Deru ombak dan desiran angin mampu membawaku kembali ke memori kala itu. Jejak langkah kaki yang tertinggal di atas pasir, semakin lama, semakin menghilang. Jejak itu pun tak bisa aku tahan agar tidak meninggalkan. Aku berhenti dan melihat ke belakang, kuperhatikan dengan saksama tiap nada kehilangan.

Sang surya kini juga semakin meredup, ia meninggalkan aku yang masih mematung. Terbenam juga ia di ufuk barat, tega sekali. Seketika langit berubah menjadi gelap, angin berhembus semakin dingin dan aku masih tetap berdiam di sana menyaksikan jejak-jejakku yang semakin menghilang. Ini memilukan tubuhku sudah menggigil, tangisku telah membeku. Tetapi, kenapa aku masih tak mau beranjak dari sana? Aku tahu ini sangat menyakitkan.

"Kenapa?! Kenapa semuanya meninggalkan?! Kenapa hanya aku yang merasakan ini semua?! Apa kalian tak punya hati ?!" Teriakku di sunyinya malam. Kini aku berlutut menghadap jejak itu, berharap memori di kepalaku tentang hal-hal kelam mampu tergerus oleh tangis. Tak lama kemudian ada tangan yang merangkulku.

"Sudah yuk pulang, biarkan saja, jejakmu telah bahagia bersama arus laut yang membawanya". Kata perempuan cantik berkacamata.

"Tak usah kau hibur aku kau juga akan meninggalkan aku ! Pergilah jika kau mau !" tak sadar aku mengeluarkan kalimat itu.

Advertisement

"Ra, aku sahabatmu, aku gak tega lihat kamu terus-terusan seperti ini. Ayok !" dengan kerasnya dia menarik tanganku dan memaksaku beranjak dari tempat itu.

Kini aku menyeka tangis dan berjalan meninggalkan jejak itu, kemudian aku dan Wati membuat beberapa jejak baru ke depan. "Semoga sang waktu tidak memaksaku lagi untuk meninggalkan indahnya persahabatan". Harap kami berdua malam itu.

Sekarang aku sudah mampu berdiri jauh membelakangi jejak-jejak langkah kaki itu karena bantuan topangan tangan yang kuat dari seorang sahabat, harapku semoga aku bahagia sekarang.

Sakit rasanya ditinggalkan, tetapi lebih sakit jika terus bertahan dalam ruang dan waktu yang memuakkan.

Mari melangkah maju membuat jejak baru, jejak yang lebih indah dan lebih berwarna agar jika suatu saat teringat. Kamu akan tersenyum dan tertawa karena jejak mu sendiri.

Salam, Senja.