Empat tahun yang lalu, kita bertemu. Saat itu usiaku masih lima belas tahun. Masih sangat muda untuk benar-benar memahami apa itu cinta.

Kita sekolah di SMA yang sama dan bertemu di tahun pertama. Saat itu, aku ingat betul betapa sulitnya memberanikan diri menyapamu di kantin sekolah. Aku berlari kecil ke kelas, menutup wajahku yang memerah. Sedangkan sahabatku yang sekelas denganmu terus menggodaku. Ya, kita berbeda kelas. Aku dan kamu bertemu karena sahabatku terus mendesakku ke kelas kalian. Kamu ingat saat pertama kali aku menghampirimu di kelasmu? Aku hanya berdiri di depan pintu sampai sahabatku menarik tanganku ke bangkumu.

Kamu, cinta pertamaku, dan tidak ada yang salah dengan sebutan itu. Kamu pria pertama yang membuatku berdebar-debar setiap kali kita bertatap mata. Kamu pria pertama yang kubolehkan menggenggam tanganku sepanjang jalan. Kamu pria pertama yang kupeluk erat. Kamu pria pertama yang membuatku menangis karena takut kehilangan. Kamu pertama dalam segalanya, kamu tahu betul hal itu.

Ah, masa-masa itu. Kamu pasti masih mengingatnya karena aku juga cinta pertamamu.

Mari kita ingat lagi, cinta pertamaku. Kamu sering ke kelasku saat jam istirahat, membawakan makanan atau mengantarkan buku pelajaran. Kamu begitu perhatian, selalu takut aku sakit dan kesulitan. Kamu yang mengerjakan tugas matematikaku karena aku payah berhitung. Kamu yang menjabarkan penyelesaian soal di buku catatanku agar aku mengerti rumus dengan mudah. Kamu melakukan segalanya, yang terbaik yang kamu bisa, agar aku bahagia dan bertahan di sisimu.

Advertisement

Tapi kita masih SMA, masih terlalu muda untuk mempertahankan cerita cinta. Satu tahun kita lalui dengan berbagai pertengkaran yang tiada artinya. Aku tahu akulah pihak yang membesar-besarkan masalah. Akulah pihak yang mendramatisir keadaan dengan air mata yang jatuh dengan mudahnya. Akulah pihak yang selalu menuntutmu berbagai hal agar sempurna.

Aku tahu kejenuhan itu ada. Aku tahu, omelanku yang tiada hentinya dan air mataku yang tiada habisnya perlahan menggerusmu dari genggamanku. Sekalipun semua emosiku mudah meledak karena rasa sayang, tetaplah bagimu itu menjengkelkan dan tak masuk akal.

Satu tahun kita bersama, batas yang wajar untuk sama-sama lelah.

Bukan karena bosan, bukan karena ada orang ketiga, tapi karena lelah. Kamu tak salah, aku pun sama lelahnya saat itu. Aku yang meminta pisah, dan kamu yang sama letihnya mengiayakan. Malam itu, kita berpisah dengan air mata membanjiri pipi masing-masing.

Ketahuilah, aku menyesal mengucap kata pisah. Kucoba melupakanmu, tapi tak mudah. Kucoba berpaling saat kau lalu, tapi tak bisa. Tak henti-hentinya tanganku menulis tentangmu. Tentang rindu dan luka yang menggerogoti setiap inci hatiku.

Aku mencintaimu, cinta yang cukup hebat hingga bertahan tiga tahun lamanya.

Aku mencintaimu, sejak kelas satu SMA, hingga kita sama-sama melepas seragam putih abu-abu itu. Aku mencintaimu selama itu. Sekalipun banyak pria lain di sekolah kita, di mataku tetaplah kamu orang pertama yang kucari di barisan upacara. Sosokmu selalu jadi magnet yang kuat untuk membuat wajahku menoleh cepat. Punggung tegapmu yang dulu kupeluk, terasa sakit kulihat saat berlalu di depanku bagai orang asing.

Aku pikir kamu melupakanku. Rumor terus beredar bahwa kamu dekat dengan berbagai wanita. Tapi cintaku bertahan begitu lama, ia memekat dan tak bosan memeluk orang yang sama di ruang imajinasiku.

Tak terasa, sudah tiga tahun kamu menghindariku. Kini, kamu hadir lagi dan mempertanyakan cintaku kembali.

Kenapa baru sekarang? Kemana kamu saat dulu aku memintamu memperbaiki cerita kita? Kemana kamu saat dulu aku meminta maaf dan meminta kesempatan kedua? Kemana kamu saat dulu aku menangis mengharapmu kembali seperti semula? Dulu kamu menolak, memalingkan wajah, berlalu sambil berkata bahwa kita tak bisa lagi bersama.

Cinta pertamaku, kamu memang yang pertama, tapi tidak selamanya. Penantianku ada batasnya. Aku sudah menata hidupku yang sempat hancur karena perpisahan kita. Aku sudah mengemasi keping hatiku yang berantakan karena kamu menolaknya. Kamu sudah terlambat. Harusnya kamu ada tiga tahun, dua tahun, atau satu tahun silam. Saat aku masih merindumu dan mengharapkanmu.

Kita pernah bersama, saling mencintai, lalu waktu mengombang-ambingkan segalanya. Ada saat dimana kamu yang berjuang, dan aku yang menghindar. Kemudian aku mengerjarmu yang lelah berlari, tapi kamu berbalik pergi. Aku menunggumu, tapi kamu tak datang lagi. Hingga aku lelah dan memilih berhenti, kamu kembali. Melelahkan bukan?

Mungkin jalan kita tak berdampingan. Aku dan kamu tak lagi mencintai di waktu yang sama.

Setidaknya, kita pernah menjadi cerita, kisah cinta SMA yang menyimpan begitu banyak warna. Setidaknya, aku dan kamu pernah berbagi, menyesapi tangis dan tawa bersama-sama.