Fajar menggiring pekik rindu semalam, kala hatiku mengayunkan nama-nama yang terekam dalam doa. Aku bersuara namun hampir sunyi karena bahasa kerinduan adalah perbincangan antara malam dengan angin. Kerinduanku memuncak pada persada fajar, kala gelap yang segera pergi membelah dirinya menjadi dua. Sebagian menjadi akhir dari semua untaian kata menuju fajar yang membungkam lisan, sebagian lagi menjadi awal waktu bagi raga berselimut terik. Namamu muncul seketika, dan hampir semua kisah bersamamu menjadi tontonanku kala itu.

“Pertemuan adalah pengkhianatan bagi kerinduan”

Itu alasan mengapa aku tak mungkin menemuimu lagi, dan mungkin itu satu-satunya pedoman mengapa aku tak mempersilahkan kau hadir kembali. Aku pernah meminta pada Tuhan untuk menghentikan kerinduan ini, rinduku justru lebih bergelora. Aku pernah memintaNya untuk membantuku berhenti mencintaimu, rupanya itu adalah salah satu doaku yang sampai saat ini belum terkabul.

Akhirnya aku meminta pada diriku untuk menganggapmu mati, rupanya aku tak menemukan jawaban. Justru namamu tertempel di seluruh altar jiwaku.

Cinta yang kupendam tak mudah kuungkap, jalan yang kulalui tak bisa kuulang, derita yang kualami tak akan kubagi. Kau memang tak sesempurna penciptamu, tapi hadirmu menjadikan tanda bahwa penciptamu memang luar biasa. Mengawali sebuah kisah tanpamu merupakan neraka dunia yang tak pernah kubayangkan. Mengingat senyummu pada berbagai peristiwa adalah awal prahara bagi hariku. Mendengar namamu dari lisan orang lain, seakan kau hadir untuk menyiksaku.

Advertisement

Wahai yang pernah mengisi hariku.. Doaku selalu menyertaimu.

Menjalin ikatan atas nama Cinta yang pernah kuikrarkan denganmu memang mengandung derita, namun inilah yang menjadikanku sadar bahwa pengorbanan tak semudah mengucapkan "Aku akan berkorban". Wahai sosok yang pernah menemaniku tertawa dan menangis, aku merindukanmu. Dan detik ini aku merasa menyesal karena menuliskan surat ini untukmu. Mengapa? Karena aku hanya mampu memulainya.

Aku belum belajar bagaimana cara mengakhiri sebuah aksara yang memuat elegi bersamamu. Namun surat ini tetap akan kuakhiri.

Bagaimana caraku bertahan hidup tanpamu bukanlah hal yang penting bagimu, namun bagaimana cara Tuhan menjadikanmu begitu penting bagiku, itu adalah sesuatu yang harus kau ketahui.

Teman-temanku menganggapmu "Mantanku". Aku menyebutmu "Anugerah Tuhanku". Itulah alasan mengapa suaramu sering kuresapi, fotomu sering kupandangi dan surat untukmu tak akan berakhir sampai disini.

Rindu adalah detak jantung malam, terdengar sampai pagi

Namamu adalah detak jantungku. teringat sampai mati