Dedaunan di luar terlihat menunduk lesu menyerah pada panasnya si raja siang, silau dan panasnya membuat aku dan suamiku enggan untuk ke luar rumah. Hari libur kami habiskan di rumah dengan santai sambil menonton TV. Pisang goreng dan kopi Capuccino menjadi teman kami bersantai sambil mengobrol.

Topik yang kami obrolkan bukanlah hal yang serius dan kadang kami akan sama-sama mengenang masa lalu. Untuk yang pertama kalinya aku merasa cerita tentang masa lalunya sama sekali tidak membuatku cemburu setelah sekian lama. Aku merasa suamiku telah berhasil selalu meyakinkanku, bahkan kami tertawa geli bersama-sama mengenang itu semua sebelum akhirnya dia menatapku serius. Canda tawa kami berubah menjadi ketegangan.

"Sejujurnya aku menyesal", ujar suamiku datar. Wajahnya memang terlihat menyembunyikan penyesalan yang mendalam.
Mataku yang cerah meredup seketika. Otakku mencoba mengingat adakah kesalahanku yang membuatnya mengatakan itu. Tapi aku tidak mampu mengingatnya. Otakku sudah kacau oleh perasaan sedihku. Aku tak menyangka pendamping hidupku mengatakan hal demikian setelah sejauh ini.

"Tapi, apakah yang membuatmu menyesal menikahiku?", tanyaku parau. Mataku berkilat tipis, wajah dan hidungku memerah, kristal bening siap terjun bebas membentuk anakan sungai kecil dipipiku.

"Karena…" dia menarik nafas dalam dan berat sebelum melanjutkan kalimatnya yang terpotong. Perasaanku semakin tidak karuan menunggu kalimat selanjutnya.

Advertisement

"Kalau saja waktu itu aku langsung bertemu kamu dan tidak usah membuat kesalahan seperti ini yang akhirnya hanya menjadi masa lalu. Aku akan menjadi laki-laki yang sangat beruntung bersanding denganmu, meski saat ini akupun telah menjadi laki-laki yang sangat beruntung telah memilikimu, tapi paling tidak kesalahan-kesalahan itu tidak perlu terjadi dan kau tidak perlu terusik oleh masa lalu suramku" ujarnya dengan nada yang berat. Matanya menatap lantai menyembunyikan wajahnya. Mungkin dia tidak ingin terlihat cengeng di depanku.

Dengan cepat aku memeluknya. "Sayang, masa lalu tidak bisa di-kalau-kan, tapi masa lalu bisa dimaafkan. Sekarang marilah kita hidup disaat ini, jangan lewatkan saat ini yang paling penting. Kita akan bahagia dengan memaafkan masa lalu dan tidak pula mengkhawatirkan masa depan. Bukankah masa lalu adalah jalan yang mempersatukan kita sekarang? Seharusnya aku berterimakasih kepada semua masa lalu yang pernah ada. Jadi untuk apa aku merasa terusik?" paparku panjang lebar. "Sesungguhnya memang aku merasa terusik, tapi aku akan tetap baik–baik saja selama kamu selalu membuatku percaya", gumamku dalam hati. Kembali terlintas tentang wanita itu dalam kepalaku.

"Kamu benar sayang" ujarnya lembut sambil menyeka sisa-sisa airmataku yang mulai mengering. Aku tersenyum.