Jangan membocorkan rahasia sahabatmu yang diceritakan padamu

Tak mudah bagiku melupakan kesalahan yang telah aku lakukan. Lidah yang tak dapat ku kontrol. Dengan murahnya mulut ku bertutur dengan gamblang menceritakan ‘aib-mu’ sebuah masa lalu yang ingin kau rahasiakan. Hanya dipancing sedikit mulutku terus berkicau membahas masalalu-mu. Maafkan kecerobohanku sobat.Aku salah. Aku merusak kepercayaanmu.

Lidah yang ceroboh bisa lebih berbahaya daripada sebuah pedang yang tajam.

Aku tak menyalahkanmu jika kau kecewa padaku. Jika rasa percayamu musnah padaku. Aku menerimanya sebagai hukuman. Lihatlah hasil dari lidah yang tak dapat kujaga. Mereka yang kita sebut rekan kerja sibuk membicarakanmu. Hatimu terluka. Mulutmu menggeram ingin sekali merobek mulut-mulut busuk itu. Maaf sekali lagi maaf. Tampar aku hingga mulut ini tak mampu bersuara lagi.

Mulutku sama busuknya dengan mereka.J ika bukan karena mulut busukku mereka tak akan pernah tahu ‘cerita itu’. Cerita yang ingin kau tutupi. Terkunci amat apik didalam memorimu. Sebuah masa lalu terburuk yang tak ingin kau kenang. Aku menyebarnya sehingga rahasia itu bukan lagi rahasia. Rahasia itu kini jadi sebuah pembicaraan dari satu mulut ke mulut lain. Dengan versi yang berbeda sesuka mereka menambah atau mengurangi ceritanya. Maaf telah menjadikan masa lalumu jadi bahan gosip mereka yang haus bahan obrolan.

Advertisement

Aku tak mampu memaafkan diriku sendiri. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku meraasa sangat bersalah ini. Aku takut. Aku malu bertemu denganmu.

Aku disergap rasa bersalah yang luar biasa. Aku seakan mengkhianati kepercayaanmu. Aku seperti merusak pertemanan yang telah kita jalan. Aku tak layak menyandang predikat ‘sahabat terbaikmu’. Sahabat macam apa yang membicarakan aib sahabatnya sendiri pada orang lain. Aku sungguh malu. Maaf.

Meski kau bilang ‘tak apa-apa’, walau katamu baik-baik saja. Tapi tidak denganku. Terima kasih sebelumnya masih menganggapku teman terbaikmu. Terima kasih masih memperlakukan aku seperti sebelumnya. Aku menghargai sikapmu, kawan. Namun aku sendiri jadi ‘tak-enak-hati’ padamu. Aku terus disergap rasa bersalah.

Aku berusaha melupakannya. Membunuhnya dengan kesibukkan. Sementara aku terus dibayangi oleh kesalahan. Aku tetap tak mampu menghapusnya. Semoga waktu bisa membawaku pada aku yang kau kenal dulu.Sampai aku bisa menenangkan diriku dari serbuan rasa bersalah yang terus menghantui.

Untuk sahabat yang hatinya kusakiti. Maaf telah melukai hatimu. Maaf telah membuka kembali luka lamamu.

Aku sungguh menyesali perbuatanku. Aku jadikan sebagai pelajaran paling berharga tahun ini. Kan kujaga lisanku untuk tak gampang mengumbar sesuatu pada ‘mereka’ yang bertopeng dan tak patut dipercaya hingga tak terulang dikehidupan kita berikutnya.