Hai teman lama yang entah masih bisa kusebut teman atau tidak. Ini aku, orang yang duduk tepat di depan bangkumu.

Ingat dulu kita pernah tertawa bersama? Mungkin kau sudah lupa.

Pertama-tama aku ingin tanyakan bagaimana perasaanmu sekarang? Berbahagiakah engkau disana?

Aku datang bukan untuk mengambil apapun atau merusak apapun milikmu. Aku datang hanya ingin mengundangmu bicara disaat kau ada waktu luang ditengah kesibukanmu yang luar biasa. Jikapun kau benar-benar tak ada waktu, akan kutuliskan maksudku disini. Mungkin ini sedikit menjengkelkan untukmu karena banyak hal tak penting yang sudah lama berlalu, namun untukku, aku perlu penjelasan.

Ingat dulu kita pernah chatting dan berbalas komentar di facebook? Aku menanyaimu tentang kabar juga hubunganmu dengan wanita yang aku tau pacarmu. Dengan tegas dan seolah tak mau membahasnya kau bilang sudah putus dan sudah tak ada hubungan lagi. Entah bagaimana terjadi, aku lalu dekat dengan wanita itu. Sangat dekat.

Advertisement

Dia mencurahkan semua perasaannya padaku. Menceritakan bagaimana sakit yang ia alami padaku. Kami sering ribut di sosial media, sampai orang-orang sekitar mengira kami sudah ada hubungan lebih dari teman. Dan ketika itu juga kamu memblok akun facebookku tanpa sebab yang jelas. Saat aku konfirmasi, jawabanmu simple tapi tak masuk akal, "salah pencet". Aku yang waktu itu malas memperpanjangnya membiarkan semua berlalu dengan jawaban hambarmu.

Bulan-bulan berlalu, aku dan wanita yang kau tegaskan sudah tak ada hubungan denganmu dan sudah tak kau pedulikan itu semakin dekat. Kami bahkan sudah menjalin hubungan kekasih waktu itu, dan kau mulai menunjukkan semua kegalauanmu, menunjukkan padanya seolah kau ingin dia kembali, ingin agar dia bersamamu lagi.

Semakin hari semakin sering kau menarik perhatiannya lewat jejaring sosialmu. Sampai suatu hari kau benar-benar mengiriminya pesan singkat. Dia merajuk padaku, dia benar-benar hilang kendali dan akhirnya aku melepasnya untukmu. Berbulan-bulan setelah saat itu aku menahan sakit. Kau sama sekali tak berkata apapun padaku seolah aku benar-benar tak ada.

Setelah sekian lama aku bisa kembali menjalani hariku seperti biasa lagi, tanpa bayangannya juga rasa marahku padamu. Lalu pada suatu pagi, dia kembali menelponku pagi-pagi buta dengan tangisnya. Aku berusaha mengabaikan tapi aku tak bisa.

Dia menceritakan lagi sakitnya, menceritakan bagaimana kau menelantarkannya lagi. Itu awal rasa sakitku kini. Setelah itu, kami kembali dekat, sangat dekat lebih dari sebelumnya. Memang hubungan kami tak jelas, tak ada ikatan seperti dulu, namun aku disini memperjuangkannya.

Kembali, saat aku benar-benar berharap tinggi untuk bersamanya, disaat kami sangat dekat, kau mulai berkicau lagi dengan semua kegalauanmu, dengan akun-akun barumu yang menyusup masuk mengintai. 24 Agustus, aku ingat benar, kau begitu memaksa untuk bisa menemuinya. Ya, aku terlambat untuk semuanya, kau berhasil mendapatkan semuanya lagi.

Aku bertanya-tanya, "Apa maksud semua yang kau lakukan?" Membuangnya, saat aku mengambilnya kau seolah seperti tak terima dan mengambilnya lalu membuangnya lagi. Kini juga setelah sekian lama aku menemaninya menghadapi sakit yang kau torehkan kau kembali datang mengambilnya seolah aku ini tak ada. Aku bertanya-tanya apa maksudmu?

Apa kau mau bersaing denganku? Kalau iya, aku menyerah, aku sudah pasti kalah karena dia pasti memilihmu dan aku juga tak akan menjadikan wanita sebagai bagian dari taruhan. Apa kau kini serius dengannya atau akan kau buang lagi nanti? Lalu Radha Khrisna yang tak jelas, apa kau bagian dari itu? Aku menjadi orang yang dituduh saat itu.

Jika kau serius, lanjutkanlah, tapi jika kau hanya bermain-main, ingatlah, banyak orang yang menyayanginya dan ingin melihatnya bahagia, terutama orang tuanya yang selalu mengharap kebahagiannya. Aku tak munafik, aku belum iklas, aku masih menginginkan dia unttukku,tapi aku berusaha melepas dan menghargai keputusannya.

Jika kau membaca ini, masih tetap terdiam dan menghindariku seperti yang selama ini kau lakukan, tak mengapa. Biarlah tulisan ini hanya sekedar tulisan yang hanya dibaca tanpa dipedulikan.