Mungkin aku adalah salah satu contoh manusia yang egois di dunia ini. Yang selalu menginginkan ragamu tanpa peduli hatimu untuk siapa, atau lebih tepatnya tidak peduli hatimu milik siapa. Sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan berani. Tapi Tuhan memberikanku rasa takut jauh lebih besar. Aku takut jika harus kehilanganmu suatu saat nanti. Aku takut jika kenyataan tak sesuai harapan-harapan konyolku.

Sebenarnya lagi aku ingin mencintaimu dengan bebas. Tanpa harus merasa bodoh dan kaku. Tapi apalah aku ini, yang hanya bisa mencintaimu dengan seadanya, tak dapat aku menyogok hatimu karena aku sendiri miskin akal dalam hal mencintai.

Aku memang selalu berhasil memulai secara diam-diam. Tapi kamu pun tau, aku selalu gagal dalam hal mempertahankan percakapan kita. Mungkin pula bagimu percakapan kita hanyalah sampah. Tapi bagiku? kamu pasti tau seberapa penting balasanmu hingga aku harus repot-repot tertidur dengan handphone yang masih ada digenggaman.

"Jikalau kamu tidak membalas pesanku, itu bukanlah masalah besar. Ketimbang menahan rasa padamu, itu tidak ada apa-apanya."

Dan itu memang benar adanya.

Advertisement

Selain itu aku pernah membayangkan kita seperti mereka, yang setiap malam duduk bersama di depan rumah kita nantinya. Berbicara tentang hal-hal tabu yang telah kita lewati. Kemudian pada minggu pagi kita duduk di tempat yang sama pula setelah melakukan gerakan-gerakan sederhana, tangan di pinggang sambil memutarkan kepala. Anak kita bermain di halaman rumah kita tentunya.

Lalu pada hari-hari berikutnya, sore hari aku menunggumu dengan cemas. Ingin kamu cepat pulang dari kantormu. Menyiapkan makan malam untukmu dan anak kita.

Tapi itu baru sekedar impianku saja. Kamu tidak perlu kaget dan buru-buru menghentikan keinginan-keinginanku itu. Aku sadar, mungkin kamu sebenarnya ingin melakukan hal-hal yang sama. Hanya saja mungkin tidak denganku bukan? Tidak apa. Aku sudah menyiapkan hatiku untuk patah. Jadi (lagi-lagi) kamu tidak perlu khawatir. Aku masih akan setia menunggu balasanmu kapanpun itu. Meski itu akan menjadi balasan terakhirmu untuk segala pesan dan hatiku, setidaknya aku akan berlapang dada lalu mengubur semua impian dan ego ini.

Patahkan aku dan hancurkan aku sejadi-jadinya