Cinta, satu kata yang taka asing bagi kita. Maknanya terlalu dalam jika hanya diungkapkan lewat kata-kata, bahkan seorang sastrawan sekalipun tak bisa mendefinisikannya secara nyata, karena memang faktanya ini menyangkut soal rasa dalam dada hati. Rasa itu merupakan bentuk tak berwujud (intangible) yang setiap individu mungkin bisa berbeda versi satu sama lain. Berbicara cinta, berarti kita berbicara kehidupan, mengapa? (jangan tanya mengapa) karena tanpa cinta, kita mungkin tak ada di dunia, tanpa cinta mustahil manusia saling menjaga. Ya… cinta, kata kerja yang menuntut kita bekerja secara nyata. Bukan hanya omongan belaka, ataupun ekspektasi tanpa asumsi yang rinci.

"Dengan cinta, manusia bisa saling membunuh, memposisikan diri melebihi kebringasan hewan buas di alam liar sekalipun. Cinta itu sejatinya harus ekuivalen antara logika (akal) dan jiwa (hati) yang berlandaskan syar'i. Jika salah satu mendominasi, maka hilang makna, cinta menyiksa".

Hei anak muda, anak remaja atau apalah namanya pastinya kamu pernah merasakan rasa yang satu ini, iya… cita rasa cinta, bukan kue yang bentuknya love buatan mama loh ya, tapi cinta yang membuat hati kalian gundah gulana siang dan malam, galau, gemeteran dan berbagai jenis identifikasi lain mengenai rambu berwarna merah jambu tersebut.

Tapi apakah kalian rela, ketika cinta berubah jadi bencana? Bencana bagi diri juga bencana bagi negri. Cobalah timbang kembali kadar cinta yang ada, timbang dengan logika dan jiwa berdasarkan aturan main yang terjamin (syar'i) yang jelas-jelas melarang keras manusia menjalin cinta tanpa ikatan suci didalamnya (Pacaran).

“Enggak kok kita gak pacaran, kita kan cuman ta'arufan”.

Advertisement

Tak bisa dipungki semakin berkembangnya jaman ternyata manusia semakin pintar mencari jalan keluar, jalan keluar berupa pembenaran dalam diri demi terpuaskan ego jiwa yang menggebu dalam dada yang terkadang mengantarkan kita ke jurang kenestapaan, berapa banyak persentase angka anak muda korban PHP? Berapa banyak korban pembunuhan gara-gara cinta? Berapa banyak manusia menyesal dikemudian hari hanya gara-gara cinta? berapa banyak yang telah dibuat galau olehnya (cinta)? cinta yang mengedepankan jiwa yang penuh gelora dahaga dengan mata logika yang buta. mengemas kata cinta dengan hubungan asmara yang sudah jelas dilarang agama, yang penting having fun, syariat pun disiasati dengan berbagai cara. Jangan sampai cinta yang indah ini rusak gara-gara salah mengambil langkah yang tak berfaedah. Jika memang benar-benar cinta, buktikan dengan tindakan nyata dengan membawanya ke KUA. Jikapun tidak, segera berbuat sesuatu yang menyelamatkan jiwa dan raga.

Pacaran adalah budaya dan peradaban jahiliah yang dilestarikan oleh orang2 kafir negeri Barat dan kemudian diikuti oleh sebagian umat Islam dgn dalih mengikuti perkembangan jaman dan sebagai cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup.

Anda muslim? anda fahamkan jika berkholwat adalah sesuatu yang tabu? tapi mengapa sekarang menjadi lumrah ya? ada apa ini? Terus bagaimana dong solusi menyalurkan naluri cinta berdasarkan syari'at yang ada? kita bisa mengamati perbandingan antara cinta yang disalurkan dengan cara yang benar (ta'aruf) dan dengan cara pembenaran semata (pacaran).

1. Kapan Dimulai

» Ta'aruf : Saat calon suami dan calon istri udah ngerasa kalo Menikah adalah suatu Kebutuhan dan udah siap secara fisik, mental dan materi.

» Pacaran : Saat udah diledek sama teman: "kok masih single (baca : jomblo)? pasti gak laku yaaa? hehe", atau saat butuh temen curhat, atau saat taruhan sama teman.

2. Tujuan

» Ta'aruf : Mengenal calon istri -/ suami, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan Pernikahan.

» Pacaran: Mengenal calon pacar, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan Pacaran, dan syukur-syukur bisa Nikah.

3. Tempat Pertemuan

» Ta'aruf : Di rumah sang calon, balai pertemuan, musholla, masjid, sekolahan.

» Pacaran : Di rumah si calon, kantor, mall, cafe, diskotik, tempat wisata, kendaraan umum & pribadi, pabrik, dll.

4. Waktu Pertemuan

» Ta'aruf : Sesuai dengan adab bertamu.

» Pacaran : Pagi boleh, siang oke, sore bisa, malam hayo, dini hari (tengah malem) kalo gak ada yang komplain juga gak apa-apa.

5. Lama Pertemuan

» Ta'aruf : Sesuai dengan adab bertamu.

» Pacaran : Selama belum ada yang komplain, lanjut…!!

6. Jumlah yang Hadir

» Ta'aruf : Minimal calon lelaki, calon perempuan, serta seorang pendamping (bertiga). Maksimal tidak terbatas (disesuaikan adab bertamu).

» Pacaran : Calon lelaki dan calon perempuan aja (berdua). Kalo rame-rame bukan Pacaran, tapi rombongan.

7. Materi Pertemuan

» Ta'aruf : Kondisi pribadi, keluarga, harapan, serta keinginan di masa depan.

» Pacaran : Cerita apa aja kejadian minggu ini, ngobrol ngaler-ngidul, ketawa-ketiwi.

8. Frekuensi Pertemuan

» Ta'aruf : Lebih sedikit lebih baik karena menghindari zina hati.

» Pacaran : Lazimnya seminggu sekali, pas malem minggu, atau bisa tiap hari.

9. Biaya Pertemuan

» Ta'aruf : Secukupnya dalam rangka menghormati tamu (sesuai adab bertamu).

» Pacaran : Kalo ada biaya, ngapel. Kalo gak ada, absen dulu. Atau cari pinjeman, terus tempat pertemuannya di rumah aja kali ya? tapi gengsi dong Pacaran di rumah doang?? apa kata doi coba??

10. Lamanya Proses

» Ta'aruf : Ketika udah gak ada lagi keraguan di kedua belah pihak, lebih cepat lebih baik. Dan ketika informasi udah cukup (bisa seminggu, sebulan, 2 bulan), apa lagi yang ditunggu-tunggu?

» Pacaran : Bisa 3 bulan, 6 bulan, setahun, 2 tahun, bahkan mungkin 10 tahun.

11. Saat Tidak Ada Kecocokan saat Proses

» Ta'aruf : Salah satu pihak bisa menyatakan gak ada kecocokan, dan proses stop dengan menyebut alasannya.

» Pacaran : Salah satu pihak bisa menyatakan gak ada kecocokan, dan proses stop dengan -/ tanpa menyebut alasannya.

via http://www.pinoci.net/2014/11/pacaran-dalam-pandangan-islam-taaruf.html#sthash.HBxphgfH.dpuf

Jadi, mau dengan cara apa kita menyalurkan cinta? mari kita heningkan cipta (eh, introspeksi diri maksudnya) Jadi sudah jelas ya, cinta seperti apa yang akan kau tawarkan kepadaku? 😀