17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, Soekarno resmi membacakan teks proklamasi yang menandakan kalau Indonesia telah merdeka dan terbebas dari ikatan negara-negara penjajah (ikatan cinta mungkin). Namun apakah sebenarnya kita sudah merdeka? Gue rasa sih "saat ini" kita kembali terjajah. Dengan siapa? Dengan yang jajah lah. Yah, gue rasa kita kembali "terjajah" dengan banyak hal. Mulai dari yang terkecil aja. Dimana anak – anak kecil sekarang kehidupanya jauh dari kehidupan gue ketika masih bocah. Anak jaman sekarang aja udah bisa ngerokok, udah bisa maih hp yang layarnya di geser-geser, bahkan lebih buruknya lagi anak SD udah ada yang bisa hamil. Ada apa dengan Indonesia ? Apakah makna kemerdekaan yang sudah didapat dari para pejuang kita tidak ada artinya ? Apakah Indonesia krisis moral? Bahkan itupun di perburuk dengan acara-acara TV yang banyak menayangkan sineteron yang kurang mendidik dimana anak sekolah bukannya belajar, tapi malah sibuk pacaran.

Franklin D Roosevelt pernah mnegatakan bahwa kita tidak selalu bisa membangun masa depan bagi generasi muda, tapi kita bisa membangun generasi muda untuk masa depan. Pernyataan tersebut lantas menimbulkan tanya lebih banyak lagi melihat pemuda Indonesia saat ini. Ada apa dengan Indonesia? Semakin nyata terlihat kalau yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.

Selain itu, kecendrungan hukum tumpul keatas, runcing kebawah. Yah, artinya hukum itu kebal bagi orang-orang yang berkuasa dan memiliki jabatan tinggi dan hukum sangat mudah mengikat orang-orang bawahan. Kenapa bisa begini? Itu yang masih jadi pertanyaan.

Selain Franklin D Roosevelt, Benjamin Frabklin juga mengatakan bahwa rasa kepuasan membuat orang miskin menjadi seorang yang kaya, sementara rasa ketidakpuasan membuat orang-orang kaya menjadi seorang yang miskin. Seharusnya Indonesia yang sudah berumur 71 tahun bisa menjadi negara yang adil dan mensejahterakan rakyatnya. Entah apa yang salah dengan Indonesiaku ini. Seakan-akan Indonesia ramah dengan negara asing tapi jahat dengan rakyatnya sendiri. Apakah semua bisa berubah? Tentu sangat bisa. Dimulai dari diri kita untuk lebih bisa mencintai Indonesia dan menghargai jasa para pahwalawan kita. Sejujurnya kita masih sangat beruntung dan harusnya bersyukur karena kita tidak merasakan apa yang dirasakan para pejuang kita dalam menggapai kemerdekaan ini.

Dalam pidatonya pada Hari Pahlawan 10 November 1961, I. Soekarno menekankan tentang arti penting pejuang bagi bangsa. Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Maka sudah sangat jelas bagaimana kita berkewajiban menghargai jasa-jasa para pejuang dengan mengisi kemerdekaan.

Advertisement

Selamat ulang tahun Indonesia ku. Dirgahayu Republik Indonesia ke – 71. Semoga diumur yang sudah tua ini, Indonesia menjadi negara yang bisa mensejahterakan rakyatnya dan menjadi negara adidaya (itu mau gue).

"Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tapi budak." (Bung Karno, Pidato HUT Proklamasi)