Halo sayang. Apa kau masih meradang setelah kalimat yang kuucap semalam?

Kemarin pengumuman seleksi ujian salah satu PTN ternama di jogja. Sore itu sebangun dari tidur siang, ku langsung raih telepon genggamku dan kulayangkan sebaris tanya padamu.

"Sayang, gimana hasil ujiannya?"

"Belum rezeki"

Aku tau itu bukan jawaban yang membahagiakan. Kulanjut dengan tanya bagaimana rencana kedepan.

"Nunggu PTN yang satunya. Kalo engga lolos ya kerja."

Advertisement

Kerja? Pikiranku langsung melayang jauh. Terbersit bagaimana jika nanti aku yang lulus duluan. Mungkin memang tak mengapa. Tapi sudah banyak rencana yang kusiapkan bersamamu. Meski tahun ini baru lulus putih abu, bayangan tuk habiskan sisa hidup denganmu sudah sering terlintas dibenakku. Apa aku terlalu cepat memikirkan hal itu. Kurasa tidak.

Setelah sekian banyak lelaki yang hanya datang dan pergi memainkan hati, kesederhanaan dan pribadimu yang hangat membuat aku ingin kau yang nantinya disampingku sampai ku mati. Ditambah dengan latar belakang keluarga yang sama-sama sudah tak lagi sempurna, aku yakin nantinya kau dan aku kan saling menguatkan dan menangguh bersama. Cukup kita saja yang tau perihnya broken home, anak kita kelak tidak.

Lalu kau tanya lagi,

"lah kamu maunya gimana sayang"

"Ya semoga lolos deh, biar bangga kalo cowo ku anak pertambangan"

"Kalo ga lolos ya cari cowo impianmu aja hehe"

Niat hati ingin menyemangati, tapi nyatanya kau jawab dengan sebaris kalimat yang mematahkan hati.