Kali ini masih tentang rasa sepihak. Kamu tetap menjadi topik utama yang kuceritakan ke teman-temanku, baik itu yang kenal baik denganmu, yang hanya tau namamu, bahkan ke orang-orang yang sama sekali tidak pernah bertemu kamu. Iya, aku memang begitu. Suka menceritakan orang yang aku suka kepada teman-temanku.

Maafkan kelancanganku karena sering menyebut namamu dalam setiap cerita yang aku ceritakan. Maafkan teman-temanku yang terkadang suka berteriak-teriak memanggil namamu dan mengatakan kalau aku suka padamu. Maafkan juga teman-temanku yang sengaja meninggalkan kita berdua, iya hanya kamu dan aku agar menjadi lebih dekat.

Sungguh aku senang ketika mereka mengerti keinginanku untuk menjadi lebih dekat denganmu. Tapi kurasa kamu tidak begitu.

Masih ku ingat dengan jelas ketika hanya ada aku dan kamu di depan rumah sakit selepas kamu menemaniku mencari mesin ATM. Iya, ini terjadi karena paksaan keadaan. Kau bergumam seolah kamu tidak suka dengan keadaan itu. Kamu hanya perlu tau bahwa saat itu, aku juga merasa sangat tidak nyaman, karena keadaan tercanggung itu adalah ketika hanya ada aku dan kamu.

Aku tidak suka ketika semuanya menjadi canggung dan dingin. Mungkin kamu ingin mencoba mencairkan suasana dengan mengajakku makan jajanan di pinggir jalan. Iya,aku tau itu hanya basa-basi (busuk). Tidak sepatah katapun keluar dari bibirmu. Kamu tidak mengajakku bicara tapi aku tetap sekali-kali bertanya tentang hal yang tidak penting.

Advertisement

Siapa yang bisa aku salahkan ketika hatiku tetap menyimpan perasaan padamu bahkan ketika kamu sudah terang-terangan menunjukkan bahwa kamu tidak suka dengan aku. Aku yang mencintaimu.

Aku tetap terluka bahkan setelah bertahun-tahun. Bukan karena kamu tidak punya perasaan yang sama denganku. Aku terluka karena sikapmu. Sikap yang sengaja kau tunjukkan untuk membuatku menghilangkan perasaanku, untuk membuatku melupakan segalanya tentangmu.

Kamu dengan sengaja melewatiku ketika kita berpapasan di depan kelas. Kamu sengaja mengabaikanku ketika kita sedang mengerjakan tugas kuliah bersama teman-teman yang lain. Kamu sengaja tidak mengajakku bicara. Kamu sengaja mendiamkanku. Kamu bersikap jauh lebih manis pada teman-temanku ketika kita bersama. Kamu bahkan tidak tersenyum lagi ketika mata kita bertemu. Kamu menjauhiku.

Terima kasih karena sudah menunjukkan bahwa kamu berjuang. Berjuang mematikan perasaanku. Kamu harus tau bahwa semenjak kejadian itu kualami berulang-ulang, aku sudah mulai belajar menerima. Menerima bahwa memang ada beberapa hal yang tidak akan kau dapatkan walaupun kau sangat menginginkannya.

Tentang perasaanku tak perlu kau risaukan lagi, biarkan itu jadi urusanku. Toh selama ini aku juga tidak pernah memintamu menerima perasaanku. Memang keinginanku terlihat sedikit aneh. Karena terkadang aku berkata aku tidak pernah memintamu menerima perasaanku, tapi sebenarnya hatiku menginginkan hal yang bertolak belakang dengan perkataanku. Iya, aku memang ingin kamu menerimaku.

Namun, perlahan aku akan mencoba menghilangkanmu dari hatiku. Mungkin bukan sekarang. Bagaimana bisa aku melupakanmu ketika setiap hari kita masih bertemu di kelas yang sama? Bagaimana bisa aku membunuh setiap kebahagiaan yang kualami karenamu.

Kamu tau terkadang kamu masih menjadi alasan dibalik senyumku. Sikapmu yang mendadak hangat padaku adalah batu terbesar yang menghalangiku untuk melupakanmu.

Bolehkah aku meminta satu permintaan? Pertegas saja sikapmu. Jika ingin menjauh, menjauhlah. Aku tak apa. Hatiku akan baik-baik saja ketika aku sudah mulai mengikhlaskanmu.

Jangan kembali dan jangan menjadi hangat lagi ketika menjauh adalah jalan yang benar-benar kau pilih untuk membuat perasaanku mati, padamu.