Cinta. Tidak ada deskripsi jelas tentang susunan huruf itu. Yang pasti, aku punya definisi sendiri. Cinta adalah aku, kamu dan mereka. Mungkin banyak orang bertanya, mengapa ‘mereka’? Aku sengaja memasukkan ‘mereka’ dalam interpretasi cinta yang kupunya, karena melihat lingkungan juga bisa memengaruhi cinta tersebut, terutama mereka, yang bisa sebagai tokoh protagonis maupun antagonis. Maksudnya, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka ada yang mendukung cinta itu atau justru merusak cinta dengan berbagai macam alasan. Lalu, seberapa mampu kita mengekang mereka?

Seperti salah satu kalimat dalam paragraf di atas, “…mereka ada yang…merusak cinta dengan berbagai macam alasan”. Mengenai alasan tersebut, perlu digarisbawahi, kisah ini lebih menceritakan tentang seseorang yang tiba-tiba datang dengan alasan ‘tidak tahu’ dan menciptakan kecemburuan.

Hari itu, aku membiarkan kamu menyibukkan diri dengan kesibukan yang kamu miliki. Aku tidak memaksa kamu membalas pesan yang kuketik sepenuh hati. Aku hanya bisa menunggu waktu datang memberikan kita cengkerama lagi. Penantian yang berbuah manis, kamu akhirnya membalas pesanku kembali. Tetapi ketika itu juga, seseorang dari masa lalu tanpa sengaja hadir melalui panggilan ponselku. Aku baru tahu, bahwa yang menelepon adalah dia saat kudengar suaranya, karena aku sama sekali tak mengenali nomornya, sungguh.

Dalam telepon itu, kami bercakap-cakap seadanya. Atau sepertinya aku yang sedikit ogah menanggapi perbincangan yang ia buat. Aku tidak enak hati untuk mematikan panggilan tersebut, sebab aku berpikir tak apa masa lalu hadir, asal aku masih yakin dan dapat mengendalikan diri agar masa depan yang sedang kutempuh tidak dihalangi masa lampau. Lagipula, bukankah agama melarang memutus tali silaturahmi?

Benar kata orang, otak manusia diciptakan berbeda, pemikiran orang berlainan, tidak ada yang sama persis. Bahkan sedarah pun pasti berbeda. Pun, kamu, orang yang kucintai. Kamu cemburu buta meski penjelasan dan bukti telah kuberikan tanpa dibuat-buat. Kamu masih tidak percaya, namun memang, aku mengaku salah, aku tidak mengerti perasaanmu yang juga mencintaiku. Akibatnya sakit hati. Ah, masa lalu terlalu berbahaya.

Advertisement

Maaf sebagai pengakuan diri bahwa semua bisa diperbaiki. Cinta tetaplah cinta. Telah kucoba beberapa cara untuk menyembuhkan luka. Tapi, bagaimana bisa terobati jika salah satu pihak malah lari, pergi… seolah mengabaikan dan membiarkan luka itu semakin menganga? “Butuh ruang sendiri,” katamu.

Aku butuh tahu seberapa kubutuh kamu

Percayalah rindu itu baik untuk kita

Tulus (Ruang Sendiri)

Kemudian aku mengerti, keikhlasan akan membawamu pada keyakinan bahwa semuanya baik-baik saja. Iya, aku ikhlas membiarkan kamu sendiri dulu, meski rindu. Itu baik untuk kita. Aku tetap percaya cinta masih ada dalam kita.

Tanpa kabar kamu menyiksaku secara semu. Obrolan yang biasanya kita lakukan seakan lenyap. Aku berusaha menunggu, menunggu untuk mengukur seberapa kuat aku bertahan dan setia. Tampaknya nestapa hati terlalu menggebu, kucoba menanyakan keadaanmu. Berkali-kali kuupayakan untuk menghubungimu. Sulit. Ujungnya, hanya sebatang kara kata mampu memecah rindu menjadi tangis hingga berakhir ketenangan sementara, terlebih itu pada momen yang teramat spesial dalam hidupku.

Sebenarnya, air mata bukan menunjukkan kelemahan, namun mendamaikan suasana hati yang runyam. Komitmen. Yah, begitulah.

Mirip kataku tadi, ketenangan itu berlangsung sementara. Satu hari berlalu, kembali kucoba meminta keterangan. Masalahnya aku tidak tahan, bahkan sampai keringat alam kembali jatuh di bumi, empati pada hati yang merindukannya. Kau masih membalas dengan pesan yang sama, “Butuh ruang sendiri”.

Bila kita ingin tahu

Seberapa besar rasa yang kita punya

Kita butuh ruang

– Tulus (Ruang Sendiri)

Kadang aku harus berani, inilah risiko mencintai, karena permasalahan dalam hubungan itu pasti terjadi. Kemudian, bagaimana kita bisa melewatinya. Sekiranya begitu, 'kan?