Beberapa tahun yang lalu, ada permintaan pertemanan di Facebook. Seperti biasa, aku menerimanya. Kamu yang pertama kali menemukan aku. Kamu pula yang mengajak aku berkenalan. Senang sekali, perkenalan kita berlanjut menjadi sebuah pertemanan yang berlangsung bertahun-tahun. Ingatkah kamu, betapa seringnya kamu mencoba mendapatkan perhatianku?

Ingatkah kamu, betapa seringnya kamu mencoba tuk membuatku tertawa? Mungkin saja kamu sudah melupakannya. Namun diriku di sini, masih mengingatnya.

Masih ingatkah kamu, betapa bahagianya kamu saat aku menerimamu sebagai kekasihku? Masih ingatkah kamu, saat kamu tak sabar ingin memberiku kabar sepulang sekolah? Masih ingatkah kamu, saat kamu berkata bahwa tak ada yang perlu aku cemburukan karena hanyalah aku yang kamu cintai?

Mungkin kamu sudah tak ingin melihat ke belakang tuk mengingat aku. Namun perlu kamu tahu, aku bahkan memang tidak menoleh ke belakang tuk mengingatmu, yang kulakukan adalah melihat ke depan namun aku masih melihat dirimu.

Tentu aku merasakan sakitmu saat kamu berkata, "Harus sampai nikah ya dengan yang ini!" Memang saat itu aku lebih memikirkan rasa sakitku dan dendam terhadap dirimu yang meninggalkan aku begitu saja. Hingga aku lebih memilih move on dengan cepat sekali. Aku memang sempat bersama dengan orang lain, tapi jujur saja rasanya tak senyaman seperti bersamamu.

Aku tahu keadaan sudah berbeda, kamu sudah pergi jauh ke Negeri Kanguru untuk mengejar impianmu. Bahkan aku tidak tahu apakah kamu akan kembali ke Tanah Air setelah pendidikanmu selesai di sana. Jujur saja, saat bersamamu aku percaya bahwa kau akan menjaga komitmen dan kesetiaan itu padaku. Namun apa daya diri ini yang hanya bisa melepaskanmu ketika kamu meminta tuk mengakhiri hubungan itu?

Advertisement

Masih bisa aku ingat, betapa senangnya diriku saat kau mengajakku bertemu karena mendapatkan libur tahun baru. Aku mencoba untuk tidak berharap pada cinta yang lama itu tuk bersemi lagi. Namun apa dayaku yang masih saja selalu terpesona melihat matamu yang berbinar dan senyumanmu yang khas itu? Apa dayaku ketika kamu masih saja membukakan pintu untukku dan mempersilahkan aku tuk lewat lebih dahulu?

Aku selalu ingat ketika aku iseng menanyakan orang yang mengisi hatimu saat itu, dan kamu menjawab dengan senyumanmu lalu berkata, "Tidak ada."

Masih ingatkah kamu, ketika kamu mengantarku pulang, kamu sempat mengganti lagu yang sedang diputar dengan Ed Sheeran – Tenerife Sea lalu Thinking Out Loud? Ingatkah kamu dengan suasana canggung saat ada sebuah angkot bertuliskan "MANTAN" amat besar yang lama berada di depan mobil kita?

Perlu kamu tahu, aku masih bisa mengingat sedetail itu tentang kita…

Jangan katakan bahwa aku masih menantikan dirimu. Katakan saja bahwa aku sedang menanti seseorang yang aku lihat di depanku. Seseorang yang mungkin saja tidak tahu bahwa aku selalu menunggu kabarnya setiap hari. Seseorang yang selalu aku cari di tengah keramaian di kota ini, kalau saja kamu pulang ke Tanah Air tanpa bilang-bilang padaku. Mungkin jarak telah memisahkan kita, namun percayalah, aku sedang menantimu untuk pulang…..