandangi kekasihmu dari jauh saja.

Jika kau tanya kapan aku mempunyai perasaan ini? Perasaan itu datang tiba-tiba ketika aku dalam keadaan terpuruk. Kekasihmu, bagaikan oase bagiku. Tapi, aku tak berniat memilikinya karena, aku tahu ada kamu dalam dunia kecilnya.

Aku tidak ingin berbahagia ketika kamu menangis. Sebut saja aku munafik tapi, sungguh aku tidak ingin memiliki kekasihmu. Hubungan kalian telah lama terjalin dan aku tidak ingin masuk ke dalam lingkaran itu. Karena, aku tahu rasanya di khianati. Aku pun tidak ingin berdoa agar kalian cepat berakhir.

Cukup kau tahu bahwa aku mencintai kekasihmu. Aku tidak ingin menghadirkan kesedihan dalam hubunganmu. Dan aku tidak ingin merasa menang yang sebenarnya kalah ketika aku mendapatkan kekasihmu.

Advertisement

Aku wanita dan kamu wanita. Aku berpikir bagaimana jika aku di posisimu dan seorang wanita mengganggu suatu hubungan? Rasa itu pasti sakit. Dan aku tak ingin menyakitimu. Karena aku wanita dan kamu juga.

Aku tidak ingin menggoda kekasihmu karena, itu murahan. Dan aku tidak ingin merebut kekasihmu karena, itu menggoda. Kau tahu, jika dia tergoda pada ku itu artinya dia terlalu murah untuk menjadi setia. Dan aku tidak ingin kekasihmu mendapatkan konotasi seperti itu.

Ah, bagaimana bisa aku tidak cemburu dengan kekasihmu saat dia dengan bangga bercerita tentang kamu. Tapi, aku justeru merasa lega karena, kamu dapat memberikan dia rasa nyaman. Terkadang, hatiku menggelitik ingin memeluk kekasihmu namun, bagaimana dengan dirimu? Pasti kamu akan menangis.

Aku dengan tulus tidak ingin menghadirkan kesedian di matamu. Aku mencintai kekasihmu tapi, aku lebih menyayangimu sebagai seorang wanita. Jadi, bagaimana mungkin aku menyakitimu dengan merebutnya. Maafkan, aku yang mencintai kekasihmu. Jangan takut, aku tidak akan merebutnya ataupun sekedar meminjam pundakku agar dia dapat bercerita. Karena, kebahagiaannya itu urusanmu dan bukan urusanku.