Usiaku kini sudah hampir seperempat abad. Namun, tak pernah sedetikpun aku terlepas dari pengawasanmu. Aku heran mengapa kau tak pernah lelah dan bosan untuk melakukan itu. Padahal, tak jarang aku menganggap kalau hadirmu hanya menggagalkan sejuta mimpi yang aku coba rajut, suaramu hanya perusak konsentrasi untuk impianku, dan nasihatmu hanya membuatku harus menarik kembali niat untuk memulai. Ahhh… Aku ingin menjalani apa yang ingin ku jalani.

Saat ini, aku mulai berpikir untuk mencoba lepas dari pengawasanmu. Aku mulai menyusun daftar target yang harus ku capai beserta cara untuk menjalaninya. Tapi kau selalu menganggap itu bukan jalan hidup yang tepat. Akhirnya, membantah menjadi cara ampuh ku untuk mematahkan anggapanmu itu. Lalu apa yang ku dapat? Kau malah menganggapku sebagai pembangkang sambil kau terus meneteskan air mata. Aku pikir dengan begitu kau akan bosan untuk mengawasiku , ternyata aku salah. Kau malah semakin kuat untuk menyalahkan anggapanku. Kita semakin sering berseteru akan hal itu. Saling membentak masih terus kita lakukan untuk mempertahankan pemikiran masing-masing. Tanpa kau sadar, membentakku hanya membuatku semakin yakin kalau aku tak butuh pengawasanmu.

Aku menyebutmu sebagai orang yang paling aku cinta. Dan memang itu kenyataannya. Namun, ntah mengapa terkadang aku merasa sangat membencimu. Apalagi, ketika kau mulai menyebutkan batasan-batasan atas diriku. “Kau tidak boleh melakukan itu. Hanya boleh melakukan ini. Tidak boleh pergi ke sana, karena itu hanya akan menyusahkan dirimu dan kau tak akan bisa mengatasinya. Kau tak akan mampu”. Aku jenuh dengan segala aturan-aturan yang hanya membuatku harus berdiam diri di rumah dan mengabaikan setiap kesempatan yang menurutku datang untuk ku merealisasikan ide-ide brilliant (menurutku). Ya ampuunn.. Kapan kau bisa mengerti?

Kau ingat kejadian kemarin malam? Kita berdebat lagi. Masih tetap saling membantah dan itu sudah terjadi hampir dua bulan ini. Tadi malam adalah perdebatan terhebat yang pernah terjadi. Kita sampai lupa kalau kita adalah dua orang yang saling mencintai dan kita dua orang yang saling ingin membahagiakan. Tapi kita tetap saling menyalahkan. Kau tetap pada prinsipmu sedangkan aku tidak mau kalah. Aku benci ketika kita harus memiliki pandangan yang berbeda, karena kita tak pernah tau bagaimana untuk mengakhiri ini. Apa kita harus saling berteriak agar kita paham akan maksud satu sama lainnya?

Sebelum kita seperti ini, aku pernah bilang padamu kalau aku janji akan membuatmu bahagia dan bangga padaku. Aku akan menjadi apa yang aku cita-citakan setelah itu aku akan membawamu hidup bersama denganku dan kita bahagia bersama. Jadi, aku memohon doa dan dukungan darimu. Aku ingat kau tersenyum waktu itu. Lega rasanya kalau kau setuju.

Advertisement

Maa…Aku tau ini bukti cintamu padaku. Kau ingin aku selalu ada disampingmu, kau ingin selalu memberikan sapaan selamat pagi untukku dan kau ingin selalu mendekapku dikala aku merasa lelah. Aku pun ingin begitu. Kita terus bersama dan saling mendekap dikala kesusahan menghampiri. Tapi aku belum mampu untuk memahami itu. Aku justru melihat kau selalu mencoba berbagai cara agar aku tetap tinggal dan mencoba menjadi bahagia dengan cara yang menurutmu terbaik untukku. Aku ingin mandiri dan berbaur dengan dunia luar. Aku tau di luar sana sungguh tak senyaman tinggal di rumah kita. Namun, itulah yang ingin aku hadapi, Maa.. Mau sampai kapan aku harus meminta bantuan padamu dan menganggap semua akan baik-baik saja tanpa harus berbuat banyak karena kau yang akan mengatasi semua masalahku. Maa, aku kini sudah tumbuh menjadi dewasa. Aku cuma ingin meminta sedikit waktu untuk diriku sendiri dan mewujudkan mimpiku sementara kau terus mendukungku. Pergi jauh darimu bukanlah keinginanku. Makanya aku pernah berjanji aku akan membawamu bersamaku nanti. Hanya saja, pergi jauh sejenak akan membuatku menjadi pribadi yang mandiri. Percaya saja aku akan baik-baik saja. Bukannya sejak kecil kau sudah mendidikku dengan sangat baik? Aku sudah tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan berakhlak sama seperti yang kau harapkan. Jadi, kau tak perlu khawatir Maa..

Untuk setiap perdebatan, aku mohon maaf. Aku hanya ingin meyakinkanmu kalau aku sudah tau harus berbuat apa untuk hidupku. Sudah saatnya aku menerapkan semua ilmu yang aku dapatkan, baik darimu maupun dari guru-guruku. Biarkan aku pergi sejenak, Maa.. Aku pasti baik-baik saja. Aku tak akan menyusahkanmu karena aku sangat mencintaimu. Aku tau aku salah untuk tidak diam dalam aturanmu. Aku memilih untuk membantah dan membuatmu merasa sedih. Aku sungguh berdosa, Maa. Aku selalu berdoa untukmu, agar Tuhan selalu memberimu kesehatan dan kita baik-baik saja.