Hei, apa kabarmu hari ini? Aku harap jawabannya baik-baik saja. Karena kini aku tak dapat menanyakan kabarmu seperti dulu.

Tahukah kamu bahwa semua yang telah kau katakan, semua yang kau lakukan masih ku ingat dengan jelas. Namamu masih tersimpan dihatiku juga semua foto-fotomu masih tersimpan rapi dihandphoneku.

Aku berharap kau akan menjadi yang terakhir untukku. Menjadi imam yang akan menjadikanku istri solehah. Aku memimpikan satu atap denganmu dan akan menjadikannya surga dunia bagi kita. Tapi pada kenyataannya saat ini kita telah jauh. Kau menjadi dingin kepadaku. Kau menjelma menjadi sosok orang asing. Aku tak tahu apa penyebabnya. Setiap kali aku bertanya kau tak pernah menjawabnya. Puluhan telepon, sms dan chat selalu aku kirimkan setiap harinya tapi tak pernah kau respon. Seringkali kau me-reject telpon dan hanya membaca semua pesan dan chatku.

Aku kecewa, aku ingin pergi tapi hati memaksaku kembali. Aku marah tiap kali mengingat kenapa harus jatuh cinta padamu. Sebagian orang yang tau kisah ini mengatakan bahwa aku gila, kenapa harus jatuh cinta padamu. Aku terus berfikir apa salahku kepadamu. Kau pernah mengatakan bahwa aku kekanak-kanakan. Ah mungkin itu penyebabnya.

Tapi ternyata Allah mendengar kegelisahanku selama ini. Apa penyebab mengapa kau berubah, penyebab mengapa kau yang dulunya hangat kini menjadi sedingin es dan penyebabnya adalah karena kau akan menikah dalam waktu dekat. Hatiku sakit dan tanpa terasa aku menangis. Aku ingat bahwa aku pernah memintamu untuk datang kerumah dan menemui orang tuaku untuk melamar, kau bilang kau belum bekerja. Dan saat ini aku tau bahwa itu hanya sebuah alasan.

Advertisement

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Melepaskanmu tak mampu aku lakukan. Tapi memaksamu untuk kembali juga itu tak pantas untuk dilakukan.