Aku kehilangan cara untuk mempertahankan harga diriku di depanmu. Kamu mengubah segalanya sayang. Dari diriku yang sebelumnya ragu mengucap cemburu, hingga bisa dengan santai mengatakan "aku cinta kamu" tanpa ba bi bu.

Kamu yang bisa jadi tak pernah menyimpan gambar rupaku. Kamu yang memang tidak pernah mengatakan "aku mau, aku setuju..". Kamu yang terlihat hanya diam dan pasrah saja sudah mampu membuatku dan sepaket diriku, lengkap dengan hati dan perasaanku membeku.

Menjadikan dingin bagi sepasang mata laki-laki lain yang melihatku. Menjadikan aku "tidak menarik" di hadapan laki-laki lain.

Bagiku tak masalah, karena aku memang tidak ingin terlihat menarik di hadapan kaum Adam manapun, selain kamu. Kamu hebat sayang, membuatku tak bisa terperangkap dalam jeratan cinta siapa-siapa lagi.

Aku benci segala bentuk perhatianmu. Aku benci sikap pedulimu padaku. Aku benci tersenyum malu setiap kali notif pesan darimu mendarat di ponselku. Aku benci tatapan teduhmu. Aku benci menjadi bola bekel yang terus-menerus kau mainkan.

Advertisement

Tapi aku lebih benci sikap pasrahmu.

Kamu selalu mengatakan bahwa kamu tidak bisa menjanjikan apa-apa, segalanya Tuhanlah yang menentukan. Seakan kau dan aku memang tak punya hak untuk memutuskan. Tapi sayang, bagaimana bisa aku sepenuhnya menyerahkan takdir pada alam, jika Tuhan saja memberikan aku pilihan?

Jika semua nasib sudah digariskan, jika semua takdir sudah dipatenkan, kenapa harus ada surga dan neraka yang bagiku itu adalah mutlak pilihan?

Sepertinya kita memang tidak sepaham dalam memaknai konsep takdir, sayang. Bagiku segala yang terjadi saat ini adalah hasil akumulasi dari keputusan-keputusan masa lalu.

Memang ada beberapa hal yang itu mutlak kuasa Tuhan, tapi tidakkah kamu mau berusaha berjuang sampai titik akhir, hingga tidak ada lagi bentuk pengandaian di masa depan yang memicu rasa sesal? Dan kalaupun pada akhirnya nanti takdir berkata lain, setidaknya kau sudah berusaha keras. Biarlah Tuhan menjadi juri sekaligus penilai segala usaha dan doa. Itulah konsep takdir menurutku.

Tapi, sayang, jika memang bagimu jalan yang sudah kita lewati teramat melelahkan, mari kita sudahi jerat samar ini. Kamu dan aku memang harus bergerak. Harus! Silahkan memilih perempuan mana saja selain aku. Kamu berhak bahagia, aku pun juga sama.

Kuatkan tali sepatumu. Berjalanlah yang jauh. Berlarilah jika perlu.

Aku tidak akan menahanmu walau hanya dengan sebait doa dalam diam. Jangan pedulikan perasaanku. Jangan khawatir, aku akan berusaha mencairkan segalanya yang sudah terlanjur beku. Aku percaya, esok lusa pasti akan kudapati sepasang mata laki-laki lain yang bisa jadi tatapannya lebih teduh dari tatapanmu.

Akan aku usahakan, demi aku, demi kebahagiaanku.