Priaku tersayang… Tahun lalu kamu menjanjikan Pernikahan Indah kepadaku, tapi hal itu harus diurungkan karena banyak faktor. Menikah memang bukan hal mudah, logikanya pasti butuh biaya besar. BETUL. Apalagi mengingat kita hidup sebagai manusia sosial yang bergaul dengan begitu banyak orang; dari yang miskin, menengah dan kaya.

Tunggu dulu, bukan maksudku membedakan kasta seseorang, tapi faktanya memang kita hidup bersama dan berdampingan dengan beragam tipe dan beragam jenis manusia. Aku terlahir dari keluarga yang tidak kaya, aku gadis miskin yang punya mimpi begitu besar. Aku bermimpi bisa sekolah tinggi menjadi seorang Guru Besar, aku bermimpi bisa membahagiakan orang tuaku, dan aku juga punya mimpi loh untuk bisa menikah dengan Pria yang memang tepat untukku.

Sayangku, aku tidak memberikan standar khusus dan tolak ukur patokan tentang kelayakan pria yang boleh menjadi suamiku, karena aku tahu itu bukan porsiku melainkan porsinya Tuhan. Aku wanita yang sudah dan sedang menunggumu ini "MEMILIH" kamu loh, sayang….bukan memilih yang lain. Tentu itupun aku pikirkan dengan sangat matang.

Well, awalnya aku sedih karena kamu ingkar janji. Kamu berjanji tahun kemarin bahwa pernikahan kita akan dilangsukan pada tahun ini, tapi nyatanya kamu belum siap dan memilih untuk bertunangan dulu denganku. Bukan masalah besar memang, tapi JUJUR…ada secuil kecewa dari hatiku.

Dalam benakku rasanya ingin aku bertanya padamu: "lantas kapan kita akan menikah?" , Namun untuk bertanyapun rasanya aku enggan, aku takut bila tanya ini membuatmu menilai jika aku meragukan cintamu, aku takut bila tanyaku ini membuat harga diriku sebagai wanita menjadi buruk seakan memaksa, menuntut dan membuatmu tergesa-gesa untuk menikahiku.

Advertisement

Rasanya ingin aku bermimpi menjadi Cinderella Cantik yang hanya tinggal duduk manis menunggu Sang Prianya melamarku. Tapi alangkah egoisnya aku bila aku berlaku seperti itu, sementara aku tahu susah-payahmu, keringat yang kamu perjuangkan untuk mengumpulkan pundi-pundi dana pernikahan kita.

Seringkali kita berdebat soal keuangan, mengingat kamu selalu menilai aku si wanita yang kurang cakap mengelola keuangan. Wajar jika aku berkeras karena aku merasa aku pantas mendapatkannya mengingat akupun bekerja dan menghasilkan uang. Toh aku tidak berfoya-foya yang berlebihan seperti yang kamu bayangkan.

Ada orang tua yang setiap bulan harus aku perhatikan, maaf dari awal aku sudah memberitahumu; saat ini kita belum menikah dan aku selalu memprioritaskan orang tuaku yang sudah sepuh. Aku berhak mengelola keuanganku sendiri dari apa yang sudah aku dapatkan dengan kerja kerasku. Beda ceritanya jika kita sudah menikah nanti, mungkin aku akan lebih prioritaskan keluargaku.

Sayang, memang butuh begitu banyak penyesuaian. Bahkan beberapa kali penyesuaian agar waham kita sama tentang mengelola keuangan, termasuk nanti bila kita sudah menikah. Jangan berpikir kamu berjuang sendirian, mengumpulkan dana-dana pernikahan sendirian…tidak sayangku!! Aku juga berusaha agar aku tidak merepotkan orang tuaku, memantaskanmu didepan orang tuaku dan keluargaku, memantaskan kita berdua nanti di Pernikahan.

Jangan takut dan terkesan aku "masa bodo" dengan perjuanganmu, tiap malam aku berdoa, tiap bulan aku menyisihkan uang gajiku untuk tabungan pernikahan kita kok. Aku memang tak banyak bicara, karena saat ini aku tidak ingin "disetir" ataupun "dikendalikan" olehmu soal urusan keuangan pribadiku. Lucu juga jika aku harus memberikan laporan keuangan aku sama kamu tiap bulan. Belum Pantas rasanya. Maaf. Tapi ini prinsip.

