Untukmu yang telah menghempaskanku, terima kasih atas buah tangan yang kau berikan selepas kepergianmu. Ia adalah kenangan juga luka yang terus menggerus pikiranku, terlebih hatiku. Memang benar, hanya aku yang merasakan luka ini, sedang dirimu baik-baik saja. Entah kau tak sadar atau enggan menyadari perihal luka yang aku derita. Begitulah nasib si penyandang luka, merasakan sakit yang teramat sakit, sementara si pemberi luka tak merasakan luka yang diderita oleh si penyandang luka. Andai engkau sedikit berbaik hati, terlebih memakai hati, untuk berandai-andai jika engkau berada di posisiku, lebih peka akan luka yang aku derita hasil buah tangan dari cerita yang kau sudahi, sepihak.

Sungguh, ini sakit.

Caramu menghempaskanku tak pernah aku kira dari awal kita saling menemukan. Engkau menghempaskanku jauh dari ingatanmu tanpa sedikitpun mengerti akan perasaanku. Engkau berlenggang bebas meninggalkanku yang tengah terjatuh membuatku semakin rapuh. Bukankah seharusnya kau menggenggam tanganku saat itu, membantuku untuk bangkit, kan? Bukannya melepaskan genggamanmu dan meninggalkanku runtuh, rapuh. Memang benar, kita tidak bisa memaksa seseorang untuk berbuat sesuai kehendak hati kita. Tapi, kemanakah hati yang kau punya? Bukan, bukan ingin kau kasihani, hanya ingin sedikit dimengerti, seperti diriku yang selalu mengerti akan dirimu.

Dalam isak tangisku aku tersadar, saat itu kau tak memakai hati atau memberi hati, kau beri aku belati. Dan aku mati suri. Oleh sebab belati si pengganti hati, juga duri bunga mawar merah muda yang sempat kau beri di hari pertama kita saling menemukan. Dalam mati suriku, aku berusaha melawan setiap kenangan-kenangan yang serupa hantu di sudut pikirku. Aku melawan segala hal tentang dirimu, juga luka yang terus-menerus menjajah hatiku. Aku melawan untuk berusaha bangkit agar aku tak benar-benar mati. Ini perihal yang sulit untukku, tapi mudah untukmu. Sangat mudah untukmu, menghempaskanku dari ingatanmu.

Hingga sampai hati kau berikan cuka diatas lukaku. Perih. Kau hempaskan diriku, dan kau berlenggang bebas tanpa sedikit mengerti keadaanku, terlebih perasaanku, lantas kau gandeng dia yang baru. Percayalah, ini sakit. Sangat sakit. Tapi kau tak mengerti perihal luka ini. Terlebih kau tak ingin mengerti. Andai kita bisa bertukar posisi, kau menjadi diriku, agar kau mengerti perihal luka yang aku derita.

Advertisement

Saat itu aku tengah berusaha bangkit dari mati suriku oleh sebab belati dan duri yang kau beri, tapi kau tikam aku berkali-kali. Oh hatiku ekor cicak. Kau putuskan berkali-kali dan aku tak mengapa. Saat itu juga aku tertawa dalam isak tangisku. Boleh ku ulang sepenggal kalimat yang sempat diucapkan Cinta kepada Rangga dalam salah satu adegan film AADC 2 ? Iya, yang kamu lakukan ke saya itu JAHAT!

Memang jahat, engkau disana sedang dimabuk kasmaran, sementara aku sedang dicambuk kenangan. Segala kenangan-kenangan yang pernah kita ukir masih tinggal dalam sudut pikirku, sulit hilang dari langit-langit kamarku. Jujur, perasaan itu masih ada dalam hatiku, meski engkau telah menghempaskan segala perasaan dan kenangan itu. Tapi luka kian lama semakin menjajah benteng hatiku. Sungguh ini menyiksa. Terserah kau mau bilang ini berlebihan, memang ini perasaan yang berlebihan padamu yang keterlaluan.

Segala kenangan dan perasaan yang menggenang itu, yang menyesakkan dada, yang membuatku harus bersembunyi dibalik bantal di malam yang sunyi, yang mengalirkan bah dari ujung mataku, yang membuat benteng kekuatanku runtuh, harus ku lepaskan. Aku tak ingin lebih lama ditawan masa lalu. Aku tak ingin lebih lama dijajah masa lalu. Aku ingin hidup kembali. Aku ingin bebas. Maka ku peluk erat-erat segala hal yang menyesakkan dada itu. Ku peluk erat-erat segala luka yang berliku itu. Lalu kulepaskan dengan ikhlas engkau yang telah menghempaskan. Dan ku hembuskan segala hal yang ku rasa berat ini. Hanya dengan memeluk segala hal yang menyesakkan dada ini, dan ikhlas dengan ini semua, meskipun berat tapi harus ku relakan. Ikhlas adalah kunci untuk melepaskan segala hal yang menyesakkan. Hanya satu keyakinan, Allah akan gantikan segala hal yang meyesakkan ini dengan kebahagiaan yang melegakan. Allah knows and Allah is fair.

Terima kasih untukmu yang sempat menawarkan kebahagiaan lantas menyerah karena keadaan. Terima kasih telah sempat datang dan meninggalkan buah tangan, lantas pergi tanpa ampunan. Aku harus mengerti, mungkin saat ini kau takkan mengerti perihal luka yang aku derita. Tak apa, akan ku coba ikhlas. Semoga waktu mendatang, saat engkau menyadarinya, kau bisa mengerti ini semua. Terima kasih untuk akhir cerita yang kau tuliskan pada salah satu chapter kehidupanku. Aku akan kembali menulis.

From your little sweety pie.