"Mbah, kok tangannya jendol-jendol?", dengan polosnya adikku yang baru berumur 6 tahun bertanya kepada Mbah Putri mengapa tangannya dipenuhi keriput hingga pembuluh darahnya menyembul keluar.

"Kan mbah udah tua.", jawab Mbah Putri dengan suaranya yang khas, tak lupa tertawa kecil dan menunjukkan giginya yang ompong sambil mengelus-elus adikku.

Semenjak Mbah Kakung mangkat, aku tak tahu bagaimana sepinya hati seorang istri yang sudah terlalu lama ditinggal pergi. Mbah Putri kini tinggal sendiri, meski rumahnya bersebelahan dengan Pakde, beliau masih bisa berdiri di atas kakinya sendiri, jarang meminta bantuan bila tidak terpaksa diperlukan.

Mamake, begitulah beliau dipanggil. Saat belum renta, beliau membuka warung kelontong di pinggir jalan bersama Mbah Kakung. Menjual kebutuhan pokok dan mainan bocah kampung di dalam sebuah petak yang sempit di pinggir jalan. Sampai sekarang, aku masih ingat bagaimana bau khas dari berbagai barang yang dijual di sana. Belum lepas dari benak tentang memori bermain di timbangan beras dan tidur siang dengan beralas karung bekas. Barangkali banyak yang mengira bahwa beliau jauh dari kurangnya materi duniawi, tapi aku belajar banyak tentang penerimaan dan kekayaan hati.

Mbah Putri pernah bercerita tentang masa kecilnya sebagai anak tiri. Mungkin kamu juga pernah mendengar hal serupa karena zaman dulu, berpoligami bukanlah sesuatu yang luar biasa dan terlihat tabu bagi masyarakat. Memiliki ibu lebih dari satu adalah hal yang wajar. Tak heran pula bila saudaranya menjamur di mana-mana.

Cerita Mbah Putri mengingatkanku tentang Cinderella, yang hidup bersama namun mendapat perlakuan kurang baik dari penghuni rumahnya. Tapi siapalah ia kala itu, hanya anak kecil yang tak bisa membela dirinya sendiri. Maka satu-satunya perlawanan bertransformasi menjadi doa –berharap semoga kasih sayang Tuhan tak pernah lepas darinya, semoga kebaikan mampu meluluhkan kerasnya perangai orang-orang di sekitarnya.

Advertisement

Beliau mengajarkan sesuatu yang bagiku terlalu mahal harganya. Beliau berkata, bahwa sabar dan syukur adalah dua perkara yang sulit dikerjakan hati, namun akan menjadi kekuatan yang tak terkalahkan karena semuanya bersumber dari Ilahi. Menangislah bila perlu, karena manusia diciptakan lemah. Tapi jangan jadikan buruknya sikap orang lain terhadap kita sebagai alasan untuk membenci. Maafkan, karena hati membutuhkan kedamaian.

Seperti penduduk desa pada umumnya, mbah adalah potret pekerja keras. Hidupnya tak lebih dari sekedar sawah-warung-kampung. Tentu dulu pendidikan bukan prioritas utama, karena bisa bekerja dan makan cukup sudah termasuk anugerah luar biasa. Pengetahuannya terbatas dan kepolosannya selalu membuatku tertawa. Gadget berlayar sentuh dan jam sekolah kami yang kadang terlalu menghabiskan banyak peluh membuat gurat wajah beliau heran bukan kepalang. Penyebutan cokelat menjadi 'sokat' atau satpam menjadi 'satam' –hanyalah beberapa contoh kata yang membuatku bingung lalu terpingkal-pingkal dibuatnya.

Karena terbiasa melakukan banyak hal dalam satu hari, pernah suatu ketika menginap di rumah, mbah bolak-balik membereskan apa saja yang ada di hadapannya. Baru pernah aku melihat rumah serapi itu. Biasanya mainan adikku berserakan di mana-mana, karena mama akan membereskannya menjelang malam. Cucian piring tak pernah menumpuk. Bahkan suatu siang, mbah mencuci keset (lap kaki) dan menjemurnya di pagar depan rumah lalu menunggu di teras hingga lap itu kering –karena habisnya pekerjaan beres-beres di rumah.

Sampai sekarang, aku belum berani membayangkan bagaimana perasaanku bila nanti harus mendengar kabar beliau kembali ke pangkua-nNya. Beliau entah berapa kali berkata bahwa beliau sudah tua, tak banyak lagi yang bisa diperbuat kecuali mendekat pada-Nya dan tinggal menunggu malaikat untuk menjemput ruhnya dari dunia.

Bila aku harus menjawab pertanyaan tentang siapa yang tak bisa aku lupakan, pastilah mbah ada di peringkat atas jajaran orang tersayang. Bukan hanya karena uangnya yang diberikan padaku padahal beliau lebih membutuhkan atau kain batik sebagai tanda kenangan untuk mengingatnya saat aku terlampau jauh untuk disentuh. Semua karena cintanya yang tak bisa diungkapkan, cintanya pada semua anggota keluarga tanpa membedakan –yang selalu membuat kami merasa jadi yang terspesial, merasa kami yang paling disayang, merasa kami adalah jagoan.

Mbah Putri adalah ibu yang sangat baik bagi anak-anaknya, cucu-cucunya, dan cicit-cicitnya. Aku dan semua sepupuku sepakat, bahwa kasih sayang beliau dapat dirasakan walau kami sangat jarang berada dalam jarak yang dekat. Kami sering lupa menyebutnya dalam doa, padahal tiap kami berjumpa via suara, beliau tak luput berkata, "mbah selalu berdoa semoga semua cucu mbah jadi orang yang berguna.", diiringi dengan suara isak lirih nun jauh di sana.

Dari beliau aku mengerti, bahwa hidup di dunia bukan hanya tentang memenuhi ambisi. Berbagi adalah salah satu cara termudah untuk mendapat kebahagiaan yang abadi. Membantu sesama adalah kewajiban karena tiap orang memiliki kelebihan. Harta bukan tujuan utama, karena semua akan ditinggalkan.

Mbah Putri, terima kasih telah menjadi pahlawan dalam hidupku. Melahirkan Mama yang menjadi perantaraku ada di dunia. Semoga engkau selalu bahagia, walaupun dunia terkadang kejam bagi yang baik hatinya.