Aku sendiri saja hingga saat ini tidak pernah mau mengusik "zona pribadimu" ,,jangankan menanyakan berapa gajimu,,,memegang dompetmu saja aku nggak pernahkan,sayang. Itu karena aku sangat menghormatimu. sangat menghargai nilai-nilai privacy yang menurut prinsipku harus tetap dijaga. Bukannya aku nggak mau terbuka sama kamu, tapi aku tahu "batasan-batasan" yang mana yang memang harus aku tahu dan selami atau "batasan-batasan" lain tentangmu yang tidak atau belum perlu aku tahu.

Menyiapkan Acara Tunangan saja tidak gratiskan, Sayang. Aku tahu kok kemampuanmu, makanya aku tidak menuntut sedikitpun atau meminta apapun darimu. Cukup kamu datang bersama orang tuamu kerumah ku dan berbicaralah kepada orang tuaku untuk maksud muliamu itu. Tapi Hari ini, aku mendengar lagi KETIDAK SIAPAN darimu. Kamu bilang belum siap untuk bertunangan. Lagi. Sekali lagi karena dana yang belum cukup.

Sedih. Rasanya teramat sedih. Karena aku wanita yang seolah diberi harapan semu olehmu. Penantian ini rasanya tak ada habisnya. Sungguh jika boleh aku jujur…aku Lelah. Sangat teramat lelah menantimu. Minggu-minggu belakangan seringkali kita bertengkar hanya karena aku sebagai wanita meminta kepastian darimu.

Sempat hati kecilku berkata: " Sudah..sudahi saja. Aku sudah lelah dengan hubungan ini. Jangan terus menggantung harapan di tiang pintu hatiku". Jika kau mau mundur…mundur saja dengan pasti..tetapi bila kamu ingin maju segeralah melangkah dan jangan menjadi Pria yang bertele-tele."

Sayang,,,,kalimat itu tak kuasa aku ucapkan didepan mukamu. Aku berusaha sekuat mungkin untuk MEREDAM EMOSI ku padamu. Aku benamkan, air mataku sendiri tiap malam dikamarku. Aku hanya mampu berdoa pada Tuhan agar segera mengakhiri pergumulanku ini. Jika memang kau benar untukku, biarlah Tuhan memberi solusi terbaik untuk hubungan ini.

Haruskah aku berhenti? Haruskah aku menunggu lebih lama lagi? Sampai kapan? Tolong beri kepastian padaku, karena aku bukan lagi gadis berumur 20-25 tahun, aku gadis 30 tahun yang sudah siap untuk menikah, yang sudah tulus menerimamu dan menunggumu apapun resikonya.

Tapi mengapa selalu saja perkara dana, dana,dan dana yang membuat aku harus MENAHAN DIRI dan MENUNGGU MENGGAPAI mimpi Pernikahanku? Apakah Pernikahan hanya sebatas perkara DANA dan Biaya? Ini nggak Fair menurutku.

Aku ini wanita loh, aku hanya menunggu priaku membawaku ke depan altar dan mengucap janji suci pernikahan dihadapan Tuhan juga disaksikan oleh orang tua dan kerabat kita. Aku gak minta Pernikahan yang mewah bak Ratu Inggris atau Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, aku hanya butuh PRIA YANG MAU BERKOMITMEN TEGAS MENIKAHIKU bukan yang BERTELE-TELE dan MENGGANTUNGKAN HARAPAN DITIANG PINTU HATIKU!!!

Arrgghhhhh…geram dan jengkel rasanya. Sayang, aku putuskan untuk mengambil sikap dan ketegasan untukmu. Jika masih belum ada arah yang pasti kemana hubungan ini akan kita bawa, aku memberimu waktu berpikir kok. Kurang sabar apa lagi coba aku ini?

Hmmhhh…Sebelum segala sesuatunya terlambat,,sebelum kita terlalu jauh melangkah…PIKIRKAN LAGI BAIK-BAIK, SUNGGUHKAH AKU INI WANITA YANG KAU PILIH. Jika bukan, aku yang dengan siap dan tangguh mundur seribu langkah darimu. Ini bukan spekulasi buatku, ini Ultimatum untukmu.

Satu pesanku bila kamu membaca tulisanku ini,,,,,ingatlah sayang kalimatku ketika pertama kali aku menerima cintamu:

"Lelah boleh, Berhenti sebentar boleh, Tapi kita jangan pernah menyerah!"

Aku masih setia menunggumu.

Aku mencintaimu. Selalu.

_Dyah Pikarti Firdaus_