Kau datang dengan sebuah penjelasan yang mencengangkan, setelah menghilang dalam keheningan tujuh tahun silam. Aku memang menanti penjelasanmu, penjelasan akan sebuah perpisahan yang kau ciptakan namun justru Aku yang tegelam di sana. Tenggelam dalam semua kisah masa lalu yang ingin kau hapus, namun ingin kuukir.

Kau meninggalkanku dalam sebuah dilema, antara menyalahkan diriku sendiri atas kepergianmu atau menyalahkanmu yang tak mampu menghargai kesetianku. Waktu bergulir dengan sendirinya, Aku bahkan lupa kapan luka akibat kepergianmu itu hilang, Aku bahkan lupa saat-saat dimana Aku menangisi kepergiaanmu. Aku juga lupa kapan aku mulai bisa tersenyum lepas lagi, yang kuingat adalah kini, dia yang baru sudah hadir dalam hidupku.

Dia yang mungkin dikirimkan Tuhan sebagai penggantimu. Dia bukan kamu, dan Aku tidak pernah mencari persamaan ataupun perbedaan antara kalian. Aku menyukai semua tentang dirinya, Aku menyukai sifatnya yang dewasa namun kadang manja. Aku menyukai cara dia memperhatikanku dalam sebuah tindakan bukan kata. Aku suka cara dia merayu saat Aku merajuk, dan semua tentang dia.

Disaat kebahagian yang bertahun-tahun kau renggut dengan kepergianmu, kembali kudapatkan bersamanya, kau justru hadir lagi.

Kau hadir dengan sebuah harapan yang dulu kau renggut sendiri.

Advertisement

Tahukah kau, berapa waktu yang Aku perlukan untuk menyembuhkan luka itu? Tahukah berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk membuatku memilih untuk bahagia bersamanya dan melepaskan bayanganmu? Lalu semudah itu kau mengucapkan kata kembali?

Aku memahami penjelasanmu, mengapa kau pergi. Aku mengerti kau tak sepenuhnya salah. Aku sangat mengerti semuanya, karena itulah Aku memaafkamu. setelah sekian waktu aku berjalan dengan dendam yang kadang menyesakan, Aku bahagia sekali akhirnya bisa memaafkanmu. namun memaafkanmu bukan berati aku harus menerimamu kembali, kan?

"Sulitkan untuk kita memulai lagi?"

Itu pertanyaan yang kau tanyakan untukku. Jujur, tidak sulit untukku memulai lagi denganmu, penjelasanmu cukup untuk menjadi dasar kita kembali seperti dulu, namun penjelasanmu tak mampu membuatku meninggalkan dia yang kini bersamaku. Tahukah kau bahwa, dia menitikan air mata saat mengijinkanku bertemu denganmu, Aku bahkan bisa melihat dengan jelas ketakutan yang tergambar di mata indahnya.

Aku tahu sakitnya di tinggalkan, Aku tahu pahitnya melepaskan, Aku memahami dengan detail setiap rasanya, karena itulah Aku tidak akan pernah membuat dia merasakan hal yang sama, yang pernah Aku rasakan.

Terima kasih sudah kembali dengan sebuah penjelasan, namun maaf itu takan bisa membuat aku kembali ke masa lalu bersamamu. Bukankah ada yang bilang bahwa "Kembali ke masa lalu adalah kemustahilan namun menciptakan masa depan adalah kemungkinan".

Karena itulah Aku memilih melangkah untuk menciptakan masa depan dengan dia yang sudah kupilih.

Andai dulu Aku tetap menanti, mungkin kisahnya akan berbeda, namun penantian itu menenggelamkanku dalam jurang yang terlalu dalam dan gelap. Aku ketakutan di sana dan akhirnya Aku memutuskan untuk melangkah keluar dari sana, dan saat itu dialah menyambutku dan membawaku menjauh dari jurang itu. Maaf aku tak mampu menunggu mu lebih lama, namun aku juga tak pernah menyesali keputusanku.

Kini, Aku ingin melihat dia tersenyum karena Aku memlih dia, aku tak ingin dia menanti meski itu hanya sedetik, aku ingin selalu ada untuknya sama seperti dia yang selalu ada untukku.