Terlahir dengan keadaan serba kekurangan memanglah bukan keinginan kita. Tapi sangat tidak bersyukur jika setiap detiknya kita habiskan dengan mendikte keadaan yang sungguh kita sendiri pun tidak mengharapkannya.

Tuhan pun jelas mendeskripsikan dalilnya untuk kita jadikan Energi move dari keadaan yang memiriskan hati, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum tesebut mau mengubah keadaannya sendiri.

Orang tuaku memang gagal menjaga komitmen pernikahannya, Usia 10 tahun masih terlalu dini memahami persoalan rumahtangga. Yang aku tahu, aku benci kedua orang tuaku. Karena keegoisan mereka, aku jadi gunjingan teman-teman sekelas, di lingkungan masyarakat pun mereka selalu saja jadi topik yang selalu hangat jadi pembahasan. Di usia yang ke 23 aku baru mengerti ternyata cinta saja tidak cukup untuk menjamin bertahannya suatu pernikahan.

Ah, anak broken home mana bisa hidup dengan baik? Buah itu pasti tak pernah jatuh jauh dari pohonnya, kalau bukan seperti bapaknya ya minimal seperti ibunya. Lihat saja nanti dia pasti gagal, secara kan dia gak punya pegangan untuk menjalani hidupnya

Banyak keluhan yang mereka lontarkan ketika aku duduk di perguruan tinggi, bahkan yang lebih mengerikan ada yang berani menggadaikan jari kelingkingnya, mengiris jari kelingking saya kalau anak itu berhasil. Entahlah, keberadaan orang itu pun aku tak tahu sekarang ada dimana. Aku hanya ingin pastikan, jari kelingkingnya baik-baik saja. Di tengah puncak kesuksesan pendidikanku, mereka tak juga berdamai, kebencian mereka terlalu penting untuk kebahagianku

Advertisement

Predikat cumlaude dan wisudawati terbaik pun seakan tak ada artinya buat mereka. Ibarat tersesat di tengah hutan belantara, aku selalu berusaha mencari jalan pulang. Pada kepekatan gelapnya malam, aku berlindung dari ribuan cahaya kehidupan yang begitu terang dan menakutkan.

Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita ambil lilin lalu nyalakan. Ya, pribahasa itu memang menjadi sumber energi, bahwa kehidupan harus tetap berjalan, bumi masih berputar, roda kehidupan terus berputar dan aku yakin masa depan yang baik kini ada dalam genggamanku. Hal yang perlu aku lakukan untuk mengejar kesuksesan dengan predikat "broken home" adalah

1. Berdamailah

apapun masalah dan ujian yang kita hadapi, sebesar apapun itu kita berhak hidup dengan damai. Berdamailah dengan masa lalu di masa kecil kita. Mendendam pada mereka sangatlah tidak baik, karena darah lebih kental daripada air. Air susu mereka mengalir di tubuh kita, sebenci apapun kamu kepada mereka, ingatlah mereka pernah berjuang melahirkan kita ke dunia, mereka pernah berkeringat lelah demi menafkahi kita.

2. Buktikan, kamu tumbuh dengan baik

Mama dan Papa toga wisuda ini hadiah untuk kalian, anakmu yang dulu merengek di kakimu, yang air mata dan ingusnya meleleh karena menahan langkahmu untuk tidak pergi dari rumah, memohon untuk tidak bertengkar di hadapanku.

Merusak diri karena tidak menerima perlakuan orangtua terhadap kita bukanlah satu-satunya jalan membalas keegoisan mereka, tumbuh dengan baik adalah pembalasan yang sangat mengiris hati mereka. Maka buktikan kamu tumbuh dengan baik tanpa kompas dari mereka.

4. Survive! Selalu ada jalan untuk mereka yang berusaha

Tuhan itu Maha Kaya dan sungguh sangat Pemurah, tapi Dia tidak pernah serta merta menurunkan pundi-pundi rupiah turun langsung dari langit-Nya. Berjuang dengan tangan dan kaki sendiri adalah kendaraan menuju kehidupan yang kita inginkan. Kita tidak pernah diizinkan meminta ke rahim siapa kita dilahirkan? Tapi kita diberi ruang seluas-luasnya mewujudkan kehidupan seperti apa yang kita inginkan.

5. Berjanjilah! Bagian kehidupan ini tak akan kamu warisi

Semua orang punya alasan untuk hidup dengan baik. Begitupun aku dan pilihanku. Kelak aku berjanji penderitaan ini hanya aku yang mengalami.

Tak perduli nanti, siapapun yang akan aku pilih akan aku uji setiap laki-laki yang berani datang untuk menentang tradisi, yang berani berdiri di atas duri demi setangkai bunga seruni, yang di jiwanya bertebar keagungan nilai Ilahi, kekayaan materi, yang membuatku mengabadi mencintai tak mengenal perbedaan tradisi dan kondisi untuk dapat membangun generasi. Dan mengakhiri cerita kepahitan hidup masa kecil yang pernah aku alami.