Dulu kita terikat dalam kata organisasi dan aku adalah yang terakhir dalam perekrutan. Waktu dan tanggung jawab yang memaksa kita untuk selalu bersama, hingga tanpa sadar kita selalu bersama tanpa paksaan. Bersama karena keinginan dan kebutuhan.

Saat itu, aku melewatkan malam utama pembuka kebersamaan ini, tapi itu bukan penghalang bagi kalian untuk menjadikanku bagian dari kalian. Kehangatan yang kalian berikan membuatku bersyukur dengan semua yang telah terjadi. Kalian adalah bagian terpenting dan paling spesial dalam hidupku sampai saat ini.

Namun seiring dengan semua bahagia itu, ada kekhawatiran dan kegelisahan yang terus menghantuiku. Akankah semua ini bisa bertahan? Apakah kata ‘LULUS’ benar-benar jalan pembuka kebahagiaan dan kesuksesan atau justru menjadi pemisah ikatan ini? Kelulusan menjadi satu hal yang paling kutakutkan saat itu. Tapi aku mencoba optimis dengan masa depan, meraihnya bersama dengan kalian adalah jalan yang aku harapkan.

Masa depan yang aku bayangkan dulu, sekarang tengah kurasakan. Ketakutan dan kekhawatiran itu benar adanya. Sampai saat ini aku hidup dalam kehampaan. Kita memiliki mimpi yang berbeda, hal itu memaksa kita untuk terpisah oleh jarak. Kecanggihan teknologi komunikasi memang tak perlu diragukan, fasilitas saat ini memudahkan kita untuk berbicara di manapun.

Tapi kesibukan masing-masing masih jadi kendala utama kita, semakin lama komunikasi ini makin berjarak dan muncul ketakutan baru di diriku untuk menyapamu. Takut mengganggu kesibukanmu, takut menyita waktu berhargamu dan takut menyinggung perasaanmu. Tenang bukan berarti bahagia, itu adalah hampa tanpa rasa.

Advertisement

Bila obsesi dan ambisi membawa kehancuran, aku rasa itu masih lebih baik dibanding kekosongan yang kurasa saat ini. Aku akui diriku pengecut yang menyedihkan. Aku selalu berpikir kalau aku tak akan bahagia bila tidak dengan kalian, tanpa sadar aku membuat sebuah ruang dimana hanya kalian saja yang dapat masuk. Membuat diriku berjarak dengan dunia dan orang-orang di sekitarku. Namun aku takut kalian melihat diriku yang sekarang, aku takut melihat raut wajah kecewa dari kalian.

Akhirnya hanya ada aku di ruang itu, sendirian tanpa siapapun. Saat melihat dan mendengar kisah sukses kalian dari kicauan media sosial, aku turut bahagia atas pencapaian kalian. Tapi itu juga menambah ketakutanku untuk bertemu kalian. Bila kehadiranku mengganggu hidup bahagia kalian, menjadi bayangan di dunia kecilku sendiri adalah keputusan paling tepat. Aku sadar dengan apa yang kulakukan saat ini, aku tahu tak seharusnya aku seperti ini.

Bangkit, itulah pilihan terbaik yang harus kulakukan saat ini. Tapi semua terasa begitu berat tanpa kalian. Berkali-kali aku mencobanya, selalu saja gagal. Rindu tapi malu. Bertindak bodoh sambil berharap datangnya penyelamat, itu bertentangan dengan pandangan kalian. Kalian selalu menyebutku seorang yang mandiri dan kuat, pantang menyerah, memandang lurus ke depan dan mampu melakukan apapun dengan kemampuanku sendiri.

Maafkan diriku yang sekarang, sahabat.